
" Maafkan aku.... " bisik Fatan di telingaku.
Tak percaya, namun ini benaran terjadi. Fatan meminta maaf kepadaku. Walaupun aku tak tahu, dia minta maaf untuk apa, yang jelas hatiku yang semula dingin tiba-tiba saja menghangat kembali.
...----...
Suasana makan malam kali ini terasa sedikit hangat. Ada Fatan yang menemani aku di meja makan. Kami berdua makan malam bersama menikmati rawon daging buatan Bi Surti yang sangat enak. Bi Surti memang jagonya dalam masalah kuliner. Semua masakan bisa dia buat. Bukan hanya itu saja, rasa masakan Bi Surti juga sangat lezat. Makanya aku suka sekali makan masakan Bi Surti. Tak heran kalo Gadis sempat bilang jika tubuhku rada bulat. Selama kehamilan ini, berat badanku terus saja bertambah.
" Makannya pelan - pelan, Mit. Tenang saja, kamu bisa pesan lagi jika masih mau makan rawon buatan Bi Surti." kata Fatan saat melihat aku makan dengan sangat lahap seolah - olah takut kehabisan.
"Eh, iya. Maaf, kak. Habisnya aku suka sekali makan rawon buatan Bi Surti. Enak banget." jawabku sambil tersipu malu.
Fatan hanya mengangguk tak berkomentar lagi. Dia kembali melanjutkan menyantap makanannya. Cara dia makan berbanding terbalik dengan cara aku makan. Dia menyantap makanan dengan cara elegan, sedangkan aku makan seperti orang yang makan di warteg.
Astaga, aku malu sekali. Apa nanti yang ada dalam pikiran Fatan. Cewek kok, makannya banyak banget. Tapi aku juga tak kuasa menolak semua makanan ini. Terlebih lagi, aku memang sangat menyukai masakan kuliner berwarna hitam yang berbahan daging dan jeroan di campur toge ini.
Tapi gara-gara keseringan makan, berat aku nambah terus. Sekarang aja, beratku nambah lima kilogram.
Memikirkan itu, aku mendadak menghentikan suapanku.
Fatan yang melihat hal itu langsung menatapku heran. " Mengapa berhenti? Apa kamu sudah merasa kenyang? "
Aku menggelengkan kepala. " Tidak, aku hanya merasa tidak enak dan malu? " jawabku jujur.
" Tidak enak dan malu? Apa maksudmu...? tanya Fatan tak mengerti.
"Aku makannya banyak sekali, kak.. " jawabku sambil menunduk dengan wajah malu - malu, kucing...!
__ADS_1
Fatan tergelak melihat raut wajahku.
" Astaga, Mitha. Wanita yang sedang hamil itu wajar kalo makannya banyak dan juga berat badannya nambah. Kamu juga memang harus banyak - banyak makan agar bayi kita di dalam sana tumbuh sehat." ujarnya. Gayanya sudah seperti dokter yang sedang memberikan nasehat kepada pasiennya.
" Tapi, kata Gadis, tubuhku bulat, kak." keluhku entah disengaja atau tidak. Terlontar begitu saja dari mulutku.
" Tapi aku suka lihat tubuh kamu yang sekarang. Lebih berisi dan montok." ucap Fatan pelan tapi masih terdengar di telingaku. Aku tak tahu apa warna wajahku saat ini. Pipi, mungkin saja berwarna merah, mataku langsung berwarna kuning, atau bahkan jidatku berwarna biru atau ungu. Hahahaha, Fatan sudah membuat aku berwarna - warni hari ini.
Tiba-tiba, perutku kembali berulah. Rasa keram dan tegang kembali menyerang. Aku meringis sambil memegangi perutku.
Fatan mungkin melihat perubahan ekspresi wajahku. Dia kemudian bertanya seraya berdiri mendekatiku.
"Apa yang terjadi..? Wajah kamu seperti orang yang sedang kesakitan, gitu? "
" Aduh, kak....Perutku..! " aku menatap Fatan dengan air mata yang sudah mulai jatuh. Rasanya sakit sekali hingga aku langsung berdiri meski sambil terbungkuk - bungkuk dan memegangi perutku..
Seketika itu juga aku melihat Fatan berubah panik dan tanpa pikir panjang dia membopong tubuhku ala bridal style berjalan memasuki rumah.
Malu kalo sampai dilihat oleh Bi Surti atau Mang Diman. Soalnya baru kali ini aku digendong oleh seseorang. Ada rasa panas yang menjalari seluruh permukaan wajahku membuat aku jadi malu dan salah tingkah.
"Jika malu, sembunyikan saja wajahmu di dadaku.. " bisik Fatan pelan di telingaku.
Aku menuruti saran Fatan, ketika melihat Mang Diman dan Bi Surti yang menatap ke arah kami dengan senyuman penuh arti. Kutenggelamkan seluruh wajahku ke dada bidang Fatan yang kekar. Ada gelenyar aneh di dadaku ketika menghirup aroma parfum dari tubuh Fatan. Aneh sekali, biasanya aku alergi sekali saat mencium bau harum yang menyengat, seperti bau harum parfum Gadis. Tapi kali ini berbeda. Aku malah sangat menyukai aroma harum parfum dari tubuh Fatan, hingga tanpa sadar aku terus saja menempelkan wajahku ke dada Fatan hingga akhirnya kami berdua sampai di kamar.
Fatan merebahkan tubuhku di kasur dengan hati - hati. "Apa perutmu masih terasa sakit..?" tanya Fatan sambil meraba perutku yang kini mulai terlihat agak buncit.
Aku mengangguk lemah. "Iya, perut aku masih sakit. tapi sudah lumayan jauh berkurang. Rasa sakitnya tidak sesakit seperti tadi." jawabku dengan hati yang berdebar- debar dan muka yang memerah karena malu.
__ADS_1
" Apakah perlu ku hubungi dokter Indar?" tanyanya dengan ekspresi yang khawatir.
Aku kembali menggelengkan kepalaku. " Tidak usah, Kak..! aku mau istirahat saja.
" Tapi, Mitha....." ucapnya terhenti ketika melihat isyarat dariku melalui tangan. Aku memang sudah tak merasakan rasa kram dan tegang lagi di perutku. Hanya tinggal rasa sakit yang masih tersisa di sekitar perut dan pinggangku. Tapi mungkin saja rasa sakit itu akan sirna secara perlahan-lahan seiring dengan keadaanku yang semakin rileks. Jadi aku memutuskan untuk beristirahat saja.
"Oke, tapi nanti bila kembali terasa sakit, kamu ngomong aja langsung, ya..!" ujarnya kemudian.
Fatan kemudian hendak berlalu pergi setelah memasang selimut di tubuhku.
" Kak Fatan, mau kemana..? "aku langsung menarik sebelah tangan Fatan ketika dia ingin pergi.
" Aku tidak kemana-mana. Hanya mau berbaring di sofa itu saja." tunjuknya pada sofa yang biasa dia tiduri. "Aku mau istirahat sebentar. Capek, soalnya aku tadi habis mendampingi dokter Rendi melakukan operasi pencangkokan tulang." jelasnya.
" Boleh minta sesuatu, nggak..? " aku bertanya dengan ragu - ragu karena aku tidak yakin dia akan mau mengabulkannya.
Kening Fatan berkerut. " Kamu mau sesuatu...? "tanya Fatan kemudian.
Aku mengangguk cepat. " Iya, kak."
" Baiklah, apa yang kamu inginkan?" tanya Fatan lagi.
" Maukah kakak berbaring di sini dan memelukku. Aku ingin dipeluk sama kakak. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin dipeluk kakak. Mungkin barangkali semua ini adalah keinginan dari bayi ini, kak." ucapku.
Sejenak Fatan terlihat ragu. " Tapi, yakin kamu tak papa, jika aku memelukmu? " tanya Fatan saat berada di sisi tempat ranjang.
Aku kembali menggeleng. "Tidak, aku tidak apa - apa." jawabku.
__ADS_1
Fatan pun bergerak naik ke kasur dan berbaring di sebelahku. Tanpa malu - malu lagi aku menyusupkan kepalaku di dada Fatan. Aku menyesap setiap aroma yang keluar dari tubuh Fatan dengan perasaan bahagia. Sungguh, dalam hati aku sebenarnya malu. Tapi, apa boleh buat. Keinginan untuk merasakan dipeluk oleh Fatan begitu besar ku rasakan, hingga aku pada akhirnya mengesampingkan egoku demi keinginan sang bayi ( atau juga barangkali keinginanku, hehehehe).
...-----...