
POV Gadis..
Masa lalu Gadis
Hari itu seperti biasa Gadis menunggu Gara yang selalu menjemput cewek itu untuk pergi ke sekolah bersama - sama. Kisah cinta Gadis dan Gara terjalin baru kurang lebih tiga bulan.
Sungguh, itu adalah suatu perjumpaan yang tak direncanakan sebelumnya. Sore itu seperti biasa, Gadis mau latihan karate di sekolah. Dia dan beberapa orang temannya sudah janjian mau ketemu dan latihan bersama di sekolah pada jam 3 sore.. Memang waktu latihan sesuai jadwal adalah pukul Lima belas tau pukul tiga.
Namun ternyata, kakak pelatih mereka mengubah jadwal latihan menjadi pukul 4 sore tanpa Gadis tahu. Maklum, hapenya di charge. Sehingga Gadis tidaklah mengetahui bahwa latihan itu di undur satu jam. Akibatnya Gadis terpaksa menunggu seorang diri dengan perasaan dongkol.
" Kenapa pemberitahuannya telat, sih." kata Gadis kesal setelah salah seorang kakak pelatihnya yang datang ke tempat itu memberitahu dirinya bahwa jadwal latihan di undur satu jam kemudian.
"Entahlah, aku juga tak tahu. Aku kesini cuma mau mempersiapkan alat dan perlengkapan untuk latihan."
Kakak pelatihnya itu lantas pergi meninggalkan Gadis. Gadis dengan kesal menghentakkan kakinya ke tanah. lalu duduk di salah satu bangku taman.
Moodnya untuk latihan mendadak lenyap.
" Hai.... " sapa seseorang.
Gadis mendongak ke arah orang yang menyapa. Seorang cowok dengan postur tubuh tinggi dan atletis. Gadis menduga cowok itu pasti adalah anak basket. Karena menilik dari potongan tubuh dan baju seragam yang di pakai cowok itu. Lumayan keren, pikir Gadis.
" Hai, juga... " balas Gadis.
" Teman-teman kamu telat, ya?"
" Iya,...eh enggak,sih. Aku yang ketinggalan informasi. Jam latihan di undur jadi jam empat. " kata Gadis.
Cowok itu duduk di sebelah Gadis.
" Sama, dong. Aku juga nunggu teman - teman aku. Aku kira mereka pada ngaret semua. Tapi ternyata aku yang kecepatan."
Menyadari keadaan yang sebelas dua belas, akhirnya mereka tertawa bersama. Hilang sudah kesal di hati Gadis.
" Senyummu indah sekali... " puji cowok itu tiba-tiba. Gadis langsung terdiam. Dia menjadi salah tingkah.
" Perkenalkan, namaku Gara... " kata Cowok itu.
" Gadis.... " jawab Gadis. Menyebutkan namanya.
" Nama yang unik. Jadi, biarpun sudah ibu - ibu, kamu akan dipanggil gadis terus. " kata Gara.. Gadis langsung melotot mendengar ucapan Gara.
" Kamu kelas tiga....? " tanya Gara.
Gadis hanya mengangguk.
" Sama, dong. Aku anak IPA satu, kamu di mana..?"
" Aku IPA tiga... "
Percakapan kami terhenti karena beberapa orang teman Gara sudah berdatangan ke tempat latihan. Gara pun pamit pada Gadis karena latihan basket sudah di mulai.
" Gadis, entar pulang naik apa?"
" Aku bawa motor." jawab Gadis.
"Oh.., aku kirain nggak bawa motor. Ya udah, kita pulangnya bareng, yah." ucap Gara.
Meskipun agak aneh, tapi Gadis mengiyakan ajakkan Gara untuk pulang bareng. Rumah Gara ternyata satu arah dengan arah rumah Gadis.
__ADS_1
Itulah awal perkenalkan mereka. Sederhana dan tidak neko - neko.
Sejak hari itu, Gara selalu mengantar dan menjemput Gadis. Hari - hari mereka lalui dengan berdua. Gara selalu menempel di manapun Gadis berada.
Tiga bulan kemudian, Gara menembak Gadis tepat dihari Valentine. Gadis dengan malu - malu, menerima pernyataan cinta Gara. Gadis pun resmi menjadi pacar Gara.
Sudah lebih tiga puluh menit..Tapi tak ada tanda - tanda kemunculan Gara. Sudah hampir pukul tujuh.
Akhirnya, Gara, cowok yang ditunggu Gadis datang juga. Ada yang berbeda kali ini. Gara yang biasa selalu banyak bicara kalau menjemputnya, hari ini mendadak pendiam dan sedikit jutek.
Ada yang aneh dengan sikap Gara. Dan Gadis tidak tahu apa. Apakah dirinya telah melakukan kesalahan.
Pun ketika sampai di sekolah, Gara tanpa bicara apa - apa langsung pergi meninggalkan Gadis. Hal ini tentu saja menimbulkan tanda tanya di hati Gadis.
Sepulang sekolah, Gadis tidak menjumpai Gara. Kata teman - temannya Gara tidak masuk hari ini.
Ada apa dengan Gara. Bukannya tadi dia diantar Gara. Lantas, mengapa teman - teman Gara mengatakan bahwa Gara tidak masuk sekolah hari ini. Apakah Gara bolos? Apakah itu sebabnya Gara buru - buru pergi setelah mengantarnya ke sekolah.
Keesokan harinya, Gara kembali menjemput Gadis. Kali ini sikap Gara sudah tidak jutek lagi seperti kemarin. Hanya saja, saat Gadis bertanya pada Gara mengapa kemarin cowok itu tidak ada di sekolah, dia tak bisa menjawab. Gara nampak kebingungan mencari alasan. Hal ini semakin membuat Gadis menjadi yakin, bahwa kekasihnya itu sedang menyembunyikan sesuatu.
Dia takut jika Gara ikut - ikutan terjerumus kepada hal - hal negatif. Banyak sudah kasus yang terjadi, anak jaman sekarang ikut - ikutan tawuran, perang antar geng, sampai pada Narkoba.
Sampai pada suatu hari, Gadis diajak oleh Mika dan Jeni ke Mall. Gadis tentu saja tak menolak, karena memang sudah hobi anak muda, jalan - jalan dan ngeceng di mall.
Setelah puas jalan - jalan di Mall, ketiganya lalu memutuskan untuk mampir di Jacko.
Saat mengambil tempat duduk, pandangan Gadis tanpa sengaja tertuju pada sepasang muda - mudi yang sedang asyik memadu kasih sambil makan donat bersama.
Gadis tercekat. Bukankah itu Gara.... tapi siapa cewek itu.....??
Ada sebongkah batu yang menghantam tepat di hati Gadis ketika melihat Gara dengan lembut mencium pipi cewek itu.
Tanpa sengaja, dia menyenggol gelas minumnya hingga tumpah. Suara gaduh dan pekikan Gadis membuat kedua muda - mudi itu menoleh ke arah Gadis Dan teman - temannya.
Gara ingin bergerak menghampiri Gadis, namun Gadis sudah keburu pergi. Dia tak peduli dengan teriakan Gara Dan juga teman - temannya yang dia tinggalkan. Gadis terus saja berlalu, pergi meninggalkan tempat itu dengan luka terpendam.
Pun hari berikutnya, Gadis tidak pernah lagi bicara dengan Gara meskipun sudah berpuluh - puluh kali cowok itu datang dan mencoba untuk bicara dengan Gadis.
Gadis menutup mata dan telinga tentang Gara. Baginya, cerita tentang Gara sudah usai begitu saja. Apa yang dilihatnya, sudah menjadi bukti yang kuat bahwa Gara sudah mengkhianatinya.
Lama - lama, Gara berhenti datang menemuinya. Mungkin dia merasa bosan karena selalu saja di tolak oleh Gadis. Gara juga tak terlihat lagi di sekolah.
Gadis juga tak ambil peduli dengan itu. Gadis berusaha untuk melupakan Gara Dan menghapus jejak Cowok itu dari ingatannya.
Sampai akhirnya, mereka pun lulus.. Pada acara kelulusan, Gadis tak menjumpai Gara hadir pada acara tersebut. Juga pada malam perpisahan. Gara seolah - olah menghilang, dan Gadis, juga sudah tak peduli.....
Gadis tersadar dari lamunannya. Dia menghapus jejak air mata yang menggenang di sudut matanya.
Kenangan akan Gara, tiba-tiba saja hadir saat Gadis sudah mulai lupa tentang kehadiran Cowok itu di hidupnya. Rasa pedih ternyata masih dia rasakan. Padahal luka itu sudah bertahun-tahun. Ternyata, dia masih merawat luka itu, atau dia masih mencintai cowok itu....
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Seorang Cowok sedang duduk di atas kursi roda. Sebelah tangannya sedang memegang sebuah bingkai yang berisi foto seseorang.
Dengan hati - hati, dia meletakkan bingkai foto itu di atas meja di kamarnya. Senyum tipis tercetak di sudut bibirnya yang tebal.
" Gadis. Aku pastikan bahwa kali ini, kau tak akan bisa lari lagi dariku."
......................
"Permisi, saya mau bertemu dokter Edo." kata Queen kepada perawat yang bertugas jaga di ruang resepsionis.
__ADS_1
" Dokter Edo sedang ada operasi. Nona di persilahkan tunggu di ruang itu. Itu pesan dari dokter Edo." kata perawat itu sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang terletak di sebelah ruangan resepsionis.
Queen mendengus kesal. Dokter Edo memang benar - benar menguji habis kesabarannya. Dia disuruh menunggu cowok itu. Yang benar saja. Kurang kerjaan banget. Apa masih kurang, pergi ke rumah sakit ini tiga kali sehari. Di tambah sekarang harus menunggu cowok itu lagi. Lama - lama, bisa stress kalau begini.
" Mbak, saya tidak bisa menunggu karena pekerjaan saya masih banyak. Saya hanya titip ini saja, ya."
"Aduh, saya tidak berani. Nanti dokter Edo marah.. Saya bisa kena batunya. Lebih baik, mbak tunggu aja ya sebentar. Tak lama lagi operasinya selesai, kok.."
Tapi sekarang sudah jam satu. Queen harus buru - buru kembali ke restoran tempat dia bekerja karena hari ini restoran tempat dia bekerja sedang ramai kedatangan tamu.
Maka dengan berat hati, Queen terpaksa meninggalkan rumah sakit itu walaupun berulang kali perawat itu meminta dia untuk menunggu sebentar lagi.
Sepeninggal Queen, dokter Edo datang. Dia tak menemukan Queen di ruang tunggu dokter. Hanya kotak makan siang yang tergeletak di atas meja kerjanya.
Pasti Queen sudah pergi. Dasar tak sabaran, rutuknya dalam hati.
Dia lalu membuka kotak makan tersebut. Isinya ada nasi dengan lauknya berupa rendang dan sambal goreng hati lengkap dengan sambal hijau.. Juga ucapan selamat makan, dan jangan lupa minum obatnya.
Sebenarnya, cukup manis. Tapi Edo kesal, karena yang dia mau adalah Queen ada di sini menemani dia makan.
Queen baru saja selesai mencuci semua piring bekas tamu ketika temannya memberitahu dirinya bahwa diluar ada seseorang tamu yang ingin bertemu dengannya secara langsung..
Queen gugup. Apakah hari ini dia salah memasak sehingga ada tamu yang komplain atas masakannya.
Dengan tergesa-gesa, Queen mendekati tamu yang dimaksud.
" Permisi, apakah tuan ingin bertemu dengan saya.."
Orang itu mengangkat wajahnya. Deg...,.
Astaga.... jantung Queen nyaris meloncat keluar. Hampir saja Queen berteriak karena saking kagetnya. Ternyata tamu itu adalah dokter Edo.
" Kaget, tak menyangka aku akan datang ke sini." tanya dokter Edo sambil tersenyum penuh kemenangan.
" Astaga.... ngapain dokter kemari. Kan tadi sudah saya bawakan kotak bekal ke rumah sakit. Apa tidak disampaikan sama perawat di sana.. "
Dokter Edo lalu mengeluarkan kotak bekal dari Queen di atas meja.
" Aku nggak mau makan, kalau tidak ditemani sama kamu..... " kata Dokter Edo.
" Tapi ini jam kerja. Saya tak bisa melayani dokter Edo kalau saya sedang bekerja, dokter Edo harus berlaku selayaknya tamu.. " kata Queen.
" Baik, anggap aku ini tamu restoran ini dan layani aku sesuai permintaan aku."
Dia lalu menyodorkan kotak makan itu ke arah Queen.
Mau tak mau, Queen akhirnya menerima dan membuka kotak makan tersebut. Isinya masih utuh.
Ternyata dokter Edo menepati janjinya bahwa dia tidak mau makan, jika tidak diambilkan oleh Queen.
Akhirnya, Queen berinisiatif untuk mengambil alih kotak makanan yang tersedia dan menyuapkan ke mulut dokter Edo sampai habis tak bersisa.
" Dokter Edo, sudah selesai." kata Queen. " Minumlah..... " Kata Queen sambil mengerling nakal.
Sepertinya dia punya rencana bagus buat kasih dokter Edo pelajaran.
" Karena dokter Edo sudah makan, maka silahkan dokter Edo membayar di kasir semua makanan yang tuan makan."
__ADS_1
Dokter Edo pun ke kasir. Alangkah terkejutnya dokter muda itu saat membayar harga makanan yang dia makan..
Satu juta untuk harga sepiring nasi yang dia makan.