
Edo membuka matanya. Matanya nanar menatap ke sekelilingnya. Di mana aku, pikirnya. Kayaknya sih, tempat ini kukenal.
"Nah, kamu sudah sadar. Aku minta maaf karena sudah nabrak kamu. Saya juga gak tahu, soalnya kamu tiba-tiba saja langsung berlari ke arah motor aku."
Siapa cewek itu. Kenapa dia bicara terus. " Kamu siapa.....?" tanya Edo pada Queen.
" Hah.,..gue sudah cape - cape minta maaf.Ternyata nggak ditanggapi." Kata Queen dalam hati " Aku orang yang tak tak sengaja nabrak kamu "
" Oh, kamu yang nabrak aku. Bagus kalo begitu. Kamu harus tanggung jawab Kepadaku. Aku mau kamu merawat aku sampai sembuh." kata Edo dengan seenak hatinya.
"Tapi kata dokter kamu nggak papa.. Hanya menderita lecet sedikit di beberapa bagian tubuh..Selebihnya kamu baik - baik saja, tuh. " kata Queen.
"Kata siapa aku baik - baik saja. Kepalaku saja masih pusing sekali. Bagaimana kalau aku geger otak. Pokoknya kamu harus tanggung jawab."
Cewek yang bernama Queen itu hanya bisa mengangguk pasrah. " Iya..Aku akan tanggung jawab." jawab Queen dengan kesal.
Mau apa lagi. Queen hanya bisa pasrah. Orang dia yang salah. Meskipun pada
kenyataannya dia nggak merasa bersalah. Loh, Edo sendiri yang menabrakkan diri.
Edo memijit Kepalanya yang sakit.." Hei, sini. Tolong pijitin kepalaku." pinta Edo pada Queen.
Queen mendelik semakin kesal.. Bisa - bisanya nih cowok perintahin gue. Mimpi apa gue semalam. Dia apes sekali. Tau gitu, mending dia kabur aja.
"Tapi.... aku...," Queen ragu untuk mendekati Edo. Bau minuman di tubuh dan mulut Edo membuat Queen enggan untuk mendekat..Dia paling tak suka dengan bau alkohol.
Akhirnya, meski terpaksa Queen mendekat juga ke arah Edo. Dia memijit Kepala Edo dengan lembut. Edo merasa sedikit baikkan karena Queen memijit tepat di syaraf yang sakit.
Hoekkk...tiba-tiba, perut Edo terasa mual. Dan tanpa bisa ditahan, Edo muntah ditempat tidur. Dan sialnya baju Queen terkena percikan dari muntahan Edo. Queen langsung terjengkit. Dia sampai menjerit sangking kesalnya.
" Astaga, ..,.. kamu bikin kesel juga lama - lama.. Aku memang bersalah karena menabrakmu, walaupun itu tak di sengaja. Tapi kalau begini akibatnya, aku nyerah, deh. Mending gue masuk bui karena nabrak orang dari pada gue di muntahin oleh orang yang nggak waras.
(???????? ....... mana ada orang mabuk yang waras. Neng Queen aya - aya wae)
Akhirnya, Queen minta tolong sama Office boy rumah sakit buat bersihkan muntah dan mengganti seprai yang terkena muntahan dengan sprei yang baru.
Baru saja Queen hendak pergi membersihkan bajunya yang terkena percikan muntah, Edo sudah memanggil kembali.
"Kamu jangan pergi. Bagaimana nanti denganku. Nanti kamu kabur dari tanggung jawab. "
" Aku mau bersihkan bajuku. Kalau pun aku pulang, itu hanya sebentar saja.. Aku mau pulang dan ngabarin orang tuamu. Nanti mereka cemas karena aku belum pulang padahal ini sudah hampir pukul dua belas."
"Edo.... kamu bisa memanggilku Edo. Baiklah.. Apa jaminan bahwa kamu tak akan lari dariku. " tanya Edo.
" Hei.. dengar ya tuan Edo yang terhormat. Tadi saya sudah menaruh KTP dan nomor telepon saya sebagai jaminan bahwa saya tidak akan lari dari tanggung jawab. Sekarang saya mau pulang dulu buat ganti baju dan juga memberitahu orang tua saya. Anda masih keberatan...?
__ADS_1
" Baik, saya izinkan kamu untuk pulang sekarang. Tapi besok pagi - pagi sekali kamu sudah kembali lagi. Oh iya, jangan lupa bawakan saya baju ganti juga. "
Huh.... ingin rasanya Queen mencakar - cakar wajah itu. Wajah yang lebam di sana sini karena mungkin saat ketabrak tadi, dia mencium sepeda motor Queen atau ibu pertiwi.
" Iya, baiklah. Saya pergi dulu, tuan Edo. Besok pagi, saya akan kembali lagi."
Akhirnya......
Aku bisa pulang..
Rasanya aku seperti berada di Dalam ruangan tertutup. Pengap banget kayak aku kehabisan oksigen....,
Queen pulang ke rumah dengan kesal. Sampai di rumah, ayah dan ibunya sudah menunggu dengan penuh kecemasan. Apa lagi, tadi Queen sempat memberitahukan, . bahwa dia habis nabrak seseorang. Mereka berdua makin merasa cemas.
Akhirnya, Queen menceritakan kronologi kejadiannya. Dari awal dia pulang kerja sampai pada peristiwa di rumah sakit. Edo, cowok itu meminta dia untuk bertanggung jawab pada dirinya. Merawat dan mengurus dirinya yang sakit sampai sembuh. Kalau tidak, dia mengancam akan melaporkan Queen ke polisi.
...----...
Pagi hari sekali, Queen sudah di kejutkan oleh dering dari nada dering ponselnya. Dengan malas, Queen mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Hallo..... "
" Bangun. dasar cewek malas.. Jam. segini belum bangun. Aku mau ke kamar kecil.., " suara Edo dari seberang.
Ya ampun.., dia nggak luka parah. Masa ke kamar kecil saja harus menunggu Queen....
" Tapi kan, kamu bisa ke kamar kecil sendiri. Kaki kamu nggak papa. Hanya luka lecet..... " Queen masih mencoba bernegosiasi. Dia masih Mengantuk.
" Tidak bisa. Kamu harus datang ke sini. Jangan lupa, baju gantiku... "
Telepon mati....
Edo memutus telepon secara sepihak. Queen segera bangun dari tidurnya bergegas mandi dan berpakaian.
Tiba-tiba, dia teringat bahwa dia harus membawakan baju ganti buat Edo. Queen bingung. Akhirnya dia berinisiatif untuk membelikan Edo baju baru buat ganti..
Sampai di rumah sakit, Queen langsung ke ruang Edo untuk menemui Edo yang sudah menunggu dirinya sejak tadi.
Begitu dia masuk, beberapa perawat baru keluar dari ruangan Edo. Mereka memandang ke arah Queen dengan tatapan yang aneh. Emang kenapa, dengan gue, pikir Queen.
Sudahlah, bodo amat, pikirnya. Sudah bagus aku mau bertanggung jawab pada tuh, bocah.
"Lama banget, sih kamu. Keburu keduluan sama perawat yang datang.
Emang ngapain aja?"
__ADS_1
"Aku harus membeli baju baru dulu buat ganti baju kamu...... " Belum selesai Queen berucap, tiba-tiba pandangannya jatuh pada baju yang di kenakan Edo. Cowok itu sudah tak memakai baju pasien. Sebagai gantinya, cowok itu kini memakai kemeja warna biru laut di balut Jas putih. Padahal tadi malam seingat Queen, Edo masih memakai baju pasien.
" Dok, Ditunggu dokter Haryo di ruangannya sekarang juga." kata perawat jaga pada Edo.
" Iya, sebentar lagi, Mbak Ita. Aku mau bicara sama pacar aku. " kata Edo pada perawat yang bernama Ita itu.
Sedangkan Queen, cewek itu yang diakui sebagai pacar Edo keki bukan main. Pasalnya, dia sudah merasa di kerjain dan ditipu habis - habisan oleh cowok yang ternyata seorang dokter di rumah sakit itu. Pantas saja, para perawat itu memandang dirinya dengan tatapan aneh. Tapi apa tadi.... pacar? Pacar palelu..... peyang, maki Queen dalam hati.
" Terima kasih, bajunya."
Queen ingin protes tapi buru - buru Edo menyela. " Aku belum sembuh, lohh."
"Tapi kan, kamu dokter. Masa dokter nggak bisa ngobatin dirinya sendiri" omel Queen.
Edo menonyor kepala Queen.
" Apa kamu pikir dokter bukan manusia. Sudah, kamu boleh pergi sekarang.Tapi kamu harus tetap datang kemari setiap hari. Bawakan aku makan pagi, siang, dan malam. Karena aku harus minum obat. Ingat, kamu tetap nggak boleh lupain tanggung jawab kamu." Kata Edo pada Queen.
" Huh, iya. Aku tak lupa akan tanggung jawabku. Tapi kan, kamu sudah sembuh. Buktinya kamu sudah menangani pasien. Jadi, aku rasa sudah tak ada kewajiban aku untuk merawat kamu.."
" Aku belum sembuh. Aku terpaksa bekerja karena hari ini aku ada kelas. Pokoknya aku tak mau tahu, nanti siang kau harus datang bawain aku makan siang." jelas Edo.. Edo kemudian pergi begitu saja meninggalkan Queen yang masih tak terima jika harus datang ke rumah sakit ini tiga kali sehari. Udah mirip kayak jadwal minum obat saja.
......................
Sementara itu, di ruang yang lain seorang Gadis harus di sibukkan dengan kelakuan Edo yang mabuk dan berulah tadi malam, kini Gadis di sibukkan lagi dengan dr. Rendi yang meminta dia datang karena ada suatu hal yang ingin di bicarakan dengan calon dokter kandungan itu.
" Ada apa, yah, Dokter Rendi memintanya datang ke ruangannya? " pikir Gadis dalam hati.
Akhirnya, Gadis pergi juga ke ruangan dokter Rendi. Sesampainya di sana, dia melihat cowok yang mirip Gara itu di sana. Agra, ya Gadis ingat kalau cowok itu bernama Agra. Dia adalah saudara kembar Gara. Cowok itu ** sedang duduk menunggu gilirannya untuk di panggil.
" Dokter Gadis, masuklah.... " sapa dokter Rendi.. Agra ikutan menoleh. Tatapan mereka bertemu. Gadis merasa canggung dan cepat - cepat mengalihkan pandangannya kepada dokter Rendi.
" Dokter memanggil saya.."
" Iya, eh begini, Gadis, Saya mau minta kamu jadi dokter residen di tempat saya. Karena saya membutuhkan bantuan kamu. "
Tiba-tiba, cowok yang bernama Agra itu masuk ke ruang dokter Rendi.
" Gimana, dok...... "
" Nah, kebetulan Dokter Gadis sudah berada di sini. Saya ngomong langsung saja.. Begini dokter Gadis, Agra adalah pasien dengan saya. Dia menderita kelumpuhan semi permanen. Saya sudah melakukan treatment dan juga saya menyarankan terapi kepada saudara Agra. " Sampai di sini dokter Rendi menjeda kalimatnya sejenak. Dia melirik ke arah Agra yang dari tadi tampak tenang - tenang saja.
Dokter Rendi kemudian melanjutkan kalimatnya.." Pasien saya setuju, akan tetapi Agra, pasien saya itu mengajukan syarat."
Kening Gadis mengerut. Baru kali ini ada pasien yang mengajukan persyaratan ketika mau diterapi.
__ADS_1
" Syarat, Dok..?" tanya Gadis mengulangi pernyataan dokter Rendi.
"Iya, syarat. Dan Syaratnya, dia hanya mau menyetujui terapi jika dokter yang merawat dia adalah Anda, ....dokter Gadis. "