Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 22


__ADS_3

Pukul 04.00 dini hari.....


Matahari belum lagi terbangun dan pagi masih lagi jauh untuk sampai sempurna membuka matanya, ketika Mitha baru saja sadar dari pingsannya.


Perlahan - lahan Mitha mencoba untuk membuka matanya yang masih terasa berat saat dibuka. Bau obat - obatan yang menusuk hidungnya membuat Mitha bisa mengetahui dimana dia berada saat ini. Untungnya juga, Mitha menyukai aroma dan bau tersebut hingga dia tidak terlalu merepotkan hal tersebut.


Berbicara mengenai masalah merepotkan, dia jadi teringat bahwa sebelum pingsan tadi dia dan Fatan sedang terlibat pertengkaran hebat dan hal terakhir yang dia ingat saat itu perutnya rasanya sakit sekali sampai - sampai dia tak ingat lagi apa yang terjadi kemudian.


Jadi, siapa orang yang telah mau repot - repot membawanya ke rumah sakit?


Rasanya Mitha tidak perlu repot untuk mencari tahu siapa yang telah repot - repot membawanya ke tempat ini karena orang itu kini sedang tertidur dalam posisi duduk di sisi kanan ranjangnya. Mungkin terlalu lelah karena semalaman harus mengurus dan menjaga Mitha.


Sejenak ada perasaan haru yang menyapa hati Mitha. Di balik sikap dingin dan kasarnya Fatan, ternyata Fatan tidaklah sejahat yang dia kira.


Mitha merasa bersyukur, walaupun dia tahu mungkin saja Fatan masih merasa marah karena pertengkaran mereka semalam, tetapi Fatan masih mau peduli dan juga telah mau bersusah payah untuk membawanya kemari.


Dengan gerakan pelan, Mitha berusaha untuk bangun dari tidur. Dia berusaha untuk menjangkau gelas air minum yang letaknya agak jauh dari tempat tidur. Kerongkongannya terasa kering.


Gerakan tangan Mitha membuat cowok yang sedang tertidur di sisi ranjangnya itu terbangun. Dia mengerjab sambil menatap nanar ke arah Mitha.


Begitu dia menyadari jika Mitha sudah terbangun dia langsung bergegas pula mengangkat kepalanya lalu merubah posisinya dari tidur menjadi duduk.

__ADS_1


" Akhirnya kamu bangun juga. Mau ngapain...?." tanyanya dengan bersungut-sungut.


Mitha menggeleng pelan. "Aku haus


... " jawab Mitha.


Fatan kemudian berdiri dan membetulkan posisi jaketnya. Dia melirik arloji di tangannya. Pukul empat sepuluh menit. Dia pun bergerak mengambil gelas di sebelah ranjang Mitha dan menyerahkannya kepada Mitha.


Mitha menerima dan meneguk habis isi gelas tersebut hingga tandas tak bersisa.


Setelah mengembalikan gelas, Fatan


" Masih subuh, Aku mau tidur lagi.!Semalaman aku kurang tidur, kamu benar-benar bikin susah semua orang...." ucapnya ketus sambil beranjak menuju sofa yang memang tersedia di dalam kamar ruang perawatan Mitha. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di sana tanpa peduli dengan Mitha yang sedang menatapnya dengan kesal.


Mitha berdecih "Cih, kalau kamu nggak ikhlas buat nolongin aku, lantas kenapa kamu masih di sini? Mendingan kamu pulang saja. Aku tak butuh kamu di sini. Gara - gara kamu aku begini. Sekarang juga kamu boleh pergi...! Pergi, kataku..!Pergi.!" bentak Mitha kesal.


Fatan langsung bangkit dan tersenyum menyeringai sambil menatap Mitha.


" Baguslah.... apa kamu pikir aku suka menemani cewek cerewet dan jelek kayak kamu. Kamu itu jadi cewek, sudah jelek masih ditambah tak pernah ada syukur - syukurnya. Sudah bagus, aku nganterin kamu ke mari. Bukannya Terima kasih, malah ngusir aku. Tau gitu, aku biarin aja kamu tadi pingsan di kamar." ujarnya.


Mendengar itu, darah Mitha kembali lagi bergolak. Fatan memang keterlaluan. Nih cowok mulutnya minta disumpal.

__ADS_1


" Kalau begitu silahkan keluar dari sini sekarang juga. Aku bisa sendiri. Urus saja dirimu sendiri. Aku juga sudah muak dengan keberadaan kamu di tempat ini!!" ejek Mitha


Lagian bukankah hal yang bagus jika aku di sini. Kamu kan, bisa bebas bertemu sama teman - teman kamu yang brengsek itu dan sekalian sama pacar kamu yang suka berpakaian kurang bahan itu. Dasar cowok nggak guna...!! " ejek Mitha pada Fatan


Mitha melempar Fatan dengan bantal. Untung saja dengan sigap Fatan berhasil menangkap bantal tersebut,


"Jika bukan karena tanggung jawab aku terhadap anak yang di kandungmu saja maka aku mau bersusah payah mengantar kamu ke sini."sahut Fatan kesal.


Mendengar itu Mitha tiba - tiba teringat tentang bayinya yang berada diperut.


"Perutku, apa yang terjadi dengan bayiku? Dimana dia? " tanya Mitha panik. Mendadak saja Mitha ketakutan jika terjadi sesuatu dengan bayi yang ada di dalam perutnya.


" Tenanglah, bayi kita tidak apa-apa. Kata dokter Indar itu hanya tegang dan kram pada perut. Itu sering dialami oleh wanita hamil terutama yang sedang stress atau sedang mengalami ketegangan atau pun tekanan. Mungkin saja beberapa hari ini, kamu lagi stress mikir sesuatu atau tegang karena peristiwa semalam." jelas Fatan.


Hmm, aku stress itu semua gara-gara kamu, kampret, umpat Mitha dalam hati.


Mitha berusaha menahan diri karena memikirkan keadaan mereka yang sedang berada di rumah sakit.


" Mungkin saja dokter Indar berkata benar akhir - akhir ini aku memang sedikit stress. " jawab Mitha akhirnya.


" Apa kamu stress karena menikah denganku.

__ADS_1


"??????


__ADS_2