Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 8 Minggu Depan Kita Nikah....


__ADS_3

POV Mitha...


Sudah seminggu berlalu sejak insiden terakhir di depan toilet yang menambah daftar kebencian aku ke cowok kurang ajar dan mesum itu. Sikap Fatan bagiku sungguh sangat keterlaluan.


Selama seminggu ini pula aku merasa bebas berkeliaran di rumah sakit atau di kampus tanpa rasa was - was. Entah mengapa, kehadiran Fatan di sekitarku bagiku amat meresahkan dan menggangu. Jadi selama dia tak ada, hatiku tentram dan damai, hehehe.


Pagi hari di kosan. Aku baru saja bangun dari tidur. Perutku kembali merasa mual ketika bau parfum Gadis tanpa sengaja tercium olehku saat Gadis menyemprotkan parfum kesayangannya ke seluruh tubuh.


Hoek......


Hoek.....


Tak tahan aku langsung bangun dan buru - buru berlari ke kamar mandi. Di sana aku menumpahkan semua yang kumakan tadi malam. Rasanya sungguh tidak enak. Pahit bercampur asam. Aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh lemas dan wajah pucat.


Perut sialan.....


Bibit Fatan di dalam tubuhku mulai menunjukkan taringnya. Dia mulai unjuk gigi dan ingin pamer diri. Mentang - mentang aku diam dan tak berbuat apapun.


Bisanya pagi - pagi dia sudah melunjak. Calon anak Fatan ini rupanya pengen menunjukkan keberadaannya di hadapan Gadis.


Kesal, aku menyentil sedikit perutku. Rasain ! Kapok, kapok deh. Siapa suruh pagi - pagi sudah berulah.


" Mitha, lo nggak papa...? " Gadis yang menyusulku ke kamar mandi mendadak menjadi khawatir melihat keadaanku.


Aku cuma menggeleng menanggapi pertanyaan Gadis. " Gue nggak papa. Cuma sedikit mual saja. Kepala gue rasanya mau pecah, Dis. Dan lagian, akhir - akhir ini hidung dan pencernaan gue sedikit keganggu." jawabku sambil tersenyum meringis ke arah Gadis.


Kening Gadis berkerut. Dia menatapku dengan tatapan menyelidik.


" Kapan terakhir, lo dapet tamu bulanan lo, Mit?"


Deg......


Pertanyaan Gadis sungguh tak terduga.


" Maksod lo apa, Dis?" tanyaku pura-pura tak paham akan maksud pertanyaannya.


Tatapan mata Gadis tajam menembus manik mataku. Aku jadi sedikit gugup dan salah tingkah.


" Mitha, kita ini calon dokter. Tentunya lo sudah paham akan maksud pertanyaan gue."


Aku terdiam setelah mendengar ucapan Mitha. Bodoh..... bodoh sekali, rutukku dalam hati. Tentu saja Gadis tak bodoh untuk sekedar menafsirkan gejala - gejala yang aku alami. Sama halnya dengan Fatan, dia dan aku sama - sama kuliah di jurusan yang sama. Jadi bagaimana mungkin bisa dibohongi.


" Gue positif, Dis. Kalau nggak salah hitungan, ini masuk minggu ke delapan." akhirnya aku menceritakan juga perihal kehamilanku pada Gadis.

__ADS_1


" Astaga, Mitha. Lo tuh gimana, sih. Mestinya lo ngomong sama gue. Dan yang lebih penting, lo tuh, kudu nemuin Fatan. Lo harus minta tuh bocah, untuk bertanggung jawab atas hasil perbuatannya. Jangan hanya bisanya berbuat doang, lalu lari dari tanggung jawab." ujar Gadis dengan berapi-api.


" Sebenarnya, Fatan yang lebih dahulu tahu masalah ini. Minggu kemaren, tuh anak nemuin gue saat gue habis dari toilet. Waktu itu gue merasa pusing dan mual. Jadi gue buru - buru minta izin ke toilet. Eh, ternyata... Fatan ngikutin gue sampai di depan toilet."


" Terus, Fatan ngomong apa, Mit? "


" Dia bilang, kalo gue harus jaga anak dia, dan bentar lagi, dia akan dateng ke. rumah gue." jawabku.


" Nah, itu artinya Fatan mau tanggung jawab sama lo, Mit. Terus lo jawab apa?" tanya Gadis penasaran.


" Gue nggak jawab apa- apa, Dis. Habisnya gue kesal banget sama tuh bocah. Dan lagian, gue takut, Dis." jawabku cepat.


" Loh, kok takut? Lo takut apa sih, Mit? Lo tuh yah, ada - ada aja."


" Jujur aja, Dis. Gue takut ngecewain bapak dan ibu gue. Nggak kebayang wajah - wajah kecewa mereka seandainya mereka tahu, bahwa cita - cita gue bakalan kandas kalo gue hamil. Anak gadis yang mereka bangga - banggain nyatanya cuma bisa hamil di luar nikah." jawabku sambil tertunduk lesu.


Gadis memeluk gue dengan erat. " Lo yang sabar ya, Mit. Gue yakin lo pasti kuat ngejalanin ini semua." kata Gadis memberi semangat kepadaku.


" Entahlah, Dis. Gue rasanya pengen gugurin kandungan gue. Gue nggak mau hamil. Gue nggak mau masa depan gue hancur gara - gara ini semua, Dis. Hik.. hik.. hik... "


" Astaghfirullah... istighfar, Mit. Lo nggak boleh ngelakuin itu. Lo sama halnya dengan ngebunuh satu kehidupan, Mit. Itu dosa besar. Lagian semua itu bukan kemauan lo. "


" Tapi gue takut, Dis. Jadi gue mesti gimana, Dis. Apa yang mesti gue lakuin. Gue bingung, Dis.. "


Tok... tok.. tok....


Pintu depan diketuk seseorang dari luar. Aku segera menghentikan tangisku dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara itu Gadis berjalan ke depan untuk membuka pintu.


Selang beberapa saat, Gadis kembali lagi menemuiku.


" Di luar ada seseorang yang ingin bertemu dengan lo. Sebaiknya lo segera temui dia. Kalian harus bicara." saran Gadis.


Aku langsung bisa menebak siapa yang Gadis maksud. Mulutku terbuka hendak melakukan protes.


" Tapi, Dis.... "


Tangan Gadis langsung terangkat ke atas memberi isyarat penolakan atas protesku.


" Nggak ada tapi - tapian, Mit. Kalian harus bicara. Ini tidak bisa dibiarkan berlarut - larut. Masalah ini harus segera diselesaikan oleh kalian berdua. Saranku cobalah untuk belajar berdamai dengan semua ini. Pasti akan ada jalan bagi kalian berdua." ujar Gadis tak mau dibantah.


Sahabatku yang satu ini memang selalu berpikir tegas dan bijaksana sebelum memutuskan sesuatu. Hal Itulah yang kusuka dari Gadis. Dan satu lagi yang aku suka dari Gadis, dia itu tak pernah mengumbar aib seseorang. Dia bukan type cewek bermulut ember.

__ADS_1


Dengan malas aku terpaksa mengikuti saran Gadis dan menemui Fatan yang sudah duduk di kursi plastik yang ada di teras kosan aku dan Gadis.


Begitu melihat kedatanganku, Fatan langsung berdiri. Aku memilih tempat yang agak berjauhan dari posisi Fatan saat ini.


" Ngapain kemari..? " tanyaku dingin.


" Aku mau bicara sesuatu. Ini Penting." jawabnya dengan cepat.


" Kalo mau bicara, bicara saja..! " tukasku jutek seraya melirik ke belakang. Aku tahu bahwa Gadis mengintip kami dari balik pintu.


" Bisakah kita bicara di tempat lain. Aku butuh privasi..."


" Aku mau ke rumah sakit. " sahutku cepat. Jujur saja aku malas sekali meladeni cowok itu. Bisa kacau hari - hariku bila selalu saja bertemu cowok ini. Mood aku langsung hilang, buyar hanya dengan menatap wajah tengilnya itu.


Wajah Fatan terbilang tampan. Wajah kebule - bule-an dan baby Face itu membuat orang menyangka jika dia masih anak SMA yang masih bau kencur.


" Aku mohon, Mitha. Aku hanya minta waktu kamu sebentar saja." hibanya dengan sorot mata yang penuh dengan permohonan.


Aku menatap Fatan sejenak, lantas beralih menatap ke arah lain. Otakku berpikir keras. Apakah aku harus mengiyakan permohonannya.


Aku teringat saran Gadis yang menyarankan agar aku dan Fatan segera bicara untuk menyelesaikan masalah kami. Logika di kepalaku saat ini sependapat dengan saran Gadis. Kami memang harus bicara. Aku harus bisa tegas terhadap semua masalah ini. Lalu, sejurus kemudian...


" Baiklah, mari kita bicara.! " akhirnya aku memutuskan untuk menerima ajakan Fatan untuk bicara di luar.


" Tapi tunggu sebentar. Aku mau bersiap - siap dulu. Tapi janji ya, kita hanya bicara sebentar saja karena aku benar-benar harus ke rumah sakit..... " jawabku akhirnya.


Fatan mengangguk dengan wajah gembira. Mata Fatan terlihat berbinar ketika mendengar ucapanku.


" Iya, Mit. Aku janji tak akan lama. Aku yang akan mengantarmu ke rumah sakit. Kita kan, satu tujuan. Jadi bareng saja.. " jawabnya dengan ekspresi wajah gembira.


Aku diam tak menggubris ucapannya. Tanpa bicara lagi aku langsung balik masuk ke dalam kamar dan berganti baju.


...-----...


" Katanya mau bicara? Bicaralah..! Atau kalo nggak jadi, aku bisa langsung pergi saja sekarang...! " aku langsung menodongnya untuk bicara setibanya kami di tepi sebuah pantai.


Fatan sengaja membawaku ke tempat ini karena baginya, hanya tempat ini saja yang sepi dan bisa digunakan untuk kami bicara hal yang bersifat privasi dengan tenang tanpa adanya gangguan.


Fatan terlihat menghela nafas sebentar sebelum mulai bicara. Dia menatap ke arahku dengan tatapan yang dalam.


" Minggu depan kita menikah.... "


" Apa???? "

__ADS_1


__ADS_2