
Mitha dan bayinya hari ini sudah diperbolehkan pulang dengan catatan akan kembali lagi kontrol minggu depan. Dia dan bayinya hari itu pulang kembali tapi bukan ke apartemen fatan melainkan ke rumah Fatan. Karena Mommy Amel dan Papa Bram meminta mereka untuk menginap di sana beberapa hari.
Fatan menjalankan mobilnya menuju rumah orang tuanya. Sepanjang perjalanan, cowok itu hanya diam saja. Kediaman Fatan sukses membuat Mitha jadi bertanya - tanya. Mengapa Fatan kembali bersikap dingin. Apakah perubahan sikap Fatan kembali menjadi dingin ada hubungannya dengan dengan peristiwa di rumah sakit tadi.
Ingatan Mitha kembali melayang sewaktu berada di rumah sakit. Saat itu, Mitha sempat dibuat kaget karena mendadak Fatan muncul dari balik pintu.
Walaupun tidak mau menduga - duga, tapi mungkinkah kak Fatan sudah mendengar pembicaraan dirinya dan Edo terkait mereka. Jika iya, maka sudah dipastikan bahwa mungkin saja saat ini Fatan sudah mulai menjaga jarak dengan nya lantaran masalah itu.
"Kita sudah sampai... " suara Fatan menyadarkan Mitha dari lamunannya sesaat.
" Eh, iya Kak. Sudah sampai, yah.. " kata Mitha. Dia lantas menggendong bayinya dan bermaksud untuk membuka pintu dan turun dari mobil. Namun Fatan keburu mencegah.
'Mitha, aku mau bicara.... "
Mitha urung membuka pintu mobil dan memilih untuk mendengarkan Fatan berbicara.
"Aku tahu, mungkin kamu ingin segera terbebas dari pernikahan ini. Aku tak bisa nyalahin kamu. Sesuai kontrak, kamu berhak untuk bebas. Tapi, aku minta waktu sampai kita kembali lagi ke rumah. Selama di rumah orang tuaku, aku mohon bersikaplah seperti biasa."
Nah..... kan. Apa aku bilang. Fatan pasti mendengar pembicaraan antara aku dan Edo, pikir Mitha. Fatan pasti menduga bahwa aku akan secepatnya minta cerai karena berdasarkan kontrak aku memang berhak untuk mengajukan perceraian setelah melahirkan anaknya.
Mitha menghela nafas panjang sebelum berucap, " Baik, kak.".. Hanya itu kata yang mampu dia ucapkan. Dia tak tahu harus berkata apa lagi. Terlalu sulit baginya untuk mengatakan apa yang Dia inginkan. Karena yang dia mau, Fatan berterus terang jika memang menginginkan mereka untuk bersama. Mungkin dengan begitu, Mitha akan mempertimbangkannya.
Mitha turun dari mobil Fatan dan bergegas menghampiri mommy Amel dan Papa Bram yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan mereka.
"Aihh.... dia mirip sekali dengan Fatan." seru mommy Amel begitu melihat bayi Kenan.
"Iya, yah Mih. Kok rasanya seperti melihat Fatan tapi dalam versi bayi. Orang yang melihatnya pasti langsung bisa menebak itu anaknya Fatan." Kata Papa Bram. Dia langsung menepuk bahu Fatan begitu Fatan sudah berada di sebelahku. "Kamu hebat, Nak. Ayah bangga padamu. Semoga kebahagiaan akan selalu menyertai kamu dan keluarga kecilmu. "
Mitha dan Fatan langsung merasa tertampar dengan perkataan Papa Bram. Bagaimana mau bahagia kalau pada akhirnya mereka akan berpisah.
" Amin. Terima kasih doanya, Pa. Semoga kami menjadi keluarga yang sakinah dan mawadah." kata Fatan sambil menggandeng tangan Mitha masuk ke dalam rumah. Sementara mommy dan Papa masih sibuk bermain - main dengan Bayi Kenan. Tampaknya mommy dan papanya punya mainan baru.
__ADS_1
"Sudah, kamu beristirahat saja di kamar ini. Biar Kenan, mommy yang jaga." Kata Fatan begitu mereka tiba di dalam kamar. Mitha lagi - lagi hanya bisa mengangguk. Entah mengapa, semenjak mengetahui akan berpisah dengan Fatan, membuat dia jadi salah tingkah dan merasa canggung di dekat Fatan.
" Aku akan kembali ke rumah sakit. Hari ini aku ada jadwal operasi nanti jam empat. Kamu nggak apa - apa, kan bila aku tinggal sendiri?" tanya Fatan.
"Tidak. Aku akan beristirahat saja. Pergilah, aku tak apa - apa? " jawab Mitha akhirnya.
" Oke, kalau butuh sesuatu, hubungi saja aku?"
Mitha akan beranjak menuju tempat tidur ketika Fatan kembali memanggil dirinya.
"Ada apa, Kak? " tanya Mitha kemudian.
"Boleh aku memelukmu.... "
Mitha menganggukkan kepala. Ini sidak yang ketiga kalinya dalam kurun waktu satu jam Mitha menganggukkan kepala.
Fatan lalu memeluk dirinya. Lama keduanya saling berpelukan. Menyelami rasa di hati masing-masing. Setelah itu Fatan melepas pelukannya dan berlaku pergi dari hadapan Mitha. Sedangkan Mitha, cewek yang sudah menjadi wanita dewasa itu hanya terdiam terpaku di tempatnya. Benarkah yang terjadi barusan. Fatan mencium bibirnya.....
Mommy Amel dan Papa Bram sejak tadi tak mau diganggu. Mereka sedang asyik bermain dengan bayi Kenan.
Mereka juga sudah menghubungi keluarga Mitha dan mengabarkan kondisi kelahiran cucu mereka. Sama seperti keluarga Fatan, orang tua Mitha menyambut bahagia kelahiran cucu mereka. Walaupun mereka tak bisa langsung datang ke sana, namun mereka cukup bahagia dengan melihat melalui video call dan berjanji akan datang secepatnya.
...-----...
Tak terasa waktu sudah berjalan cepat. Sudah dua bulan Mitha berada di rumah orang tuanya Fatan. Awalnya Fatan hanya meminta mereka tinggal di rumah orang tuanya selama tiga hari saja. Namun, kemudian berlanjut sampai sekarang.
Berkali-kali, Mitha meminta Fatan untuk kembali ke apartemen mereka. Tapi cowok itu selalu beralasan bahwa dia cape dan meminta Mitha untuk bersabar dan menunda keinginannya.
Fatan juga sebenarnya jarang pulang.
Dia lebih banyak menghabiskan sisa. waktunya lebih lama di rumah sakit. Hal ini membuat Mitha merasa tidak betah karena dia merasa bosan sendiri. Sedangkan Bayi Kenan lebih banyak di asuh sama mommy Amel.
__ADS_1
"Kak, kita harus bicara.. " akhirnya kesempatan itu datang juga. Mitha yang sudah sejak tadi menunggu kedatangan Fatan tak sabar menunggu hingga laki-laki itu membuka bajunya.
Fatan akhirnya mengalah. Dia melonggarkan sedikit kemejanya dengan membuka salah satu kancingnya.
" Bicaralah, ... aku sudah siap." kata Fatan. Mendengar Fatan mengatakan sudah siap justru sekarang Mitha yang menjadi salah tingkah. Sudah siap untuk apa..? Apa jangan - jangan Fatan berpikiran bahwa dia minta cerai.
"Aku ingin kita .... "
"Baiklah, jika memang itu yang kamu inginkan. Aku tak bisa menolak. Kamu berhak bahagia. Masalah Kenan dan Aku, tak usah kamu pikirkan. Hanya saja, aku tak bisa secepatnya mengurus perceraian kita. Karena Aku perlu waktu untuk mengurus semua itu."
Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa lagi. Niat hati ingin mengatakan bahwa aku ingin pulang ke apartemen karena aku bosan di sini. Aku ingin fokus mengurus Bayi Kenan, tapi mengapa Fatan malah ngomong masalah perceraian.
"Tapi Kak, bukan itu yang ingin aku sampaikan." kata Mitha. Akhirnya bisa juga dia berucap setelah terdiam untuk beberapa saat.
Fatan terdiam mendengar ucapanku. Dia lalu menatap ke wajah Mitha.
" Kalau bukan masalah itu masalah apa lagi, Mitha. Bukankah Kamu maunya kita bercerai setelah anak kita lahir. "
Mitha menghela napas panjang lalu berkata. " Aku mau kita pulang ke apartemen kakak. Karena aku sudah bosan di sini. Aku ingin fokus mengurus bayi kita, Kak. "
Diam.
Tak ada sahutan dari Fatan. Rupanya dia masih shock mendengar keinginan Mitha.
Mitha pun terdiam. Dia menunggu Jawaban Fatan .
Namun, lama tak juga ada reaksi dari Fatan, akhirnya membuat Mitha menyerah. Ternyata Fatan memang menginginkan dia pergi dan tidak berminat untuk mengajaknya kembali ke apartemen miliknya.
Begini ternyata akhirnya. Aku dan dia harus berpisah rupanya, pikir Mitha.
Mitha pun beranjak pergi. Dia harus kuat. Ternyata Fatan menginginkan mereka berpisah.
__ADS_1
Namun, baru saja dia akan pergi. Mendadak sebuah tangan merengkuh pinggangnya dan membalikkan tubuhnya hingga dia dan Fatan menjadi saling berhadapan.
" Terima kasih. Hari ini juga kita akan pulang ke apartemenku..."