
Sejak Mitha mengeluarkan isi hatinya untuk menjawab pertanyaan yang aku lontarkan padanya tentang apakah dia stress lantaran menikah denganku, aku selalu kepikiran tentang segala ucapan Mitha saat itu.
Jujur saja, sebenarnya aku terluka oleh kejujurannya. Sebenci itukah Mitha terhadapku. Aku memang cowok brengsek. Aku tak tahu bagaimana harus bersikap manis untuk membujuk Mitha. Cewek adalah makhluk yang teramat rumit bagiku untuk di pahami.
Mungkin itu sebabnya Arumi pergi meninggalkan aku, karena baginya aku adalah kekasih yang membosankan. Aku tahu bukan lantaran ingin meraih cita-cita alasan utama Arumi memutuskan diriku dan pergi ke Jepang saat itu. Tetapi karena dia telah memiliki seorang yang lain di hatinya. Arumi berselingkuh dengan Kevin, seseorang cowok dari masa lalunya yang hadir kembali ke dalam kisah cinta kami.
Yah, tanpa sepengetahuan Arumi, aku meminta seseorang untuk mengawas segala sepak terjang kekasihku itu. Aku tahu kepergian dia ke jepang bukan murni untuk mengejar cita-citanya, tetapi untuk bisa bersama Kevin yang kebetulan saat itu sedang berkuliah di Jepang.
Itulah sebabnya aku sangat membenci Arumi. Memang benar aku belum bisa sepenuhnya melupakan Arumi. Aku belum bisa melupakan pengkhianatan yang Arumi lakukan terhadapku. Sayangnya, Arumi tak pernah mengetahui jika aku mengetahui dengan jelas pengkhianatan dan juga perselingkuhan yang dia lakukan. Rasanya sakit sekali, dan rasa itu tak pernah hilang di hatiku. Sejak itu aku menjadi trauma untuk berpacaran.
Itulah sebabnya aku memutuskan untuk memilih menikahi Mitha. Sejujurnya, sejak pertama melihatnya malam itu, aku jatuh cinta padanya. Cewek itu walaupun tidaklah secantik Arumi tapi memiliki aura yang mampu membuat aku tak berkedip saat melihat nya. Aku tak bisa lupa betapa indahnya bola mata bulat cantik itu saat menatapku walaupun hanya sesaat saja.
Aku berharap, cinta bisa tumbuh seiring waktu kebersamaan kami. Baik itu di hatiku maupun di hati Mitha. Itulah sebabnya aku nekat menawarkan kawin kontrak dengannya. Dengan iming - iming kebebasan jalannya untuk meraih cita-cita, aku akhirnya bisa memiliki cewek itu.
Mengenai alasan aku memintanya untuk mengambil cuti kuliah. Sebenarnya aku tak bermaksud untuk mengingkari janji seperti yang diucapkan Mitha pada saat itu.
Sejujurnya aku hanya khawatir tentang kondisi kandungan Mitha. Untuk itulah aku memintanya untuk mengambi lcuti kuliah.
Namun seperti yang aku duga, Mitha menolak mentah - mentah usulanku yang memintanya untuk cuti kuliah. Malahan, dia menuduhku mengingkari janji dan kesepakatan yang telah kami buat bersama.
Sebenarnya bukan tanpa alasan aku memintanya untuk mengambil cuti kuliah. Dokter Indar menginformasikan tentang adanya sedikit masalah pada kandungan Mitha. Menurut dokter Indar, kandungan Mitha sangat lemah dan rentan mengalami keguguran. Selain itu, posisi rahim Mitha yang terlalu turun ke bawah akan membuat dia akan sering mengalami kram dan juga tegang jika mengalami tekanan atau kelelahan saat beraktivitas. Itulah alasan mengapa aku memutuskan untuk meminta Mitha agar cuti kuliah. Aku takut jika terjadi sesuatu pada kandungan Mitha. Jika hal itu sampai terjadi, bukan hanya mommy dan papa aku yang bakal menyalahkan aku, tetapi juga seluruh dunia akan menyalahkan diriku yang tak bisa menjaga istriku dengan baik.
Itulah sebabnya aku sangat panik dan juga takut saat malam itu Mitha berteriak minta tolong dan kemudian jatuh tak sadarkan diri. Aku takut terjadi sesuatu pada kandungan Mitha. Karena panik, tanpa sadar aku membawa Mitha ke rumah sakit tanpa mengenakan celana panjang dan alas Kaki.
Untung saja mang Diman mau berbaik hati membawakan aku celana panjang dan juga sepatu, lengkap dengan jaket untukku. Sepanjang malam aku terus terjaga sampai menjelang pukul tiga. Karena lelah, tanpa sadar akhirnya aku tertidur di sisi Mitha. Baru beberapa saat aku terlelap, seseorang menyentuh lenganku. Aku langsung terbangun dan mendapati tangan Mitha yang berada di atas kepalaku. Sepertinya dia ingin mengambil sesuatu tapi terhalang oleh posisiku yang sedang tertidur di sisinya.
Dapat kuhirup, bau harum tubuhnya saat berada di dekatku. Jantungku berdebar - debar. Aku langsung bertanya apa yang dia inginkan. Aku melakukan semua itu hanya sekedar untuk menutupi kegugupanku saja.
Aku juga sempat melontarkan perkataan yang mungkin saja membuat Mitha langsung berubah kesal. Bagaimana tidak, saat itu aku mengatakan bahwa yang dia lakukan sangat menyusahkan. Aku tahu, mungkin saja dia tersinggung. Sebenarnya aku juga menyesal mengucapkannya. Tapi karena aku masih kesal, karena mengingat pertengkaran kami tadi, maka jadilah mulutku kembali mengeluarkan kata - kata jutek.
Namun, aku benar-benar shock ketika sebuah pertanyaan tak sengaja aku lontarkan kepada Mitha. Saat itu aku bertanya padanya apakah dia stress karena menikah denganku..?
Jawabannya benar-benar membuat harga diriku sebagai laki-laki dan juga suaminya sangat terluka.
__ADS_1
Bukan itu saja, dia menuduhku yang berniat ingin menggugurkan bayi kami. Aku sampai terkaget-kaget dibuatnya.
Mana mungkin aku berpikiran sampai sejauh itu. Aku memang brengsek. Tapi aku masih punya hati nurani. Walau bagaimana pun, aku tak akan tega untuk melakukan semua itu. Di samping itu, aku tak menampik jika ada perasaan sayang di hatiku untuk calon anakku selain rasa sayangku pada ibunya.
Aku semakin terpukul saat dia mengatakan bahwa jika dia mengalami keguguran, hal itu justru lebih baik buat kami. Karena dengan begitu, perceraian kami akan semakin cepat terjadi. Jadi aku dan dia bisa sama-sama terbebas dari ikatan.
Aku sangat tersinggung mendengar ucapannya. Cewek itu sungguh gila. Otaknya sudah dikotori oleh prasangka dan kebencian hingga tak mampu lagi melihat segala sesuatu dengan baik.
Tak mau berlama-lama di sana. Aku memutuskan untuk segera pergi meninggalkan ruangan Mitha. Pusingku kian bertambah rasanya jika berada di dekat Mitha. Lagi pula, tuh cewek sudah mengusirku. Jadi sekalian saja aku pergi.
Lebih baik mengalah, dari pada Mitha kembali pingsan karena keram perut atau lebih parah lagi, bisa saja dia mengalami pendarahan yang nantinya bakalan berakibat fatal bagi calon bayi kami.
Sebenarnya aku tak benar-benar pergi. Aku hanya pindah tempat ke ruangan tempat dokter muda biasa beristirahat dan memilih beristirahat di sana.
Untung saja Mitha tak lama berada di rumah sakit. Hanya sehari saja. Setelah mengantar Mitha, aku langsung kembali ke rumah sakit. Di sana, aku lebih banyak menghabiskan waktu selama beberapa hari belakang ini. Aku ingin memberi jarak dulu pada hubungan aku dan Mitha agar dia mampu berpikir jernih dan tidak marah - marah lagi. Siapa tahu saja dengan begitu, dia mulai sadar dan bisa membuka hatinya untukku.. ( Hahaha, ngarep kamu, tong.. !!)
Namun hari ini, sepertinya aku harus menelan kembali kata - kataku untuk menjauhi Mitha dan memberi jarak pada hubungan kami. Karena saat berada di parkiran mobil, aku tanpa sengaja bertemu Gadis dan juga Edo. Gadis menanyakan padaku tentang alasannya mengapa Mitha tak pernah masuk ke kampus atau ke rumah sakit.
Aku langsung menjawab dengan jutek bahwa saat ini Mitha sedang cuti kuliah. Setelah mengatakan itu aku langsung pergi meninggalkan mereka. Jengkel rasanya jika bertemu dan melihat wajah Edo. Yang kuingat terakhir kali kamu bertemu, kami terlibat adu jotos di tempat umum.
Namun, emosiku serasa meluap saat melihat mobil Gadis terparkir di depan rumahku dan kulihat Edo, cowok itu sedang mengawasi Mitha dan Gadis
yang sedang berbicara. Diam - diam aku mendekati mereka. Aku semakin kesal mendengar perkataan Edo yang menegaskan bahwa dia bersungguh - sungguh ingin menikahi istriku selepas kami bercerai. Padahal saat itu Mitha sudah memintanya untuk tidak melanjutkan topik itu lagi.
Aku semakin maju mendekati ketiganya dan dapat melihat semakin jelas betapa Mitha yang terlihat jengah dan salah tingkah saat berhadapan dengan Edo.
"Tapi, Mit. Aku serius tentang semua perkataanku tempo hari Aku bersedia menikah denganmu selepas kata talak darinya." jawab Edo lagi dengan sorot mata memelas.
" Edo, cukup..... ?? "pinta Mitha memelas.
" Tapi, Mit....... "
"Aku rasa jawaban istriku sudah cukup jelas saudara Edo.. Sebaiknya anda tak memang perlu repot - repot untuk mengurus segala keperluan istriku karena aku lebih dari kata mampu dan bisa untuk mengurus semua yang dibutuhkan oleh istriku... "
__ADS_1
" Fatan.. "
Mitha dan Gadis saling berpandangan setelah mengetahui kehadiranku di sana.
Sedangkan Edo, cowok itu terlihat tenang dan seolah tak terpengaruh oleh kehadiranku. Aku semakin bertambah kesal dibuatnya.
Aku melihat senyum mengejek yang terlontar dari sudut bibirnya setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulutku.
" Kamu memang memiliki segalanya sebagai seorang pria. Dan aku yakin, Mitha tak akan kekurangan apapun juga saat menjadi istrimu. Aku salut untuk itu. Kemampuanmu tak diragukan lagi. Tapi satu hal yang membuat kamu lupa, bahwa Mitha tak membutuhkan semua itu. Yang dia butuhkan adalah cinta dan kasih sayang. Dan sayangnya aku ragu, apakah kamu bisa memberikannya.... "
Bug....
Bug.....
Aku tak dapat lagi mengontrol diriku. Sialan, cowok itu butuh kuhajar lagi biar sadar diri siapa sebenarnya suami Mitha.
Edo jatuh tersungkur ke tanah selesai berbicara oleh hantaman bogem mentah yang dilayangkan olehku.
" Fatan, cukup. Hentikan..!! " Aku mendengar suara Mitha yang berteriak mencegah agar aku tak kembali memukul Edo. Namun, justru hal itu membuat emosiku semakin bertambah. Aku merasa Mitha berbuat seperti itu bukan lantaran ingin mencegah aku berbuat lebih jauh lagi, tapi lebih kepada ingin melindungi bajingan itu.
" Kamu ingin membela bajingan itu, HAH..? " bentakku.
Mitha terlihat salah tingkah karena mendengar bentakkan dariku. Dia langsung berlari ke dekatku.
" Kak, aku mohon.... " Mitha menatap ke arahku lalu kemudian menoleh ke arah Edo dan Gadis.
" Kalian berdua, aku mohon pulanglah. Aku juga minta maaf atas sikap Kak Fatan." ujarnya sambil bersedekah tangan di depan dada. Sikapnya sangat memelas sekali.
" Kamu tak perlu minta maaf kepada kami, Mitha. Aku rasa memang suamimu pantas dikasihani karena dia memang kekurangan kasih sayang. Jadi wajar saja sikapnya sangat kasar dan arogan sekali... " jawab Edo sambil melangkah pergi karena tangannya sudah keburu di tarik Gadis.
Aku yang masih emosi kembali lagi menjadi naik pitam karena mendengar jawaban Edo tadi. Tapi sebuah pelukan menahan gerak tubuhku. Mitha memeluk tubuhku dengan erat. Apa yang terjadi..? Benarkah apa yang kualami..? Mitha memeluk tubuhku dengan erat.
" Kak Fatan, jangan marah lagi..! Aku mohon..... " bisiknya masih berada di dalam pelukanku.
__ADS_1
Aku terdiam, seketika amarahku hilang entah kemana. Sebagai gantinya, aku hanya bisa membalas pelukan Mitha dengan erat. Tanpa sadar aku juga mengecup pucuk kepalanya berkali-kali.
" Maafkan aku..... "