Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 76 Masa lalu Edo


__ADS_3

Oh, iya. Satu lagi yang hal ingin saya tanyakan kepada saudara Fatan. Apakah anda mengenal cewek ini..? "


Agra memperlihatkan sebuah Foto melalui handphonenya. Foto Arumi.


" Tentu saja saya mengenalnya. Kami dulu sempat menjalin hubungan khusus sebelum dia kemudian mengkhianati saya dan pergi ke Tokyo."


"Apakah saudara Fatan sudah tahu bahwa dia juga adalah saudara sepupu Axel... "


Bukan main terkejutnya Fatan saat mendengar halnya itu. Dia sungguh tak menyangka jika Axel adalah sepupu Arumi, mantan kekasihnya.


Selama ini Fatan memang tak pernah mengenal keluarga Arumi secara dekat. Terlebih setelah mereka putus. Fatan berusaha keras untuk melupakan Arumi setelah cewek cantik itu mengkhianati cintanya dan memilih Kevin.


...----------------...


Sementara itu, Edo sedang kesal karena dia terpaksa harus menunda malam pertama bersama Queen. Saat ini Queen sedang kedatangan tamu bulan alias halangan.


Edo meringis sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal. Apes gue, pikir Edo. Malam pertama yang dia bayangkan bersama Queen mereguk manisnya madu cinta terhalang oleh tamu tak diundang. Rencana Edo untuk menjebol gawangnya Queen tak kesampaian.


Sedangkan Queen, senyum - senyum sendiri sambil melirik ke arah Edo. Aman, pikir Queen. Queen bersyukur karena tamu bulanannya mendadak datang tepat saat acara ijab qabul di mulai. Queen bisa bernafas lega untuk saat ini karena dia terhindar dari kewajiban melaksanakan sunah rasul bersama Edo. Jujur saja, dia belum siap untuk melaksanakan kewajibannya sebagai istri.


Tentu saja Edo, suaminya kesal sekali. Namun si Edo tak bisa berbuat apa - apa. Akhirnya dia memilih tidur.


Tak terasa sudah seminggu pernikahan Edo dan Queen berlalu. Selama itu, Edo lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit ketimbang di rumah papanya. Hal itu membuat Queen merasa tidak enak sama papa dan mama mertuanya.

__ADS_1


Dia tak tahu apa yang menyebabkan Edo bersikap seperti itu kepada kedua orang tuanya. Edo terkesan seolah-olah menjaga jarak dengan Pak Pramono, papanya. Terlebih pada mama tirinya.


Karena sikap Edo tersebut, akhirnya Queen memutuskan untuk memilih tinggal di apartemen Edo dari pada tinggal di rumah papa mertuanya.


Queen merasa tidak betah berada di tengah - tengah keluarga besar Pramono. Apalagi sikap Edo kepada mama tirinya yang masih saja tidak bersahabat. Lelaki itu seolah-olah memendam kebencian terhadap mama tirinya tersebut.


"Melamun...? " tanya Edo. Lelaki yang sudah seminggu ini menyandang status sebagai suaminya itu sedang menatap Queen.


Saat ini mereka berdua sedang memasak bersama. Hari ini adalah hari pertama Queen tinggal di apartemen Edo. Edo ingin merayakannya bersama sang istri. Hitung - hitung sebagai perayaan untuk menyambut kedatangan sang istri.


Sengaja tadi sore dia pulang cepat. Dokter tampan itu menjemput istrinya di tempat kerjanya atas permintaan Queen yang minta di jemput. Mereka kemudian pulang bersama ke rumah Edo untuk mengambil pakaian Queen yang masih di rumah Edo. Sekalian mereka juga mau berpamitan pada papanya Edo.


Awalnya papanya Edo merasa keberatan dengan rencana Queen. Dia menginginkan agar Queen dan Edo tinggal di rumah besar saja.


Queen menggelengkan kepala. " Tidak, aku hanya sedang memikirkan, kakak. " jawab Queen.


" Aku, memangnya kenapa dengan aku?" tanya Edo heran.


" Aku penasaran, apa yang membuat kakak memasang jarak dengan papanya kakak, terlebih lagi dengan mama...? Apakah begitu besar salah Papa padamu, Kak...?" tanya Queen.


Gerakan tangan Edo yang sedang memotong sayuran mendadak terhenti. Dia menatap ke arah wanita yang menjadi istrinya itu lekat - lekat.


"Jadi masalah itu rupanya yang mengganggu pikiranmu ?" ucapnya dengan nada sinis dan dingin. Lalu meletakkan pisau di tangannya dan berlalu pergi.

__ADS_1


Queen terperanjat. Astaga.... dia tak menyangka akan akan mendapat respon yang demikian. Sebegitu benci kah Edo pada papanya dan juga mama tirinya.


Bergegas Queen mendatangi suaminya yang kini sudah mengurung diri di dalam kamar. Tampak Edo sedang berdiri menatap keluar jendela kamar.


" Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan kakak. Aku tidak tahu jika membicarakan hal itu dapat membuat kakak merasa tak nyaman... "


Hening...


Tak ada jawaban dari lelaki itu. Akhirnya Queen beranjak pergi meninggalkan kamar Edo.


"Papa melupakan aku dan Ibuku karena perempuan itu? Mamaku akhirnya bunuh diri karena tak tahan dengan perlakuan papa yang tidak pernah ada untuk kami. Melihat Papa dan juga wanita itu, akan selalu mengingatkan aku pada mama aku dan juga pengkhianatan papaku." kata suaminya itu dengan suara parau. Tampaknya sekali dia seperti sedang menahan emosi yang sangat ingin dia tumpahkan. Tubuh Edo sampai bergetar.


Queen menutup mulutnya. Dia tak tahu kelamnya masa lalu lelaki yang menjadi pendamping hidupnya itu.


Queen jadi menyesal mengapa tadi dia keceplosan mengutarakan isi hatinya.


Padahal tadi dia hanya bertanya alasan mengapa lelaki itu terkesan jika menjaga jarak dengan papanya dan juga mama tirinya. Dia tak menyangka bahwa itu ternyata adalah hal yang sangat sensitif untuk dibahas.


Queen langsung berbalik dan menghampiri Edo. Dipeluknya lelakinya itu dengan perasaan yang tak menentu. "Maafkan aku, maafkan aku... " ucapnya lirih.


Edo membalas pelukan Queen. Keduanya saling berpelukan untuk beberapa saat.


Entah siapa yang memulai, bibir keduanya pun menyatu dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2