
Aku jadi gelabakan dibuatnya. Gak menyangka jika es balok itu bisa sampai melakukan tindakan yang ekstreem seperti tadi.
Dengan marah aku mendorong paksa tubuh Fatan hingga terjengkang ke belakang. Malangnya, karena terlalu keras mendorong, akibatnya tubuh aku juga ikutan jatuh menimpa tubuh Fatan.
Tubuhku berada persis di atas tubuh Fatan dengan posisi saling berhimpit. Sejenak kami berdua saling pandang.
Mendadak pintu terkuak dan kepala mommy Amel menyembul dari balik pintu.
" Ada apa sih, kok...... " suara mommy Amel terhenti saat melihat posisi kami berdua.
" Astaga... FATAN...! Kalo mau bermesraan itu, mbok ya pintunya dikunci, kek...." protes mommy Amel sambil kembali menutup pintu. Aku hanya bisa melongo mendengar protes mommy Amel sementara Fatan hanya memasang wajah datarnya.
Sepeninggal mommy Amel, aku segera menggeser posisi tubuhku dari atas tubuh Fatan. Aku sangat malu pada mommy Amel dan juga pada si Es balok itu.
Sial..!!! Kenapa bisa sampai begini, sih, pikirku. Aku sangat malu saat mengingat ekspresi penuh arti dari tatapan mata mommy Amel. Entah apa yang dipikirkan oleh ibu mertuaku itu. Yang jelas, aku seperti tak punya muka lagi rasanya jika bertemu mommy Amel.
Apa nanti kata mommy Amel. Bilangnya diperkosa, Nggak sudi diajak nikah, tapi kenyataannya yang terlihat tadi seperti akulah yang bertindak lebih agresif....
HAISS....!!! Aku sampai memukul - mukul kepalaku karena kesal dan juga malu.
" Ini semua gara-gara kamu..! " sergahku dengan sewot sambil menatap Fatan dengan sorot mata yang seakan ingin menelan habis cowok tengil itu.
Melihat dia, bawaannya pengen marah terus. Apalagi jika melihat tampang tengil dan dingin itu jika sedang tersenyum menyeringai dan mengejek. Rasanya ingin kumakan hidup - hidup. Apa mungkin karena pengaruh bawaan bayi, atau memang dasar akunya yang sudah benci banget sama tuh bocah.
" Nggak sampe begitu juga, kale. Biasa aja. Lagipula, itu adalah hukuman dariku karena sudah berani melawan perkataanku." ujarnya santai.
" Kau...! Andai saja kamu tak memulainya lebih dahulu dengan semua omong kosongmu itu, semua ini nggak bakalan terjadi. Kini, pasti mommy kamu berpikiran aku ini wanita yang agresif dan murahan sekali." kataku dengan emosi.
Dia terkekeh mendengar ucapanku. Lalu dengan nada mencemooh dia berkata.
"kita ini suami istri, nggak ada yang bakal marah sekalipun kita ketangkap basah main kuda - kudaan" katanya sambil menepuk jidatku.
Aku melotot ke arah Fatan. Bisa - bisanya dia ngomong seperti itu. Lagian, tadi dia bilang main kuda - kudaan? Idihh......Kuda lumping kecebur got, kali... !!!
__ADS_1
" Sudah malam, tidurlah...! Kamu tidur di sana, dan aku tidur di sini. " tunjuknya pada kasur spring bed lalu beralih ke sofa.
" Nggak usah, aku tidur di sini saja. Kamu yang disana. Lagian, ini kan, kamar kamu.. " bantahku karena merasa tidak nyaman jika harus tidur di kasur itu yang jelas - jelas milik Fatan.
" Mitha, aku tadi bilang apa? Jangan membantah suamimu, atau mau aku hukum lagi dengan cara seperti tadi..?" ujarnya lagi dengan wajah dingin dan datar.
Aku melempar tatapan protes. Tapi sudah keburu di sambut dengan tatapan dingin Fatan.
Akhirnya akupun mengalah dan tidur di kasur. Percuma saja melawan. Nggak ada habisnya berdebat dengan es balok, tetap nggak bakalan menang.
Sekarang aku baru tau, jika ternyata Fatan itu punya sifat otoriter dan dingin. Entah dapat dari mana..? Dari Papah mertua atau mommy. Tapi kalau mommy, aku meragukannya. Karena aku sudah melihat bagaimana sikap mommy Amel padaku.
Setelah Mitha tidur, Fatan kemudian juga ikutan tidur. Namun sebelum tidur, dia mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur.
Dia menatap Mitha yang kini sudah lelap tertidur. Dia menggeleng - gelengkan kepala ketika menyadari selimut yang dipakai Mitha tersingkap sehingga menampakkan bagian paha cewek itu yang putih mulus.
Sialan.... Umpat Fatan dalam hati ketika dia merasakan batang juniornya mengeras. Dia adalah laki-laki normal. Sudah tentu dia akan terangsang saat melihat pemandangan yang begitu indah terpampang di depan mata.
Setelah menarik dan memperbaiki selimut yang dipakai Mitha. Fatan kemudian memandang wajah sang istri yang cantik alami tanpa polesan make up. Tanpa sadar tangannya membelai wajah dan rambut Mitha yang panjang tergerai.
" Cantik... " gumannya nyaris tak terdengar. Lalu...
Cup....
Fatan mencium kening Mitha dengan lembut. " Selamat malam, Mitha." bisiknya lembut.
...----...
Pernikahan Fatan dan Mitha sudah berjalan satu bulan. Tak ada yang berubah. Baik Fatan maupun Mitha sama-sama masih menjalankan kegiatan masing-masing di rumah sakit yang sama dan juga kampus yang sama.
Fatan menepati janjinya untuk membuat Mitha tetap bisa kuliah dan menjadi dokter muda atau Co-*** istilah kerennya. Kesibukan mereka berdua di kampus dan rumah sakit membuat keduanya lebih sering berada di rumah sakit ketimbang di rumah.
Kini kandungan Mitha kini sudah memasuki usia tiga bulan. Tak ada yang berubah. Dia masih mengalami morning sickness dan sangat alergi terhadap bau harum parfum Gadis. Tetapi sangat menyukai aroma dan bau khas obat - obatan dan antiseptik.
__ADS_1
" Pagi, mbak Mitha. Nih... ada titipan dari seseorang. " seru Adisty, salah seorang perawat yang bertugas hari ini. Dia menyodorkan sebuah bungkusan kepadaku.
" Dari siapa..? " tanyaku bingung.
" Dari co - *** Edo..! " jawabnya santai.
Deg.....
Jantungku seakan berhenti berdetak.
Setelah sekian lama tak terlihat, cowok itu akhirnya kembali. Untuk sesaat, Mitha lupa akan statusnya yang kini menjadi nyonya Fatan.
Dengan gembira, dia membuka isi bungkusan dari Edo. Ternyata isinya manisan kesenangannya. Edo ternyata masih mengingat apa yang menjadi kesukaan dirinya.
Lalu kemudian, Mitha tertegun saat menyadari bahwa kini dia tak pantas lagi untuk menerima segala kebaikan Edo. Karena status dirinya yang kini sudah berubah. Dia bukan lagi Mitha yang dulu.
Mendadak semua kegembiraan itu lenyap. Dia tertunduk lesu memandangi manisan yang teronggok di atas meja.
Hal ini tak luput dari perhatian Adisty. Perawat cantik itu mendekati Mitha. "Ada apa, Mbak Mitha? Kok lesu? Nggak suka, ya? "
Aku hanya menggeleng lemah. Tanganku bergerak merapikan bungkusan tadi dan menyimpannya di dalam laci meja kerjaku.
" Mbak Mitha, dipanggil dokter Rendi untuk berkumpul di ruang breefing. Hari ini ada pasien operasi pencangkokan hati pada pukul sepuluh. Kata beliau, semua assisten dokter diminta berkumpul di tempat biasa." kata Suster Dela.
Aku mengangguk dan kemudian berpamitan pada kedua perawat itu sebelum keluar menuju ruang breefing.
Pada saat membuka pintu, tak sengaja aku bertubrukan dengan seseorang.
" Mitha.... " sebuah suara yang sangat kukenal langsung menyapa gendang telingaku.
Aku mendongak untuk memastikan pendengaranku.
Mataku langsung menangkap sosok yang lama tak kulihat batang hidungnya. Terakhir kali aku melihatnya kurang lebih satu setengah bulan yang lalu.
__ADS_1