Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 11 Malam Pertama


__ADS_3

"Kamu sudah mandi? "


Suara Fatan mengejutkan aku yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aku sampai terjengkit kaget karena tak mengira akan kehadiran cowok itu di kamar ini ( maksudnya kamar kami, hehehe).


Buru - buru aku memperbaiki handuk yang kupakai karena rasanya tidak cukup lebar untuk menutupi seluruh aset tubuhku. Aku sangat risih saat tatapan mata Fatan ******* habis seluruh tubuhku.


Aku lupa, jika kami sudah suami istri. Tentu saja dia bebas keluar-masuk kamar ini karena memang kamar ini adalah juga kamarnya.


Niatku untuk mengganti baju di kamar urung kulakukan. Aku berjongkok untuk membuka koper milikku yang isinya adalah baju - bajuku. Rencananya aku akan ganti baju di kamar mandi saja.


Tapi, loh....


Bajuku hilang semuanya.....


Astaga..... siapa yang telah mengambil semua baju - bajuku?


Melihat aku yang terlihat kebingungan,


Fatan bergerak mendekatiku dan bertanya."Kamu lagi nyari baju kamu, ya?"


" IYA,.. " jawabku singkat dengan muka yang dipasang kesal. Bodoh...... !!!


Pake nanya lagi. Bukankah sudah jelas terlihat kalau aku sedang mencari bajuku, bukan lagi nyari emas, pikirku kesal.


" Oh, itu. Tadi mommy sudah nyuruh Bi Asih buat mindahin semua baju kamu ke lemari. Jadi sekarang, baju kamu ada di lemari itu." tunjuknya pada lemari besar yang terletak di kamar ganti.


Bergegas aku mendatangi tempat itu. Benar saja, semua bajuku sudah tersusun rapi di sana. Dan ada juga beberapa tambahan baju - baju kurang bahan dan tipis mirip saringan tahu. Aku bergidik ngeri membayangkan diriku jika memakai baju - baju kurang bahan itu.


Aku kemudian mengambil daster kaos kesukaanku dan segera ku pakai. Rasanya nyaman sekali. Aku memang suka memakai daster jika berada di rumah saja. Namun aku lebih menyukai memilih daster yang terbuat dari bahan kaos dari pada yang berbahan kain karena di samping bahannya sangat lembut juga agak awet ketimbang daster yang berbahan kain.


" Sudah selesai....? "


" Awww.......!" aku berseru kaget. Ternyata Fatan sudah berdiri di belakangku. Cowok itu memandang aku dengan sorot mata aneh.


Sejak kapan cowok itu berada di sana. Aku langsung was - was. Apakah tadi dia sempat melihat ketika aku melepaskan handuk dan memakai baju? Jika iya, waduhhhhh......


"Jangan pikir yang bukan - bukan. Aku juga baru saja masuk. Aku hanya mau memastikan apa kamu sudah menemukan bajumu." Fatan menunjuk dahiku seolah - olah tahu apa yang aku pikirkan. Fatan menjelaskan kepadaku sangkalannya atas semua tuduhan - tuduhan negatif di otakku.

__ADS_1


Aku tak beraksi atas penjelasannya. Malahan aku melongos saat melewatinya. Malas juga meladeni Fatan. Sikapnya yang acuh tak acuh dan jauh dari kesan hangat adalah salah satu faktor yang menyebabkan aku enggan untuk berinteraksi dengannya.


Lagi pula aku terlalu malas untuk berbicara saat ini karena rasa lelah dan kantuk yang sudah mulai menjalari diriku. Aku pun langsung mengambil selimut dan bantal lalu merebahkan diri di sofa yang terdapat di kamar kami, lebih tepatnya kamar Fatan.


Namun baru saja aku berniat memejamkan mata, kembali cowok itu bersuara.


" Bisakah kita bicara sebentar!"


Aku kembali membuka mata dan segera duduk di sofa. Ada apa, sih?


Raut wajah Fatan yang datar, terlihat semakin datar saja. Nih cowok kayak habis makan es batu satu kulkas. Dingin banget. Aku yang berada di sekitarnya juga malah ikutan dingin. Jadi kami dingin - dinginan.


" Mau bicara apa? " dingin, aku bertanya.


" Denger, aku nggak ingin dibilang manfaatin pernikahan ini. Tapi, bagaimanapun juga aku ini adalah suami kamu. Jadi mulai saat ini kamu harus mendengar dan mematuhi semua perkataan aku. "


" Tapi, aku.... " aku ingin mengatakan protes ketika dia mengatakan bahwa aku harus mendengar dan mematuhi semua perkataannya.


" Mitha, barusan aku bilang apa? " Dia langsung memasang wajah galak dan sok berkuasa. Nah, ini sudah mulai nggak benar. Ngajak berantem kalo begitu...!!!


Fatan tersenyum seraya menggeleng - gelengkan kepala. Dia lalu berjalan ke laci meja hias yang terletak di depan ranjang. Lalu menyodorkan sebuah kertas lembaran kepadaku. Surat perjanjian pranikah yang kami buat bersama.


" Baca kembali perjanjiannya, sayang..!"


Hah....dia panggil apa barusan? Sayang...? Pipiku langsung memerah.


Rasanya sudah dua kali dalam sejarah singkat perkenalan aku dengan Fatan dan rasanya sudah dua kali aku mendeƱgar dia memanggilku dengan sebutan itu.


Aku membaca dengan seksama butir- butir perjanjian yang kami buat bersama sehari sebelum pernikahan kami.


Dalam Perjanjian tertulis, bahwa jika pihak pertama dan Pihak kedua setuju untuk terikat dalam pernikahan dengan pihak kedua.


Kedua, bahwa pihak pertama, berkewajiban untuk menjalankan semua kewajiban - kewajibannya sebagai istri dengan baik. (Masalah kebutuhan ***, tidak termasuk. Ini akan di bicara jika masing-masing pihak menyatakan kesediaanya).


"Lihatlah,... pada point kedua, pihak pertama berkewajiban untuk menjalankan semua kewajiban - kewajibannya sebagai istri, bukan? " tanyanya dengan senyum smiriknya.


Mendadak rasa kantuk dan lelahku langsung hilang. Hatiku langsung merasa tak enak melihat senyumnya. Apa lagi yang akan direncanakan oleh bajingan kecil itu, pikirku.

__ADS_1


" Disitu hanya tertulis bahwa aku sebagai pihak pertama berkewajiban untuk menjalankan semua kewajiban - kewajibanku sebagai istri bukan untuk mendengar atau mematuhi semua perkataan dan perintahmu! " bantahku sengit.


Fatan hanya tersenyum mendengar semua bantahanku.


" Kamu lupa satu hal. Apa kewajiban seorang istri? " tanyanya kemudian.


Lama aku terdiam memikirkan jawaban atas pertanyaan Fatan. Kewajiban istri? Hah.....?! Apa Fatan ingin menuntut haknya malam ini?


Benakku sibuk bertanya - tanya.


Kembali Fatan menoyor jidatku.


." Kelamaan, mikirnya... "


" Bukankah kamu pernah bilang bahwa kamu nggak akan minta hak kamu jika aku tak bersedia... "


Sejenak Fatan menatapku, lalu tertawa terbahak-bahak. Aku pun bingung dengan sikap Fatan.


" Mitha,... Mitha.... Heran, yah. Sudah hampir jadi dokter ternyata masih bego juga." Fatan menggelengkan kepala lantas mengambil tempat duduk di sebelahku.


Aku beringsut agak menjauh, enggan dekat - dekat dengan Fatan. Takut Khilaf.... wayyowwww.


" Hei, dengar, Nona Nuve. Maksud aku adalah kewajiban untuk mematuhi atau mendengar perkataan dari suamimu. Bukan masalah aku ingin meminta hakku sebagai suami. Kamu ini, kenapa sih? Otaknu tak jauh - jauh dari hal itu. Atau... jangan - jangan, kamu ingin mengulang kembali apa yang pernah kita lakukan malam itu, heh? "


" Jaga bicaramu..!!!" semprotku tak terima. " Andai tidak karena temanmu yang menaruh obat tidur sialan itu, mana mau aku disentuh olehmu, cih...!!" bentakku sambil berdiri berkacak pinggang. Emosiku langsung meluap mendengar perkataan Fatan yang terkesan meledekku.


" Sstt..... pelankan suaramu, sayang. Nanti orang - orang di luar pada mendengar pembicaraan kita yang romantis ini.. " bisiknya sambil menarik kembali aku agar duduk di hadapannya.


" Biar saja mereka mendengar, aku tak peduli...!! " teriakku kalap. Aku sangat kesal dengan es balok tengil itu.


" Kalau kamu tak mau juga berhenti berteriak, maka aku akan..... " ancamnya seraya bangkit dari tempat duduknya.


" APA..?! Kamu mau menamparku? Tampar kalo berani. Aku malah senang kalo kamu sampai melakukan KDRT. Jadi aku langsung bisa melayangkan gugatan ce...... "


Belum lagi aku menyelesaikan ucapanku, bibir Fatan sudah menyumpal mulutku dengan ciumannya.


Astaga.........!!!!

__ADS_1


__ADS_2