
Hari ini Mitha sudah diperbolehkan pulang setelah selama seminggu dirawat di rumah sakit. Demikian juga dengan bayi mereka.
Mitha sedang berkemas-kemas ketika Gadis datang membantu. Gadis datang bersama Edo. Cowok itu sebenarnya sudah semenjak kemarin ngebet hendak bertemu dengan Mitha. Namun, Gadis selalu saja menolak dengan berbagai alasan.
Sebenarnya, ada banyak pertanyaan yang ingin dia sampaikan pada Mitha. Salah satunya, adalah perjanjian pranikah antara Mitha dan Fatan.
Dia ingin memastikan jika Mitha benar -. benar akan berpisah dengan Fatan, maka dirinyalah yang akan maju menggantikan Fatan.
" Kenapa wajah lo? Kusut macam baju tidak disetrika? Lagi berantem sama Edo? "
Gadis hanya mengangkat bahu sebagai tanda dia enggan untuk mengatakan apa yang dia rasakan. Mitha tahu sekali karakter Gadis jika sudah seperti ini, itu artinya cewek itu belum siap untuk diajak bicara.
" Mitha, bayi kamu mana. " serunya mengalihkan pembicaraan. Dirinya tak melihat adanya bayi di sisi Mitha.
" Bayi aku ada masih di ruang inkubator.... " kata Mitha. Matanya melirik ke arah Edo yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Entahlah, perasaannya jadi tak enak. Sepertinya Edo ingin mengatakan sesuatu. Mitha berdoa dalam hati semoga itu bukan seperti yang dia bayangan.
Akhirnya, kesempatan itu datang juga. Saat Gadis pergi ke ruang Inkubator untuk melihat Bayi Keanan, Edo tak menyia - yiakan kesempatan ini. Dia mendekati Mitha yang sedang sibuk mengutak-atik handphone miliknya.
"Mitha, aku mau bicara."
Perkataan Edo sukses membuat Mitha menghentikan kegiatannya mengutak-atik handphone. Kini pandangannya beralih kepada Edo yang tengah menatap dirinya. Jujur saja, saat ditatap oleh Edo seperti sekarang ini, hati Mitha rasanya berdebar - debar.
__ADS_1
" Bicaralah, aku mendengarkanmu. Apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan? " kata Mitha kemudian.
"Ini tentang hubunganmu dengan Fatan. Dan juga tentang isi perjanjian itu." kata Edo lagi.
Mitha Tertegun sejenak oleh perkataan Edo. Dia merasa seperti dipecut cemeti. Tersadar pada suatu kenyataan yang memukul telak dirinya. Perjanjian itu. Mengapa dia bisa melupakannya.
Dia baru menyadari isi perjanjian itu. Perjanjian yang menyebutkan bahwa Fatan akan melepaskan dirinya begitu anak mereka lahir. Itu artinya, Fatan akan segera menceraikan dirinya. Dan dirinya akan segera terbebas dari belenggu pernikahan ini.
Mitha jadi melamun sendiri. Haruskah secepat ini, pikirnya. Ada semacam perasaan tak rela jika harus berpisah dengan Fatan dan juga..........bayi mereka.
Astaga.....
Baru Mitha ingat, bahwa dia kini sudah memiliki bayi. Mendadak dia jadi gelisah sendiri. Bagaimana nanti dengan nasib anaknya itu seandainya Dia dan Fatan jadi berpisah. Apakah Dia juga harus kehilangan bayi kecilnya itu juga. Rasanya dia tak akan sanggup. Mengingat beberapa hari ini dia merasa sudah dekat dengan anaknya itu.
"Mitha, kamu belum menjawab pertanyaanku. " Edo kembali mengulang pertanyaannya. "Apakah kamu akan melanjutkan hubungan kamu dengan Fatan?"
Mitha hanya menggeleng lemah. Dia masih shock karena diingatkan oleh Edo akan status dirinya saat ini. Apa harus seperti ini jadinya. Apa tak ada jalan lain, jerit Mitha dalam hati.
" Aku masih tetap pada tawaranku semula jika kamu bercerai dengan Fatan, maka aku siap menggantikan posisi dia."
Edo masih saja mencoba membujuk Mitha yang mulai tampak goyah pada pendiriannya.
__ADS_1
Bukan tanpa sebab Edo berlaku demikian. Dia dapat melihat dari sorot mata Mitha yang menyimpan keraguan akan keputusan yang telah dia ambil.
" Edo, aku mohon, kita tidak usah membahas masalah ini dahulu. Aku tak tahu, kedepannya bagaimana. Tapi yang jelas, aku tàk bisa melepas tanggung jawab aku sebagai ibu dari Keanan."
Akhirnya kata - kata itu keluar juga dari mulut Mitha. Dia tak tahu, harus berkata apa lagi. Pikirannya sedang buntu. Dia tak menyangka cepat sekali perpisahan menghampiri mereka di saat dirinya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Fatan dan juga bayi mereka.
'"Baiklah, aku tak memaksamu untuk bertindak secepat itu. Aku hanya mengingatkan, soal hubungan kamu dengan Fatan. Maafkan aku, aku tak bermaksud membuat kamu bersedih."
Edo bermaksud hendak memeluk Mitha tapi dengan halus Mitha menepis. Dia sadar, dirinya masih lagi menjadi istri seorang Fatan. Dan dia berkewajiban untuk menjaga diri dan kehormatan suaminya selama dirinya masih terikat oleh ikatan suci pernikahan ini.
Edo hanya bisa menarik nafas panjang. Dia juga sadar. Ada batasan yang tak bisa dia langgar. Mitha masih menjadi milik Fatan. Selama laki-laki itu belum melepaskan Mitha, selama itu pula dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka. Orang itu adalah Fatan.
Fatan awalnya hendak masuk ke dalam untuk memberitahu Mitha bahwa semua sudah siap. Namun, semua urung dia lakukan karena melihat Edo yang mendekati Mitha dan berbicara pada istrinya itu.
Dia akhirnya memilih tidak jadi masuk dan hanya berdiri di belakang pintu mendengarkan pembicaraan dua orang itu.
Sejujurnya, hatinya juga terluka oleh perkataan Edo pada Mitha. Edo seolah menamparnya dan mengingatkan kembali dirinya bahwa dirinya harus melepaskan Mitha sesuai dengan isi perjanjian kontrak itu.
Apakah itu yang diinginkan oleh Mitha, pikir Fatan dalam hati. Tak adakah sedikit tempat di hati Mitha untuk dirinya dan juga bayi mereka. Kalau boleh jujur, Fatan tak menghendaki perpisahan itu. Dia ingin Mitha terus ada di samping nya.
__ADS_1
Tapi semua itu kembali pada Mitha. Karena dia tak bisa memaksakan pendapat nya. Dan lagi pula, dialah yang pertama kali menawarkan ide itu kepada Mitha.
Fatan memandang kosong pada taman bunga di depannya. Mungkin sebaiknya aku tak usah berharap lebih pada Mitha Dia berhak bahagia. Aku dan anak mereka akan menjadi penghambat cita - cita cewek itu. Bukankah sudah cukup pengorbanan Mitha selama ini. Dia tidak boleh egois dan mau menangnya sendiri. Mitha berhak menikmati hidup dan juga mengejar mimpi - mimpinya.