
POV Fatan.......
Sejak tadi, aku melihat Mitha seperti gelisah dan kesakitan. Berulang kali aku mencuri - curi pandang ke arah cewek itu dan aku yakin, Mitha seperti menahan sesuatu.Dia berulang kali memijit - mijit kepalanya dan menutup mulutnya. Apa Mitha sakit..? atau....?
Pikiranku mendadak berputar kembali kepada kejadian yang kami alami beberapa minggu yang lalu.
Jika dihitung - hitung sejak malam kejadian itu maka sekarang sudah hampir dua bulan.
Oh...****.!! maki Fatan dalam hati. Apa mungkin Mitha.....?
Bergegas Fatan mendatangi toilet dimana Mitha berada. Dia ingin menanyakan dan memastikan sesuatu yang menjadi dugaannya terhadap cewek tersebut. Dia berharap cewek itu dapat bersikap lebih lunak kali ini.
Tepat saat dia tiba di depan toilet, Mitha baru saja membuka pintu toilet. Wajah cewek itu terlihat pucat dan lemas. Begitu melihatku, wajah cewek itu semakin pucat. Dia juga terlihat gugup dan salah tingkah. Dugaanku semakin kuat. Ada yang tidak beres dengan Mitha dan aku harus mencari tahu apa itu.
" Apakah kamu baik - baik saja? " Aku yang tak sabar segera bertanya pada Mitha tentang keadaan cewek itu.
Diluar dugaan, Mitha malah menjawab dengan ketus sambil berlalu dengan tergesa-gesa.
"Memangnya aku kenapa? Apa aku terlihat sedang ada masalah? Lagi pula, apa masalahmu sehingga repot - repot bertanya tentang apa yang terjadi padaku? "jawabnya dengan ketus.
Aku sedikit terkejut dengan jawaban Mitha. Walaupun sebenarnya aku sudah bisa menduga bagaimana sikap cewek itu kepadaku, tapi tetap saja aku tak menyangka akan mendapat jawaban ketus dari cewek itu.
Wajahku langsung mengeras. Sontak, sebelah tanganku langsung mencekal lengan Mitha dan berbisik di telinga cewek itu.
"Tentu saja aku peduli, karena siapa yang tahu, di dalam rahimmu sudah tumbuh calon anak - anakku...... " bisikku di telinga Mitha sambil tak lupa pula aku menggigit pelan daun telinganya.
Plak......
Tangan Mitha tanpa sadar sudah melayang di wajahku.
__ADS_1
Aku meringis mendapati pipiku yang terasa panas dan perih akibat tamparan cewek itu. Namun aku puas karena aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Tamparan Mitha sudah menjawab semua keingintahuanku tentang dirinya dan juga kondisi 'benih superiorku' yang berada di dalam tubuhnya.
Walaupun sudah ditampar oleh Mitha, tapi aku tidak marah pada cewek itu. Walaupun aku sempat terkejut tadi. Aku tahu dia melakukan itu karena kesal dengan ucapanku dan juga kelakuanku yang sedikit kurang ajar padanya.
Aku melempar senyum menggoda padanya.
"Terima kasih, sayang. Tamparanmu sudah menjawab semua dugaanku. Aku hanya minta satu hal, tolong jaga anak kita baik - baik. Tak lama lagi aku akan datang ke rumahmu.... " bisikku di telinga Mitha kembali lantas berlalu dari hadapannya.
Aku kembali ke ruangan tempat para dokter muda berkumpul dengan perasaan gusar. Duduk di sana dan mencoba untuk menenangkan diri.
Jujur saja, mengetahui kenyataan bahwa Mitha hamil menghadirkan berbagai perasaan di hatiku. Senang, bahagia, tapi sekaligus juga kesal dan takut. Mengapa sampai detik ini Mitha tak pernah mendatangiku dan meminta pertanggungjawaban padaku. Mengapa juga Mitha terkesan seolah - olah menyembunyikan perihal kehamilannya kepadaku?
Akhhh...... Aku kesal sendiri menyadari aku tak menemukan jawaban yang bisa memuaskan egoku.
...---...
Sementara itu Mitha yang baru saja mendapatkan perlakuan 'manis' dari Fatan tak hentinya memaki dan mengumpat cowok berwajah tampan itu. Mitha merasa kesal dan marah karena sikap Fatan yang terkesan mengejeknya. Semakin menggunung kebencian Mitha pada diri Fatan seorang.
Seperti saat di toilet tadi. Dia sungguh tak menyangka jika harus bertemu cowok itu di sana. Nyatanya Fatan sudah berdiri tepat di hadapannya
Cowok itu berdiri persis di depan pintu toilet. Tatapannya tajam menghujam tepat di manik mata Mitha yang berwarna coklat. Mitha jadi salah tingkah dan gugup seperti maling yang tertangkap basah sedang mencuri sesuatu. Tak ingin terjebak di sana bersama orang yang dia benci, Mitha bermaksud untuk buru - buru melangkah keluar toilet.
Namun baru saja dia melangkahkan kaki beberapa langkah, pertanyaan Fatan membuatnya berhenti.
"Apakah kamu baik - baik saja? "
Aku mengernyitkan alis tanda tak mengerti. Apa maksud pertanyaannya. Mengapa dia bertanya seperti itu. Apa terlihat sekali jika keadaanku sedang tidak baik - baik saja.
"Memangnya aku kenapa? Apa aku terlihat sedang ada masalah? Lagi pula, apa masalahmu sehingga repot - repot bertanya tentang apa yang terjadi padaku? "jawabku dengan ketus. Aku tak ingin cowok itu terus - menerus mendekatiku. Aku sangat membencinya.
__ADS_1
Wajah Fatan seketika mengeras mendengar ucapanku. Biar saja....Aku senang jika dia merasa marah atau tersinggung, agar dia tak dekat - dekat lagi padaku.
Tanpa terduga, sebelah tangan Fatan mencekal lenganku dan membisikkan sesuatu di telingaku.
"Tentu saja aku peduli, karena siapa yang tahu, di dalam rahimmu sudah tumbuh calon anak - anakku...... " bisiknya lalu menggigit pelan daun telinganya.
Tubuh Mitha gemetar menahan amarah saat mendengar ucapan dan tingkah laku Fatan yang baginya terdengar amat melecehkan dirinya.
Plak.......
Habis sudah kesabaranku. Tanpa sadar, aku menampar cowok kurang ajar itu.
Fatan meringis sambil mengusap bekas tamparanku di pipinya yang mungkin saja terasa perih dan panas.
Tapi anehnya, Fatan tidak marah atas tamparanku tadi. Yang ada, dia malah tersenyum menyeringai ke arahku.
""Terima kasih, sayang. Tamparanmu sudah menjawab semua dugaanku. Aku hanya minta satu hal, tolong jaga anak kita baik - baik. Tak lama lagi aku akan datang ke rumahmu.... " bisiknya seraya berlalu dari hadapanku.
Aku menyandarkan tubuhku di dinding. Ucapan Fatan benar-benar mampu membuatku menjadi cemas bercampur marah.
Bagaimana bisa cowok itu langsung menyimpulkan bahwa diriku hamil. Aku saja masih meragukan apa benar diriku sekarang ini hamil akibat peristiwa malam itu atau tidak. Setidaknya sampai hasil yang akurat sudah aku dapatkan barulah aku akan mempercayainya.
...-----...
Tangan Mitha bergetar memegang sebuah benda kecil yang di ujungnya bergaris dua tanda merah. Tubuh Mitha mendadak lemas . Matanya nanar memandangi test pack yang kini sudah terlepas dan jatuh dari pegangan tangannya.
Miris sekali. Tadinya dia ingin menolak untuk semua dugaannya dan juga tuduhan Fatan atas dirinya. Namun, dua garis biru yang tertera di ujung test pack itu sudah membuktikan semuanya. Mitha tak bisa menyangkall lagi. DIA HAMIL.!!!
Memikirkan hal itu, membuat Mitha semakin pusing dan stress. Dia tak bisa memberitahu semua ini kepada kedua orang tuanya. Dia tak sanggup membayangkan wajah kecewa bapak dan ibunya.
__ADS_1
Akhhh...... kalau sudah begini,, apa yang harus aku perbuat, pikir Mitha bingung.
Dia tak bisa membiarkan hal ini berlarut - larut. Jika memang dia benar-benar hamil maka hanya ada dua pilihan, menggugurkannya atau meminta cowok kurang ajar itu untuk bertanggung jawab sesuai janjinya.