
"Bingo..! Aku akhirnya bisa menemukan dirimu.... " desis Agra sambil menatap ke layar monitor laptopnya. Dia memperbesar sebuah gambar yang diambil dari CCTV di tempat itu dan gambar CCTV di dekat rumah Gadis. Ternyata memiliki kesamaan. Untuk itulah, Agra mengambil kesimpulan bahwa pelakunya adalah orang yang sama.
" Revan, siapkan mobilku. Aku mau keluar sebentar untuk menyapa seorang teman lama.?" katanya.
Mobil yang ditumpangi Arga melesat membelah jalanan ibukota yang mulai dipadati pengguna jalan. Tak berapa lama, mobil itu akhirnya sampai di depan sebuah apartemen. Suasana di apartemen itu terlihat sepi. Mungkin saja para penghuninya pada malas keluar untuk beraktivitas karena hari ini sudah menjelang siang.
Dengan dibantu Andra, Agra turun dari mobilnya dan berjalan memasuki Apartemen itu. Dia memilih menggunakan lift karena kakinya tak mungkin bergerak leluasa menaiki tangga. Kaki Agra masih sakit. Lift itu bergerak pelan membawa Agra dan Andra menuju ke lantai empat. Lima menit kemudian, lift itu sudah sampai di lantai yang di tuju. Suasana di lantai sama sepinya dengan suasana di bawah.
Kedua orang itu berjalan pelan menyusuri lorong di lantai empat apartemen tersebut dan saat tiba pada salah satu kamar yang terletak di ujung lorong, mereka berdua berhenti. Andra menatap ke arah Bosnya. Lelaki itu sejenak ragu. Apakah dia meneruskan niatnya atau tidak.
Akhirnya, Agra mengetuk pelan pintu kamar tersebut. Satu kali.... tok tok tok..
Tak ada Jawaban dari dalam kamar.
Kembali Agra mengetuk ulang kamar dengan nomor enam puluh tiga itu sekali lagi. Tetapi tak ada jawaban.
" Nggak ada orangnya kali, Bos.. " kata Andra.
"Mungkin juga. Atau barangkali dia sudah tidak tinggal disini lagi." jawab Agra.
"Bos kenal sama pemilik kamar ini? " tanya Andra.
Agra diam sejenak. Seperti mengingat - ingat kejadian yang lalu.
__ADS_1
"Cukup mengenal.... " jawab Agra ambigu.
Keadaan di dalam kamar itu cukup berantakan. Yah, Agra dan Andra memutuskan untuk nekat menerobos masuk ke dalam kamar tersebut.
Mereka berdua tahu, bahwa perbuatan mereka ilegal dan bisa dikenai sanksi. Namun bagi Agra, semua itu tak berarti. Dia ingin memastikan bahwa dugaannya benar.
Ruang tamu dan ruang tengah tampak aman - aman saja. Tak ada hal yang aneh yang mereka temukan di sana. Mereka kemudian bergerak untuk memeriksa ke dalam kamar tidur yang merupakan kamar pribadi.
Agra dan Andra berpencar untuk memeriksa tempat itu. Agra memeriksa laci dan juga lemari pakaian. Sedangkan Andra berkeliling ruangan untuk memeriksa tempat itu. Tiba-tiba pandangan mata Andra tertuju pada sesuatu.
" Bos, coba lihat kemari..! " katanya.
Agra mendatangi Andra untuk melihat apa yang ditemukan oleh supir pribadinya tersebut. Apa yang dilihatnya sungguh - sungguh membuat dia geram.
Di dalam laci meja, banyak sekali mereka temukan foto Gadis dan Mitha dengan berbagai pose. Bahkan ada beberapa foto gadis dan Mitha yang di buat dengan pose erotis dan sensual.
"Pelakunya memiliki fantasi **** yang berbeda terhadap kedua gadis itu. Pada Gadis dia sepertinya memiliki fantasi seksual yang mengarah pada kekerasan ****, sedangkan pada Mitha, dia memperlakukannya dengan lembut.. "
kata Andra.
Agra tak menggubris penjelasan Andra, kemarahannya sudah sampai di ubun - ubun. Bangsat, bagaimana bisa bajingan itu sampai membayangkan bercinta dengan Gadis nya dengan kondisi seperti itu. Benar - benar sakit jiwa. Pantas saja dia menganiaya Gadis . Ternyata Fantasi liarnya telah sampai sejauh itu.
...----------------...
__ADS_1
Sementara itu, di rumah sakit. Waktu menunjukkan Pukul 13.00. Gadis baru saja menyelesaikan makan siangnya ketika dokter Ahmad datang berkunjung bersama dua orang perawat. Dr. Ahmad yang adalah dokter yang menangani dan merawat Gadis.
" Siang, Gadis. Sudah makan?" kata dokter itu dengan senyuman ramah yang tak pernah lepas dari bibirnya yang tipis.
" Siang juga, dokter..Alhamdulillah baru aja selesai.. " jawab Gadis. Dia meletakkan mangkuk sup ayam bekas makannya tadi di atas meja dan mengambil minum.
Lima menit kemudian, dokter Ahmad terlihat sudah sibuk memeriksa Gadis. Dia memeriksa luka di perut dan juga di tangan Gadis. Tampaknya kedua luka itu sudah mengering meskipun belum sepenuhnya kering. Ada di beberapa bagian yang masih basah.
" Gimana, dok. Apakah saya sudah diperbolehkan pulang..? " tanya Gadis. Begini ternyata menjadi pasien, kata Gadis dalam hati.
Dia tidak betah berasa di tempat ini. Tempat ini terasa sepi dan membosankan.Tidak seperti di kampus atau di rumah sakit. Pasti seru dan rame, pikirnya. Tiba-tiba saja Gadis merindukan kampusnya dan rumah sakit tempat dia bekerja. Terlebih lagi pada dua orang sahabatnya Edo dan Mitha. Kemana mereka berdua. Sudah dua hari ini Dia tak melihat batang hidungnya mereka.
Kemudian Gadis teringat sesuatu. Ya ampun, ... Gadis menepuk jidatnya. Dia melupakan sesuatu. Kemarin sore dia menerima pesan dari Mitha bahwa hari ini Edo akan menikah. Nah,.. sekarang sudah siang. Berarti acara nikahannya sudah selesai sejak tadi.
Pantas saja Mitha tak datang kemari. Artinya Mitha sekarang sedang berada di acara pernikahan Edo. Gadis berdecak kesal. Dia ingin sekali datang ke pesta itu.
" Hmm, kita lihat saja besok. Sepertinya luka di perut kamu sudah lumayan kering. Jika tak ada komplikasi, besok kamu boleh pulang." kata dokter Ahmad.
Mata Gadis bersinar cerah saat mendengar ucapan dokter Ahmad. Akhirnya dia bisa pulang.
" Siapa bilang dia boleh pulang, Dok. Saya tidak memperbolehkan Gadis pulang. Kalau pun harus pulang, dia pulang ke rumah saya...! " kata Agra yang muncul secara tiba-tiba.
Mata Gadis membulat sempurna saat melihat Agra. Baru kali ini Gadis melihat Agra kembali.
__ADS_1
" Agra, kamu bisa berdiri....? "