
Brakk...!!
Pintu dibanting dengan keras, tubuh gadis mungil kira-kira tinggi 155 cm terbanting didorong masuk kedalam kamar toilet. Dia hanya bisa meringis menahan rasa sakit ditubuhnya begitu terjembab ke lantai.
"He ******... jangan coba-coba teriak minta tolong...aku tidak segan-segan melukai wajahmu yang sok imut itu ya!! "sahut Amira melotot pada gadis yang teronggok dilantai kamar toilet tersebut.
" Rasakan... itu akibatnya suka tebar pesona pada Anton!! "ujar Sani dari belakang punggung Amira.
" cuhh...!! "Lusi berludah didepan gadis yang terlihat mengenas kan itu.
Amira phonie,Sani Augustine dan Lusi Amber tiga cewek kampus senior yang ditakuti dikampus Sunkrila, kampus yang meng khususkan para muridnya untuk tinggal di asrama kampus.
Mereka tiga senior yang populer dikampus karena kecantikannya. Dan juga karena latar belakang mereka mempunyai orang tua terpandang dan terkaya di kota T.
Clara Stephanie gadis yang sebenarnya lebih cantik dari mereka bertiga hanya bisa meringis menahan sakit karena didorong sangat keras kelantai, dia diam saja tidak menjawab tiga gadis monster yang dianggapnya cemburu padanya.
"He... dengar ya, kalau kau coba tebar pesona lagi didepan Anton... jangan panggil namaku Amira... ingat itu, kau tidak pantas menjadi wanitanya Anton!! " ujar Amira tersenyum sinis.
Mereka pun meninggalkan Clara sambil tertawa mengejek.
Clara yang ditinggal hanya bisa menghela nafas, tak habis pikir dengan kelakuan tiga seniornya yang selalu merundungnya.
Berlahan dia bangkit dari lantai, terasa ngilu dibagian pinggul akibat benturan kelantai tadi. Dalam diam dia berusaha bangkit, dengan berpegangan disisi tembok kamar toilet.
Setelah berhasil berdiri Clara menyingkapkan bajunya untuk melihat rasa sakit dipinggul nya. Ada warna merah lebam disana.
Dia melihat penampilannya didepan cermin, sangat berantakan. Bajunya terlihat robek dibagian lengan dan dada karena tarikan tangan dari Amira , dan rambutnya yang acak-acakan akibat tarikan Lusi Amber.
__ADS_1
Clara mengelus pipinya yang terlihat merah karena tamparan Amira. Terasa pedih dan ngilu. Clara mencuci mukanya dan kemudian membetulkan rambutnya agar terlihat rapi lagi.
Clara melakukannya dalam diam, karena sudah terbiasa menghadapi seperti ini setiap hari. Dia harus bertahan, sebentar lagi sudah mau lulus dan dia akan meninggalkan kampus ini.
Clara memang satu angkatan dengan ketiga wanita monster tadi, tapi dia tergolong junior karena dia siswa pindahan kekampus Sunkrila di kota T.
Awal masuk saja sudah terlihat seniornya tersebut menaruh rasa tak suka padanya.
Clara gadis imut dengan tinggi 155 cm, tubuh yang ramping dengan kulit putih bersih. Rambut yang panjang tergerai indah, sangat sedap dipandang mata. Senyumnya yang menawan, membuat siapa saja pasti merasa terbuai oleh pesonanya.
Saat di usia 14 tahun pamannya sudah menganjurkan Clara untuk tinggal di asrama sekolah saja, agar bisa lebih fokus belajar dan tidak capek pulang pergi sekolah.
Saat disekolah menengah Clara dulu belum tinggal diasrama, dia selalu diantar jemput oleh sopir pribadi pamannya.
Dikarena kan pamanya akan meluaskan bisnis kedua orang tua Clara yang diwalikan kepada pamannya Alexander, terpaksa pamannya akan meninggal kan Clara.
Pamannya sangat super sibuk hingga jarang berkomunikasi dengan Clara, dia hanya fokus kerja dan kerja. Hingga hasilnya perusahaan peninggalan orang tua Clara meluas sampai keluar negeri. Pamannya memang orang yang kompoten dalam berbisnis. Apapun yang yang diusahakannya selalu berhasil.
Alexander bukan paman kandung Clara. Dia adik angkat ibunya yang di adopsi dari panti asuhan. Ibunya sangat sedih kala itu melihat kehidupan Alexander, waktu itu tanpa sengaja dilihat ibu, Alexander dipinggir jalan dengan sandal belel dan pakaian lusuh membeli makanan dipinggir jalan.
Ibu Clara dan tunanganya yaitu Ayah Clara sedang berhenti dilampu merah. Dan ibu mengusulkan ingin mengadopsi Alexander menjadi adik angkatnya. Ayah Clara setuju, karena dia pun merasa sedih juga melihat Alexander waktu itu. Kala itu Alexander masih sangat muda, usianya baru 12 tahun di adopsi ibu Clara. Saat pesta pernikahan Ibu dan Ayah Clara, Alexander muda jadi wali Ibu Clara mewakili kakek Clara yang sudah meninggal. Ibu Clara juga saat itu sudah yatim piatu.
Alexander tumbuh menjadi pria yang tampan dan maskulin. Dia sangat menyanyangi keluarga kakak angkatnya. Waktu kelahiran Clara dia sangat senang sekali. Dia selalu memanjakan Clara, menjaganya dan menyayanginya.
Bagi Alexander dalam hidupnya sekarang dan selama-lamanya hanya keluarga kakak kecilnya lah keluarganya. Merekalah hartanya yang berharga. Karena merekalah dia bisa merasakan cinta kasih sayang yang tulus.
Clara sangat mengagumi pamannya, pria impiannya adalah pamannya. Clara merasa kalau Pamannnya adalah pria ideal yang tiada duanya didunia. Gila memang kalau dipikir-pikir, entah sejak kapan Clara menyimpan rasa pada pamannya.
__ADS_1
Mungkin terakhir kali diusia 14 tahun rasa itu datang tiba-tiba dihatinya. Waktu itu terakhir kali setelah 5 tahun Clara tidak bertemu lagi dengan pamannya. Saat itu paman nya datang dari luar negeri setelah menyelesai kan bisnisnya, dia pulang ke kota D untuk melihat Clara. Dan menganjurkan untuk tinggal diasrama sekolah saja, segala keperluanya akan di penuhi oleh pamannya.
Pamannya tidak ingin Clara terlalu capek, kalau tinggal di asrama sepertinya lebih bagus dan bisa bergaul dengan teman seasrama.
Awal masuk asrama sekolah menengah atas semuanya berjalan lancar, tidak ada masalah.
Saat masuk asrama sekolah tinggi masalah pun datang. Hingga mengubah pribadi Clara menjadi gadis yang pendiam dan dewasa sebelum waktunya.
Saat terakhir kali Clara paman Alexander datang ke kota D, Clara sangat gembira sekali. Dia memeluk pamannya posesif melepas rindu. Alexander membalas pelukan Clara erat-erat. Dia juga merindukan ponakan nya itu setelah 2 tahun diluar negeri.
Clara melihat paman Alexander menjadi pria matang yang sangat tampan. Saat pertama setelah 2 tahun bertemu lagi, Clara berdebar-debar menatap pamannya. Wajah itu penuh berewok yang yang belum dicukur. Tubuh paman tampak semakin kekar, dan semakin tinggi. Saat Clara berdiri didepan pamannya, tinggi nya hanya sebatas dada pamannya.
"Paman.. rasanya paman kok semakin tinggi saja ya.. " ucap Clara waktu itu.
"Ha.. ha.. ha... " Alexander hanya tertawa terbahak-bahak kala itu mendengar kata-kata Clara.
Alexander lalu memeluk Clara gemas, dan Clara balas memeluk pamannya posesif.
Dalam hati dia berbisik, "Paman milik ku.. hanya milikku. "
Clara menekan dadanya menahan rasa sedih yang dideritanya selama ini. Dia menunduk menahan air matanya yang ingin jatuh. Memori ingatan akan pamannya membuat dia ingin menghamburkan dirinya kedalam pelukan pamannya. Menceritakan tentang kesedihannya.
Dan ingin memohon pada pamannya jangan lagi pergi meninggalkannya.
Bersambung...
Halo salam kenal...
__ADS_1
ini karya saya yang pertama..
semoga terhibur...