
Dengan pelan dan hati-hati Alexander mengelap wajah Clara yang berantakan dengan sapu tangannya.
Dan membenarkan tatanan rambut Clara yang awut-awutan.
Clara masih gemetar, cara Alexander menghajar para penculik tadi membuat dia sangat shock.
" Apakah aku menakutimu sayang...?" tanya Alexander lembut, meraih tangan Clara.
Clara menggeleng, dia hanya terkejut saja melihat kemarahan suaminya tersebut.
Alexander melihat luka di pergelangan tangan istrinya tersebut.
" Apakah sakit?" tanyanya.
Clara mengangguk.
Alexander kemudian melihat kearah kaki Clara.
Tampak kaki itu sangat mengenaskan juga. Alexander memegang kaki Clara, melihat telapak kakinya juga ada luka.
" Kita kerumah sakit, cari yang terdekat saja " kata Alexander pada Nicolas.
" Baik Tuan " angguknya.
Alexander mendekap Clara dalam pelukannya, dia tadi sangat ketakutan bila terlalu lama menyelamatkan Clara.
" Jangan takut, ini yang terakhir kali...tidak akan kubiarkan siapapun akan menyakiti mu lagi sayang..." ucap Alexander mengelus pipi Clara.
Clara mengangguk, lalu membenamkan wajahnya ke dada Alexander.
Dengan penuh sayang Alexander mengelus punggung istrinya tersebut. Dan sesekali mengecup puncak kepala istri kecilnya.
" Tadi sangat menakutkan, aku sangat benci melihat mereka menatap ku begitu lekat " gumam Clara memeluk Alexander.
Alexander balas memeluk Clara erat.
__ADS_1
Dia tadi sudah menuntaskan rasa amarahnya pada para penculik istrinya.
Ya, mereka sudah menerima akibat dari kesalahan mereka sendiri.
Alexander mengelus kaki Clara yang lecet. Mulai dari saat ini, dia tidak akan pernah lagi meninggalkan Clara walau berjarak satu meter pun darinya.
Dia tidak ingin istri kecilnya mengalami hal seperti ini lagi.
Mereka pun sampai dirumah sakit terdekat.
Alexander membopong Clara memasuki rumah sakit, jam sudah menunjukkan jam satu pagi.
Alexander menempatkan Clara diruang vvip.
Clara ditangani dengan cepat, luka-lukanya dibersihkan dan diberi obat.
Lalu Clara diinfus karena kekurangan cairan akibat belum makan dan karena shock dengan kejadian yang menimpa nya.
Terpaksa harus menginap malam ini untuk menghabiskan infusnya.
Alexander dan Nicolas akhirnya ikut menginap juga.
Sementara Nicolas tidur disofa.
Dan besoknya, Alexander memerintahkan Nicolas untuk membelikan baju buat Clara.
Gaun yang dikenakan Clara sudah kotor dan juga sudah robek.
" Dan jangan lupa beli sarapan juga " kata Alexander.
" Baik Tuan " angguk Nicolas patuh.
Nicolas kemudian bergegas membeli apa yang diperintahkan Alexander.
" Bagaimana perasaanmu sayang....apakah sudah baikan?" tanya Alexander memperhatikan tangan dan kaki Clara yang diperban.
__ADS_1
" Iya sayangku..." Clara mengangguk.
" Syukur lah..." Alexander mengecup pipi Clara.
" Aku mau kekamar kecil " kata Clara malu-malu.
" Sini..mari kubantu " Alexander membopong Clara masuk kekamar mandi.
Meletakkan Clara pelan-pelan berdiri dekat toilet.
" Makasih..., sayangku pergilah keluar " kata Clara.
" Tidak, aku akan bantu "
" Tidak usah...aku bisa sendiri "
" Tidak..kau masih sakit sayang, biarkan aku membantu mu "
Pipi Clara bersemu merah saat Alexander membuka celana bagian dalamnya.
Setelah meloloskan celananya, Alexander mengangkat gaun pengantin yang dipakai Clara tinggi-tinggi, agar istrinya bisa duduk di toilet.
Tentu saja tindakan nya tersebut memperlihatkan daerah intim Clara.
Dan sontak membuat wajah Alexander pun ikut merona. Dia menelan ludah tanpa sadar.
Kalau wajah Clara tidak tahu mau kemana lagi mau disembunyikan. Dia sangat malu.
" Sangat indah sayang..." gumam Alexander serak.
Clara diam saja tidak menanggapi.
Dia kemudian menyelesaikan maksud tujuan nya ke toilet.
Suara air yang dikeluarkan nya kedalam toilet, terdengar mengalir membuat wajah Clara semakin memerah saja.
__ADS_1
Sementara Alexander tersenyum, dia melihat wajah Clara yang merona.
Bersambung.....