
Semua mata melihat tidak percaya pada adegan yang ada di monitor ruang kontrol cctv.
Dua orang gadis yang terlihat cantik dan anggun, tidak di sangka bisa berbuat kasar pada teman nya.
Orang tua mereka hanya bisa menunduk menahan malu atas kelakuan anak gadis mereka.
Citra mereka tercoreng sudah dengan kelakuan putri mereka, benar-benar memalukan.
Bisik-bisik pun terdengar di antara beberapa orang yang ikut melihat di ruang cctv tersebut.
"Astaga... benar-benar tidak di sangka..., gadis cantik seperti mereka punya tempramen kasar.. ck.. ck.. ck "
"Inilah anak yang terlalu di manjakan..., jadi sombong dan angkuh.., merasa diri paling hebat "
"Mereka tidak menyelidiki dulu siapa yang mereka singgung... terlalu percaya diri "
"Merasa punya orang tua kaya...,jadi seenaknya berbuat kasar pada siapa saja yang tidak di sukai... ck.. ck.. ck "
...****************...
"Bodoh... bodoh.., benar-benar bodoh... tolol, bisa-bisanya kau berbuat jahat gitu pada ponakan Tuan Alex...!! "
pakk...!! Pakkk..!!
Agatha memukul Amira dengan tas nya bertubi-tubi, dia benar-benar kesal dengan anaknya. Membuat malu muka orang tua nya, mencoreng nama baik keluarga.
Sementara Nelson terduduk lemas, dia menunduk sambil geleng-geleng kepala merasa masih tidak percaya dengan peristiwa tadi.
Sebagai orang penting di kota T ini benar-benar suatu aib dengan reputasinya.
"Sakit maa...! " teriak Amira menahan sakit akibat pukulan tas dari ibunya tersebut.
"Rasakan... rasakan..., kau memang terlalu di manjakan.. bikin malu orang tua, memalukan..!! "
"Aaa... sakitt..!!! " teriak Amira menjerit seraya terus mengelak dari pukulan ibunya.
"Padahal kami sudah punya rencana mau mengenal kan mu pada Tuan Alexander... kau mengacaukan semua nyaaaa...!! " teriak Agatha stres, dia membanting tas nya ke lantai.
Kemudian menghempaskan tubuh nya ke sofa, dia kelelahan setelah memukul putrinya. Tenaganya habis, nafasnya tersengal-sengal.
"Aku tidak tahu kalau Clara keponakan Tuan Alex..." cicit Amira meringis kesakitan, dia mengelus-elus tubuhnya yang di pukul Agatha.
"Jadi.. kalau tidak orang penting... apa kau bisa sesukanya berbuat kasar pada siapapun... begitu?!! " Tiba-tiba Nelson berteriak, dia tidak habis pikir dengan sikap puteri nya tersebut.
Amira terkejut dengan bentakan ayahnya, dia pun cepat-cepat berlutut di hadapan ayahnya. Tubuh nya bergetar ketakutan, dia paling takut bila ayahnya sudah marah.
"Papa.. aku tidak sengaja.. " ucap nya memohon ampun.
"Apa katamu?! tidak sengaja?! " Nelson melotot memandang putrinya merasa salah dengan pendengaran nya.
" Aduh.., aduh..mati aku.. mati aku.., kenapa aku punya anak tidak punya otak begini..!! " Tubuh Agatha semakin lemas mendengar kata-kata putrinya tersebut, dia memijit kepalanya yang semakin stress.
"Dan Tuan Alex tadi ada bilang kalau kau juga suka membuli ponakannya selama di kampus,...apa benar!! " tanya Nelson tajam.
__ADS_1
"Ampun pa... aku kesal sama dia, karena dia suka menggoda cowok yang aku suka.. " jawab Amira membela diri.
"Astaga Amira... papa benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuanmu ini...!! " teriak Nelson, " Mulai besok kau dihukum... tidak boleh keluar rumah, dan semua kartu mu papa blokir! "
Nelson kemudian berdiri dan meninggalkan Amira yang masih berlutut memohon maaf.
"Papa... aku minta maaf, tolong jangan hukum aku.., aku putrimu satu-satunya.., papa harus nya membela aku... !! " teriak Amira histeris, dia tidak terima dengan hukuman yang diberikan oleh ayahnya.
...****************...
Alexander tidak pernah sekali pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Clara.
Sesampai di villa dan masuk ke kamar Clara baru lah dia melepaskan tangan Clara.
"Kenapa kau tidak cerita sama paman tentang masalahmu dengan teman kampus mu..? " tanya Alexander menatap Clara.
Tadi setelah Clara pamit sebentar ke toilet, Alexander sudah tidak fokus mengobrol dengan rekan bisnisnya.
Dan dugaannya ternyata benar bahwa Clara pasti akan mengalami sesuatu.
Saat Nelson dan Hendra mengenal kan diri tadi, dia sudah menebak bahwa ke dua putri mereka teman Clara sewaktu kuliah.
Dan saat mereka mengatakan akan mengenalkan putri mereka pada Clara, Alexander sudah mulai tidak suka.
Tapi dia tidak mau tunjukkan, bila Clara terjadi sesuatu di pesta malam ini.
Dia akan bertindak, sifatnya yang keras akan menumbangkan siapapun. Dia tidak bisa di singgung, terutama mengenai keluarga nya.
Dia tidak punya keluarga lagi. Hanya Clara lah satu-satunya keluarga nya sekarang ini.
Dari kecil hidup nya sangat keras, kedua orang tuanya sudah meninggal semenjak dia balita.
Hidup di panti asuhan sangat susah, terkadang tidur di malam hari dengan perut kosong.
Tempat tidur yang keras dan dingin. Teman sesama panti selalu berbuat curang, yang terkadang mengambil makanannya.
Entah keberuntungan apa yang datang pada nya, suatu hari tanpa terduga ada sepasang tunangan menghampiri nya saat membeli makanan di pinggir jalan.
Mereka sangat tampan dan cantik, dia pertama kali melihat mereka, begitu takjub dengan pesona mereka berdua.
Senyuman ramah dari si pria dan senyuman manis dari si wanita, masih terbayang jelas di ingatannya sampai sekarang.
Dan si wanita ingin dia menjadi adiknya, yang lebih tepatnya adik angkat. Rasanya dia tidak mempercayai apa yang didengar nya kala itu. Yang jelas dia sangat bahagia. Akhirnya dia punya keluarga.
Dan kemudian mendapat keponakan, lengkap sudah kebahagiaan nya. Dia mencintai keluarga barunya ini.
Karena itulah dia bertekad akan membantu keluarga kakak angkatnya dalam perusahaan mereka.
Sampai peristiwa itu terjadi memporak poranda kan dunia nya. Kecelakaan lalu-lintas yang merenggut orang-orang yang di sayanginya.
Dia sangat terpukul kala itu, membuat dia jadi keras, arogan, dingin, angkuh dan menjadi gila kerja. Dia membuat perusahaan kakak angkatnya menjadi sukses mendunia.
Dan sekarang di hadapan nya, tinggal satu-satunya keluarga nya. Dia selama ini tidak pernah mau terlibat hubungan khusus dengan wanita mana pun, itu karena Clara.
__ADS_1
Dia tidak ingin Clara tersakiti, memikirkan itu saja perasaan nya tidak nyaman. Dia takut para wanita itu menyakiti Clara, yang hanya mencintai nya saja, tetapi tidak menyukai Clara.
Dan juga dia merasa tidak rela menyerah kan Clara pada lelaki mana pun. Dia tidak percaya pada mereka untuk menjaga dan mencintai Clara.
Terkadang dia merasa heran dengan sikap mya. Apakah ini suatu penyakit? pikirnya, penyakit obsesi?
"Aku tidak mau menambah beban pikiran paman.. " jawab Clara, " Aku bisa atasi sendiri "
"Tidak gadis kecilku.. mulai sekarang kau harus ceritakan pada paman apa pun yang mengganggu mu.. oke! " ucap Alexander mengelus kepala Clara lembut.
" Aku bukan anak kecil lagi paman... aku sudah besar, umur ku sudah 20 tahun.., sudah waktunya bisa menikah dan punya anak.. "
Wajah Alexander menggelap mendengar ucapan Clara. Perasaannya tidak senang.
"Kau masih kecil Clara... belum boleh pacaran.. "
"Aku sudah besar.. " Clara kesal mendengar kata-kata pamannya, di mata pamannya dia masih saja anak kecil.
Dia sudah besar, dia sudah tahu artinya jatuh cinta. Sudah tahu artinya ingin memiliki seseorang.
"Apakah kau sudah menyukai seseorang? " tanya Alexander hati-hati, perasaannya kenapa tidak enak dengan pertanyaannya tersebut.
"Iya... sudah ada, sudah lama sekali aku suka padanya.., aku jatuh cinta padanya "jawab Clara mantap.
Deg!! Jantung Alexander rasanya ada yang menusuk. Sakit sekali. Wajahnya sudah sangat gelap.
Dia ingin mengamuk, ingin mengangkat Clara. Dan memeluknya kuat-kuat, dan meneriakkan tidak boleh mendekati lelaki mana pun.
Clara tidak berani menatap pamannya. Wajahnya memerah di tatap terus seperti itu.
" Paman pergilah... aku mau istirahat " Clara membuka pintu untuk pamannya agar keluar.
"Tidak..!! Alexander menutup kembali pintu tersebut, " Paman mau tidur di sini "
Dia menarik tangan Clara, mematikan lampu. Kemudian menyalakan lampu tidur.
" Aku belum mandi paman... badanku lengket " sahut Clara menahan tubuh nya.
"Pergilah mandi.. " Alexander menuntun Clara masuk ke kamar mandi.
" Jangan lama mandinya, sudah malam... dingin" kata Alexander.
" Paman tidak mandi, apa paman tidak merasa gerah.. "
" Baiklah.. ayo kita mandi sama.. " Alexander pun ikut masuk.
" E.. e.. e.., bukan maksudku mau mandi sama.. kalau gitu paman saja di luan..,aku nanti saja " wajah Clara memerah mendengar perkataan pamannya.
"Sudah lah.. kau saja yang mandi dulu " Alexander keluar, kemudian menutup pintu kamar mandi.
Di balik pintu kamar mandi Clara memegang dadanya yang berdegup kencang.
Dia menepuk-nepuk pipinya yang merona. Dia sangat gugup sekali sewaktu pamannya bilang mau mandi sama.
__ADS_1
Saat mengatakan itu wajah pamannya santai saja. Clara merasa pamannya memang tidak akan pernah memandang dia sebagai wanita.
Bersambung....