
Linda begitu semangat mendengar Alexander telah kembali, dan ingin segera bertemu dengan dirinya. Sudah lama dia memendam rasa suka pada Alexander.
Kini saatnya dia beraksi untuk merebut hati Alexander, semenjak menjadi sekretaris Alexander di kota D, benih-benih rasa cinta sudah tumbuh dihatinya.
Siapa yang tidak tergila gila pada seorang Alexander. Seorang pria yang tampan dengan tinggi 188cm, sungguh menakjubkan dengan bentuk tubuh yang sangat atletis.
Wajah yang selalu serius, dengan rahang yang tegas, tatapan yang selalu datar bagaikan tiran , raja bisnis yang mendominasi.
Setiap wanita meleleh bila melihatnya, rasanya mereka ingin melemparkan dirinya dengan sukarela ke dalam pelukan Alexander. T
Tapi sayang Alexander sangat sulit di dapatkan, dia tidak tertarik dengan suatu hubungan khusus dengan seorang wanita.
Linda buru-buru turun dari mobil, tapi sebelum turun dia membetulkan dulu make up nya supaya terlihat cantik.
Kemudian membenar kan pakaiannya, setelah terlihat rapi. Dia menatap gedung hotel Groups Genius berlantai 20 tersebut, dia menghela nafas untuk membuang rasa gugup nya.
Dengan hati berbunga bunga dan jantung yang berdebar debar, dia bergegas naik lift, memencet angka 20 lantai teratas. Ting! lift pun terbuka.
...****************...
Alexander memeriksa berkas-berkas keuangan Groups Genius, dia sesekali mengerutkan kening. Sepertinya ada yang salah dengan pengeluaran dan pemasukan
dana, sepertinya ada penurunan saham.
Tok.. Tok.. Tok
Pintu ada yang mengetuk.
"Masuk.. " sahutnya tanpa mengalihkan tatapannya dari memeriksa berkas berkas tersebut.
Pintu pun terbuka, muncullah seorang wanita cantik tampilan seksi dengan rok pensil di atas lutut. Dia tersenyum memandang Alexander yang tampak semakin tampan saja.
"Pagi Tuan... " sahut nya, jantungnya semakin berdebar kencang saja.
Rasanya dia ingin melemparkan tubuh nya ke pelukan Alexander.
(Dasar cewek ganjen!! pikir Author geleng geleng kepala. )
Alexander berlahan mengangkat wajahnya memandang wanita tersebut, tatapannya terlihat datar.
Dia meletak berkas tersebut, dan mulai fokus mengintrogasi Linda yang terlihat seperti wanita penghibur, menurutnya. Sepertinya tidak pantas menjadi seorang sekretaris.
"Linda kenapa jadi kamu yang mengurus keperluan Clara... sebelum nya saya yang menyuruh Aldy untuk mengurus semua kebutuhan nya... coba jelas kan, dan juga saya tidak dapat menghubungi Aldy.. " ujar Alexander
"I.. itu Tuan, dia sudah mengundurkan diri.. " ucap Linda tiba tiba gugup, rasa gembiranya tadi langsung hilang.
Ternyata Alexander memanggil dia bukan ingin bertemu , aura Alexander benar benar dingin. Membuat suasana jadi ngeri, Linda menelan ludah gemetar.
"Katakan kenapa dia mengundurkan diri.. " sahut Alexander lagi dengan tatapan tajamnya.
"E.. eh... i.. itu.. saya kurang tahu Tuan " jawab Linda gemetar.
Bammmm...!!!
__ADS_1
Alexander membanting berkas yang ada di atas meja, emosi nya naik, wajah nya menggelap mendengar penjelasan dari Linda.
"Kemana kamu kirim Clara kuliah.. "
"I.. itu..ke kota T Tuan.. " tubuh Linda semakin gemetar.
"Siapa yang menyuruh mu untuk berbuat lancang, seenaknya mengirim keluargaku tanpa persetujuan ku.. Hah!!!" teriak Alexander berang " Nicolas... " jerit Alexander memanggil Nicolas.
"Iya Tuan.. " sahut Nicolas, buru buru masuk.
"Pecat dia tanpa pesangon, dan juga buat dia tidak bisa mendapat kerja dimana pun!! "ucap Alexander menunjuk Linda dengan tatapan dinginnya.
"Ampun Tuan... maafkan saya, saya salah.. " Linda dengan gemetar melempar tubuh nya berlutut ke lantai, dia membenamkan kepala nya dalam sampai membentur lantai.
Dia benar benar salah besar, ternyata Clara anggota keluarga Alexander. Dia pikir Clara gadis miskin yang dibiayai perusahaan Groups Genius , karena Clara gadis yatim piatu yang perlu ditolong.
Habislah sudah dia, tubuhnya gemetar hebat. Dia berusaha menyingkirkan Clara, karena dia berpikir kalau Clara adalah benalu yang bisa menempel pada Alexander nantinya.
Karena dia lihat Clara sangat cantik, bisa jadi penghalang suatu saat nanti bila bertemu dengan Alex.
"Usir dia Nicolas.. aku tidak ingin melihat dia berkeliaran di hotel ini lagi, pastikan dia memberitahukan kemana dia mengirim Clara di kota T...." sahut Alex
"Ampun Tuan... maafkan saya... saya salah Tuan.. tolong jangan pecat saya Tuan... " Linda menangis mengiba.
"Maaf nona Linda... silahkan keluar ! " Nicolas menarik Linda keluar dari kantor Alexander.
Linda menangis sejadi jadi nya, habis sudah dia, dia benar benar bodoh, kenapa dia waktu itu tidak memeriksa latar belakang Clara.
Alexander menghela nafas berat, dia menghempaskan tubuh nya ke sofa. Dia berbaring mencoba untuk menenangkan perasaannya yang campur aduk.
Dia memejam kan matanya untuk menghilangkan rasa kesalnya. Dia mencoba membayangkan wajah Clara, yang ada hanya bayangan wajah saat terakhir kali mereka bertemu, saat Clara berusia 14 tahun.
Tok.. tok.. tok
Ketukan di pintu terdengar.
"Masuk... " sahut Alex masih dalam posisi berbaring dan memejamkan mata.
Nicolas pun masuk, dia melihat boss nya tersebut berbaring di sofa.
"Tuan saya sudah mendapat alamat kampus Clara di kota T " sahut Nicolas.
Alexander reflek bangkit dari tiduran nya, dia kemudian menyambar jas nya.
"Bagus... ayo kita pergi menjemput Clara " ujarnya penuh semangat.
...****************...
Di kota T Alexander dan asistennya Nicolas langsung menuju kampus Sunkrila, tempat Clara mengenyam pendidikan desainer nya.
Pihak kampus membenarkan kalau Clara siswa mereka, dan dia adalah siswa yang pintar dan ramah. Dan pihak kampus tidak mengetahui alamat Clara setelah lulus.
Dan informasi dari pengurus kampus mengatakan bahwa saat lulus, tidak ada satu keluarga Clara yang datang menghadiri kelulusannya.
__ADS_1
Alex sangat senang mendengar penjelasan pihak kampus mengenai pribadi Clara.
Tapi saat penjelasan terakhir, gerahamnya mengetat menahan amarah, ini memang kelalaiannya terlalu sibuk, lupa untuk memastikan perkembangan sekolah Clara.
Dan dia pun meminta foto terakhir Clara pada pengurus kampus tersebut.
Pengurus kampus pun mencoba mencari foto Clara terakhir kali waktu di wisuda.
" Selama tahun terakhir ini dia selalu membayar uang kuliah nya dan asrama dengan gajinya sendiri..., dia mengatakan pamannya lagi kesulitan, makanya tidak mengirim uang lagi padanya.., jadi dia membantu pamannya meringankan beban pamannya , dengan kerja paruh waktu untuk biaya kuliah dan asrama..."ujarnya seraya mencari foto Clara.
Mendengar itu geraham Alexander semakin mengetat, tangannya mengepal erat sampai memutih, wajahnya sudah menggelap menahan amarah.
Nicolas pun terkejut juga mendengar penjelasan pengurus kampus tersebut. Sungguh luar biasa Linda, sangat kejam.
Dia layak mendapatkan hukumannya. Berani nya dia memprovokasi nona kecil Groups Genius yang mendunia, nona kecil pemegang saham terbesar di perusahaan Groups Genius.
Akhirnya foto Clara pun ketemu.
"Ini dia.. " sahut Si pengurus menyerahkan foto Clara.
Alexander menerima foto tersebut, kemudian dia menatap foto Clara. Tangannya gemetar menatap wajah Clara yang tersenyum manis, wajah itu begitu cantik, sangat cantik, dia merasa tak percaya itu adalah Clara kecilnya yang dulu ditinggalkannya.
Malaikat kecilnya, sangat manis dan cantik.
Mata Alexander tidak berkedip menatap wajah gadis cantik di foto itu. Rasanya dia ingin menangis, dia merasa seperti pulang ke rumah.
Sangat nyaman dan damai. Perasaannya tidak bisa dia jelaskan seperti apa, yang jelas terasa nyaman dan menyenangkan.
"Terimakasih Pak.. " ucap Alexander pada pengurus Yayasan kampus.
Mereka pun pergi ke asrama kampus untuk mencari tahu dimana terakhir kali Clara bekerja.
"Oh...saya kurang tahu Tuan, yang saya tahu dia kerja dari jam 5 sore sampai jam 9 malam... " ujar Pengurus asrama " coba di tanya saja Laura, dia adik kelasnya... mereka biasa suka mengobrol, kamarnya ada dekat bekas kamar Clara "
Kemudian dia menunjukkan kamar Laura. Dia pun mengetuk kamar Laura. Pintu pun terbuka, muncul lah wajah seorang gadis di balik pintu.
"Ada apa nyonya..? " tanyanya. Dan kemudian matanya menoleh kesamping, dia terkesiap lalu menutup mulutnya dengan tangannya. Matanya membelalak tak percaya melihat Alexander.
"Tuan Alexander...!! " pekiknya terkejut " Paman Clara... " sambungnya lagi. Astagaa! tampan sekali paman Clara, oh tidak! bisik hatinya sudah mau pingsan.
"Kenapa kamu bisa tahu saya pamannya Clara.. " sahut Alexander.
"Clara punya foto Tuan... dia selalu memandangnya untuk melepas rindu " ujar Laura dengan wajah yang sudah mulai memerah karena terpesona.
"Apakah kamu tahu dia tinggal di mana sekarang? " tanya Alex.
"Saya tidak tahu... yang saya tahu dia bekerja di Restoran Mawar Putih.., dia bekerja dari jam 11 pagi sampai jam 9 malam... " sahut Laura sambil menatap Alexander, dia merasa lututnya melemas melihat mahluk didepannya itu begitu sangat sempurna ketampanannya.
Sebentar lagi dia bakalan pingsan lah ini. Dia memegang pintu kuat kuat agar jangan jatuh.
"Baik terimakasih " ucap Alex lalu berbalik dan pergi dari sana.
"Iya sama sama... " ucap Laura lirih, jantung nya sudah mau copot saking gugupnya. Suara itu begitu seksi dengan suara bariton nya.
__ADS_1
Oh tidak, bisik Laura memegang dadanya yang berdegup. Paman Clara sangat tampan bila dilihat secara nyata, berbeda dari fotonya.
Bersambung.....