Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
16.


__ADS_3

Sesuai janji Alexander akan membawa Clara lunch, tepat jam dua belas siang mereka pun turun.


Alexander sudah menyuruh Nicolas stand by menunggu mereka di lobby Hotel.


Alexander memegang tangan Clara masuk ke lift, dia tetap tidak melepas tangan Clara sampai mereka turun ke lobby Hotel.


Semua mata memandang mereka, memberi salam hormat pada Alexander.


Dengan wajah datarnya Alexander tidak mempedulikan mereka. Dia lebih fokus pada Clara, menggenggam tangan Clara dengan posesif.


"Alexander... " Tiba-tiba seorang wanita berteriak memanggil namanya di lobby.


Tampak wanita cantik dengan gaun seksi berjalan tergesa-gesa menghampiri Alexander dan Clara.


"Aku dari pagi menunggu...akhirnya kau turun juga " sahut wanita itu.


Alexander sangat tidak senang dengan ini semua. Wajah nya benar-benar dingin, melempar pandangan ke arah Sekuriti.


Petugas keamanan itu langsung menahan wanita tersebut yang akan mendekati Alexander.


"Maaf Nona... saya sudah katakan dari tadi, Tuan Alex tidak kenal dengan anda "


"Alex...ini aku Riana, apa kau tidak kenal dengan ku lagi " seru wanita itu berontak dari ke dua sekuriti tersebut.


"Bukan kah saya sudah katakan tadi, bahwa orang yang tidak saya kenal di usir saja " sahut Alexander tajam pada para Resepsionis yang tampak sudah ketakutan.


"Tuan... kami sudah menyuruh Nona itu pergi, tapi dia tidak mau.. "


"Kalau tidak mau seret saja keluar... " Alexander mulai emosi, " Untuk apa aku menggaji petugas keamanan di sini kalau tidak bisa menangani masalah kecil begini.. "


"Maaf Tuan...kami akan lebih tegas lagi " ujar para Sekuriti.


"Tidak... Alex... dengar aku, aku mencintaimu Alex... apa aku tidak berarti bagi mu... Alex.. " Teriak wanita tersebut berteriak histeris, terus berontak dari tarikan para Sekuriti.


"Usir cepat...,lain kali jangan pernah lagi perbolehkan dia memasuki lobby Hotel.." sahut Alexander marah.


Clara hanya bisa termangu saja melihat kejadian itu.


Paman nya yang tampan dan kaya raya, siapa wanita yang tidak mau untuk mendapatkan nya. Walaupun sampai mau untuk mempermalukan diri sendiri.


Tapi mendengar penjelasan wanita tadi meneriakkan perasaan nya pada Alexander, pasti mereka pernah terlibat suatu hubungan.


Alexander menggenggam tangan Clara semakin erat.


Tidak tahu entah bagaimana, tiba-tiba wanita itu bisa melepaskan diri dari para Sekuriti tersebut.


Dia berlari menuju Alexander dan Clara.


"Dasar perempuan ******...kau tidak pantas buat Alexander...!!" Dia mendorong Clara sekuat tenaga, " Aku yang lebih dulu mengenal Alex...dasar ******!!! "


Clara terkejut sehingga genggaman tangan Alexander terlepas.


Clara pun terlempar ke lantai.


Dengan reflek wanita itu pun menarik baju Clara.


Alexander juga terkejut dengan serangan tiba-tiba wanita tersebut.


Wajahnya benar-benar sudah menunjukkan ingin membunuh orang.


Dengan sekali tarik wanita itu terlempar jauh.

__ADS_1


Bukk!!!


Suara tubuh nya terdengar membentur lantai dengan keras.


Semua orang yang menyaksikan itu pun terkejut. Semua karyawan sudah mulai gemetar ketakutan.


Alexander kalau sudah marah bisa sangat kasar.


Nicolas yang dari tadi sudah menunggu di luar pintu lobby Hotel, tergesa-gesa masuk begitu mendengar suara ribut-ribut di dalam lobby Hotel.


Dia melihat seorang wanita tersungkur dilantai kesakitan.


Dan Alexander tampak sangat marah memandang wanita tersebut.


Dan juga Nona kecil nya terduduk di lantai. Sekarang dia tahu dengan melihat sekilas kejadian di depan mata nya.


Dengan cepat dia pun berjalan menarik paksa wanita yang di lempar Alexander tadi.


Menarik nya keluar Hotel tanpa menghiraukan teriakkan wanita tersebut.


Alexander berjongkok membantu Clara berdiri.


"Ayo kita ke rumah sakit " sahutnya kemudian membopong Clara.


Semua karyawan hanya bisa menunduk gemetar. Siap-siap lah mereka akan di pecat karena lalai melakukan tugas.


Nicolas membukakan pintu mobil untuk Alexander yang membopong Clara.


"Ke rumah sakit "


"Baik Tuan "


"Cepat Nico...cari rumah sakit terdekat saja"


"Iya Tuan.. "


"Maafkan Paman..., Paman tidak cepat menahan wanita itu tadi untuk menyakiti mu " kata Alexander menggenggam tangan Clara.


"Aku tidak apa-apa Paman.. " sahut Clara.


"Paman tidak mengenal nya.. " kata Alexander menjelaskan agar Clara tidak salah paham, " Paman tidak tahu kapan dan di mana dia kenal dengan Paman "


" Sepertinya dia pengagum Paman " kata Clara


Alexander mendengus tidak suka.


"Nicolas...selidiki wanita itu, kalau dia ada ikatan kerja dengan Groups Genius putus kan kontrak kerja nya...,secepatnya! "


"Baik Tuan " Angguk Nicolas.


...****************...


"Bagaimana dok... apakah lukanya parah? " tanya Alexander dengan wajah khawatir.


"Tidak apa-apa, hanya lebam saja... saya akan memberikan obat salep dan obat nyeri, beberapa kali oles lebam nya akan hilang " kata dokter seraya menulis resep obat untuk di beli.


Alexander jadi gagal membawa Clara untuk makan siang di luar.


Mereka pun akhirnya berakhir makan di Mansion.


Alexander memutuskan tidak balik lagi ke kantor. Dia tidak ingin meninggalkan Clara.

__ADS_1


"Paman, aku baik-baik saja...Paman pergi saja ke kantor " kata Clara.


"Tidak, Paman mau merawat mu, ini salah Paman sampai kau terluka "


"Aku tidak terluka Paman.. "


"Jangan membantah..biarkan Paman merawat mu "


"Baiklah "


Alexander tidak memperbolehkan Clara berjalan sendiri. Dia takut pinggul Clara yang lebam itu membengkak karena di bawa berjalan.


Dia membopong Clara naik ke kamar.


"Bibi Melinda...tolong siap kan air hangat di baskom " perintah Alexander, " Dan bawa ke kamar Clara "


" Baik Tuan.. "angguk wanita paruh baya tersebut patuh.


Alexander meletakkan Clara dengan lembut ke atas tempat tidur.


" Ini air hangat nya Tuan.. "


"Terimakasih...,letak kan saja di nakas " sahut Alexander seraya melepaskan sepatu heels Clara.


"Baik Tuan " Melinda menaruh baskom di nakas. Kemudian keluar dari kamar, menutup pintu kamar pelan.


Melinda sangat senang melihat kedekatan Alexander dengan Clara.


Di dalam hati dia berharap Alexander menjadi pasangan Clara. Dia tahu bahwa hubungan Alexander dan Clara tidak ada ikatan darah sama sekali.


Bila Clara bisa berjodoh dengan Alexander, segala sesuatu tentang warisan almarhum majikan pertama nya akan aman di kelola oleh Alexander.


Bila Clara menikah dengan orang lain, dia khawatir harta peninggalan almarhum orang tua Clara bisa terancam.


Dan bila Alexander menikah dengan wanita lain, akan bahaya juga. Takut nya wanita tersebut hanya mencintai Alexander karena harta.


Dan bisa-bisa ketenangan di Mansion tidak sama lagi seperti saat ini.


Melinda menghela nafas merasa dilema.


"Mudah-mudahan mereka saling menyukai " bisik hati Melinda.


Dia pun menjauh dari pintu. Kembali turun ke bawah melanjutkan tugas nya.


"Bi... Non Clara kenapa? " tanya Nina


"Sepertinya terjatuh " kata Melinda.


"Apakah ada yang luka? "


"Tidak ada, hanya lebam saja karena terbentur "


"Oh syukur lah " kata Nina lega.


"Kau petik lagi mawar di taman, ganti yang sudah layu di meja makan dan ruang tamu " sahut Melinda.


"Baik Bi... " jawab Nina patuh.


Dia pun pergi mengerjakan apa yang di perintah oleh Melinda.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2