
Pria yang duduk di depan Clara terlihat masih muda dari Alexander.
Kalau di lihat dari usianya sepertinya dia kira-kira tiga puluh tahun.
Setelah Clara berpikir barulah dia ingat, bahwa Ibu tiri ayahnya telah mempunyai anak saat menikah dengan Kakeknya.
Selisih usia Ayah Clara dengan Paman tirinya terpaut tujuh tahun.
Setelah Nenek Clara meninggal, barulah Kakek menikah dengan Nenek tirinya.
Paman tirinya menikah lebih dulu dari pada Ayah Clara.
Karena itulah sepupu tirinya ini umurnya lebih tua dari Clara.
" Kau tidak kenal dengan ku?" tanya pria itu tersenyum, " Aku Jhonatan anak Paman tirimu "
Clara tetap diam tidak bergerak atau pun mencoba ingin bicara. Dipandang nya pria yang mengaku bernama Jhonatan itu tajam, dia tidak takut.
" Apa kau tidak tahu...Paman angkat mu itu, si Alexander itu...dia sangat licik....kau harus hati-hati padanya " kata Jhonatan sambil menarik sebilah belati dari balik sabuk pinggangnya.
" Apa kau tidak merasa bahwa Paman mu itu, sepertinya punya niat tertentu...Dia terlalu menguasai semua harta warisan orang tua mu? " kata Jhonatan lagi.
" Atau ada niat tersembunyi yang sudah lama direncanakan nya...dia mungkin mau mengikat mu menjadi istrinya...agar harta warisan Ayah mu bisa dikuasai sepenuhnya oleh nya " kata Jhonatan lagi memprovokasi sambil mengelus belati yang di pegang nya.
" Sebagai sepupu aku prihatin padamu...dengan menyandera mu akan ketahuan bagaimana sifat aslinya....apakah dia mau berkorban padamu... apakah dia mau menyelamatkan mu dengan menyerah kan surat pindah kepemilikan padaku, atau mungkin...dia tidak akan datang untuk menyelamatkan mu " kata Jhonatan dengan tersenyum penuh rasa percaya diri.
Dia memajukan tubuh nya menatap Clara, senyum sinis nya tersungging.
" Apa kau tidak tahu...dia itu pria brengsek yang suka jajan dengan perempuan cantik, pria maniak **** yang meniduri banyak wanita...,oh ya apakah kau pernah di jamah nya?"
Clara ingin menampar wajah Jhonatan, dia tidak suka mendengar kata-kata Jhonatan yang menghina Pamannya.
" Dengar...kau harus bekerja sama dengan ku, Alexander adalah orang asing, dia hanya adik angkat ibu mu... dia hanya orang asing, " Kata Jhonatan membuat kesepakatan pada Clara, " Kita yang berhak mengelola Group Genius, dia tidak layak... dia hanya seorang gembel yang di pungut dari pinggir jalan "
Clara sudah mulai marah mendengar perkataan Jhonatan tersebut. Dia tidak suka mendengar Pamannya Alexander terus di hina oleh Jhonatan.
Kau tahu apa, pikir Clara menatap Jhonatan tajam, kaulah orang asing...yang gila harta. Ingin mengambil harta yang bukan milik mu.
Jhonatan bangkit dari duduknya, dia mendekati Clara. Dengan sekali tarik lakban yang menutup mulut Clara di lepasnya.
Clara merasakan mulut nya sangat perih. Dia menatap Jhonatan tajam.
" Ada yang ingin kau katakan? " tanya Jhonatan sembari duduk kembali.
" Aku tidak mengenalmu " kata Clara dingin.
" Apa?! ha.. ha.. ha.. " Jhonatan tiba-tiba tertawa mendengar Clara bersuara.
__ADS_1
" Astagaa.... suara mu ternyata sangat merdu..., pantas saja si Alexander itu sangat menjaga mu , ternyata tidak hanya wajahmu saja yang cantik....ternyata suara mu juga sangat menawan "
Clara tetap tenang duduk dengan tangan terikat, di pandangnya Jhonatan tajam.
" Aku tidak mengenal mu...Papaku tidak punya saudara, dia anak tunggal " kata Clara datar.
Jhonatan menghentikan tawanya, di pandangnya Clara tajam.
" Aku adalah cucu dari Ibu tiri Ayah mu, kita memang tidak pernah bertemu semenjak kematian Paman...aku sekolah di luar negeri " Jhonatan menjelaskan.
Clara tidak menanggapi perkataan Jhonatan tersebut.
" Baiklah... percuma aku menjelaskan, kau tetap tidak menganggap aku sepupumu... "
Tiba-tiba dari luar terdengar suara orang berkelahi dan di susul suara benda-benda berat terbanting ke tanah.
Jhonatan reflek bangkit dari duduknya, di tariknya Clara berdiri. Belati yang dari tadi di pegang nya di arahkan nya pada leher Clara.
Sial! cepat sekali mereka menemukan tempat persembunyian ku, umpat Jhonatan dalam hati.
Mereka memandang ke arah pintu gudang. Clara mulai was-was, merasa tegang karena pisau belati di todong kan ke lehernya.
Dia membayangkan pisau itu menggores lehernya, pasti sangat sakit sekali. Clara menelan ludahnya mulai gugup, tubuhnya mulai gemetar.
Suara tendangan terdengar sangat keras menerjang pintu gudang, dan pintunya terpental lepas dari engselnya.
Dan kemudian di susul oleh Nicolas, dan beberapa orang yang berdatangan dari belakang Alexander.
Ternyata anak buah Jhonatan berhasil di tumbangkan Alexander dan anak buahnya.
Jantung Clara berdegup kencang, dia ingin berlari menghambur kan tubuhnya ke pelukan Pamannya. Karena dia sangat ketakutan saat ini.
Lutut nya mulai lemas merasakan dinginnya belati yang menempel di lehernya.
" Jangan bergerak!! " teriak Jhonatan menekan belati ke leher Clara.
Clara terkejut merasakan belati seakan mulai mengoyak kulit lehernya. Matanya memandang Alexander ketakutan, matanya mulai mengeluarkan air mata.
Alexander menghentikan langkah nya, matanya tidak sekali pun lepas dari Clara. Di pandangnya Clara yang ketakutan, dan melihat belati yang menempel di leher Clara.
Darah Alexander mendidih, melihat tubuh mungil Clara yang ketakutan.
Clara terlihat ketakutan tapi tidak histeris, dia berusaha tetap tenang walau sudah mulai pucat karena ketakutan.
" Aku mau membuat kesepakatan...aku akan melepaskan Clara kalau kau menyerah kan surat pemindahan kepemilikan Group Genius padaku " sahut Jhonatan dengan suara lantang.
Alexander tidak menjawab, matanya masih memandang ke arah Clara. Melihat belati yang menempel di leher Clara.
__ADS_1
" Baiklah...kau harus melepaskan Nona Clara dulu "Nicolas yang menjawab perkataan Jhonatan, " Kalau ada sedikit pun luka padanya, kesepakatan batal "
Jhonatan tersenyum sinis, dia menyeringai.
" Aku mau sekarang surat nya, baru aku lepas kan dia " sahutnya.
" Apa kau tidak tahu Nona Clara lebih berharga dari pada Group Genius...sedikit saja ada goresan di lehernya, kesepakatan batal " Nicolas mengingatkan lagi.
" Oke...baik " Jhonatan menarik belati nya dari leher Clara, tapi dia tetap membuat Clara sebagai sandera.
Tiba-tiba sebuah bayangan melesat menghantam Jhonatan begitu belati di tariknya dari leher Clara.
Sebuah balok.
Entah sejak kapan Alexander mendapatkan balok, dan melemparkan dengan kecepatan sekelip mata melayang menghantam ke arah Jhonatan.
Tubuh Jhonatan terpental ke lantai. Dan tubuh Clara pun tersungkur ke lantai.
Alexander berlari ke arah Jhonatan, dia melompat melangkahi kursi yang tergeletak di lantai gudang.
Tendangan kakinya melayang menghantam tubuh Jhonatan, dan sebuah tinju di layangkan nya ke wajah Jhonatan.
Dia belum puas, berkali-kali dia meninju wajah Jhonatan.
Clara sangat ketakutan melihat tindakan Alexander tersebut, tubuhnya gemetar hebat.
" Paman " sahut Clara dengan suara bergetar ketakutan.
Alexander spontan menghentikan aksinya meninju wajah Jhonatan.
Dia mendengar suara Clara memanggilnya.
Wajahnya tampak sangat dingin, matanya berapi-api memandang Jhonatan.
Wajah Jhonatan terlihat babak belur penuh darah.
Berlahan Alexander bangkit dari atas tubuh Jhonatan.
Dia melihat Clara masih tergolek duduk di lantai, tubuh mungil nya bergetar ketakutan.
Alexander menghampiri Clara, berjongkok membantu Clara bangkit dengan hati-hati.
Clara memeluk Alexander menangis, tubuhnya masih gemetar ketakutan.
" Maaf kan Paman... " Alexander mengangkat Clara, membopongnya keluar meninggalkan gedung tersebut.
Nicolas dan anak buah Alexander yang lain mengurus Jhonatan dan anak buah nya yang telah sekarat.
__ADS_1
Bersambung........