Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
50.


__ADS_3

Aula persidangan sudah dipenuhi para wartawan, mereka dari pagi sudah datang untuk meliput sidang kasus rencana pembunuhan Bos Utama Groups Genius.


Semua ribut, riuh dan berbisik-bisik.


Mereka tidak menyangka kasus tiga belas tahun yang lalu di buka lagi.


Dan ternyata peristiwa tersebut tidak seperti yang diberitakan mengalami kecelakaan lalu-lintas.


Ini berita terpanas tahun ini, peristiwa kematian Bos Utama Group Genius yang terkenal menjadi sorotan dunia.


Para Pers ada yang bahkan dari pagi buta sudah datang ke gedung pengadilan, mereka ingin dapat bagian paling depan agar dapat meliput jalannya persidangan.


Jam sudah menunjukkan jam sembilan pagi, sebuah mobil hitam anti peluru milik Alexander memasuki halaman lobby gedung persidangan.


Dan disusul mobil para Pengacara Alexander berhenti di belakang mobil hitam tersebut.


Melihat siapa yang turun dari mobil hitam itu, para Pres berhamburan untuk mendekat. Ini kesempatan pertama untuk mewawancarai Tuan Groups Genius yang terkenal.


Belum sempat mereka mendekat, sekelompok pengawal Alexander sudah menghadang mereka.


" Tuan Alex...mohon penjelasannya, dari sejak kapan anda sudah mengetahui bahwa kematian Tuan Bernard dan Nyonya Sesilia bukan kecelakaan lalu-lintas?"


" Tuan Alex..., bagaimana anda tahu ternyata dalang utama kecelakaan Tuan dan Nyonya Utama Groups Genius adalah sepupu tirinya? "


" Tuan Alex..."

__ADS_1


" Maaf...semuanya tolong kasih jalan...jangan menghalangi jalan..."


Para Bodyguard Alexander menghalau para wartawan tersebut.


Sementara Alexander tidak menanggapi semua pertanyaan para Pres tersebut, dia hanya fokus melindungi Clara masuk ke dalam gedung.


Sangat banyak sekali orang, padat dan berdesakan.


Alexander menutup kepala Clara dengan jasnya, dia tidak ingin wajah Clara kena jepretan kamera para wartawan tersebut.


Mereka memasuki aula gedung, dan kemudian beberapa petugas mengarahkan mereka masuk ke ruang sidang.


Alexander menggenggam tangan Clara erat.


Saat akan memasuki ruang sidang, dari arah berlawanan tampak Jhonatan dan Ibunya akan memasuki ruang sidang di bagian pintu terdakwa.


Dia tiba-tiba berteriak dan berlari ke arah Clara.


Petugas dengan cepat menangkapnya.


" Clara...kau jangan tertipu olehnya..., kau jangan mau dibodohi nya, dia sangat keji...kau bisa dilukainya...sadarlah Clara, dia bukan siapa-siapa...kita yang bersaudara jangan mau di adu domba nya!!"


Alexander dan Clara yang akan masuk ke ruang sidang berhenti. Melihat Jhonatan yang berteriak, Jhonatan mencoba menarik simpati Clara agar bisa memihak pada mereka.


" Benar Clara..., kau tahu kan dia bukanlah Paman kandung mu....dia sebenarnya ingin menguasai harta orang tuamu, dengar nak...dari dulu dia sudah punya niat jahat! " Melisa Anggraini pun ikut membantu Jhonatan untuk meyakinkan Clara.

__ADS_1


Clara menatap kedua orang tersebut dengan tatapan datar, wajahnya dingin tanpa menunjukkan rasa kekeluargaan pada orang yang telah membunuh orang tua nya.


Dan sekarang berkata omong kosong yang menjijikkan.


Mereka berupa untuk memisahkan dia dengan suaminya, yang selama ini menjadi korban.


Clara tiba-tiba berjalan menghampiri Jhonatan.


" Sayang.." panggil Alexander terkejut melihat Clara menghampiri Jhonatan.


Jhonatan tampak tersenyum penuh kemenangan, ternyata Clara gampang diprovokasi.


Setelah Clara berada berdiri tepat di depan Jhonatan, tiba-tiba!


Plakkk!!!


Sebuah tamparan melayang ke wajah Jhonatan, ini yang dari waktu itu ingin dia lakukan.


Clara tidak suka mendengar Alexander di hina dan dijelek-jelekkan di depannya.


Aula hening mendengar tamparan yang dilayangkan Clara ke wajah Jhonatan.


" Menjijikkan..., mulut kotor mu tidak berhak menghina suamiku..., kau bukan siapa-siapa " kata Clara dengan tatapan dingin.


" Apa??!!" Melisa terkejut dengan perkataan Clara.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2