Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
24.


__ADS_3

Alexander masih terdiam ditempat nya merenung kan perkataan Clara tadi.


Di pandangannya punggung Clara yang berjalan menaiki tangga.


Alexander menyentuh bibir nya, rasa manis bibir Clara masih tertinggal di bibir nya.


Dadanya terasa berdebar memikirkan bagaimana sangat nyaman nya dia memeluk tubuh Clara.


Di tekannya dada nya yang berdebar. Ada apa denganku , pikirnya bingung.


"Tuan..." panggil Jacob memasuki ruang tamu, dia menghampiri Alexander.


" Ada apa? " Alexander memandang Jacob yang membawa sesuatu.


" Ini ada surat, tadi siang ada yang mengirim " Jacob menyerah kan sebuah amplop pada Alexander.


" Terimakasih " Alexander menerima surat tersebut.


Jacob membungkuk sopan dan kemudian meninggalkan Alexander kembali keruang dalam.


Alexander berjalan keruang kerjanya. Menutup pintu, lalu duduk di kursi kerjanya.


Di perhatikan nya amplop tersebut, tidak ada nama pengirimnya.


Dia pun merobek ujungnya, dan menarik selembar kertas dari dalam.


Di bacanya isi surat tersebut, baru beberapa baris di bacanya, raut wajahnya sudah langsung menunjukkan wajah yang marah.


Diremasnya surat tersebut, dan membanting nya ke lantai.


Di ambilnya handphone, lalu menekan satu nama.


" Nico..cepat datang ke mari " sahutnya begitu terhubung. Kemudian di tutup nya.


Tok.. tok.. tok


Pintu ruang kerjanya ada yang mengetuk, lalu terbuka, seraut wajah cantik dan imut nongol dari balik pintu.


" Sudah waktunya mau makan malam, kenapa Paman belum membersihkan diri " sahut Clara lalu membuka pintu Lebar-lebar.


Alexander bangkit dari duduknya, berjalan ke pintu.


Dikecupnya kepala Clara, kemudian merangkul nya.


" Maaf Paman tadi ada urusan sebentar... ayo kita makan, Paman akan mandi secepat kilat "kata Alexander seraya menutup pintu ruang kerjanya, " Bau mu sangat enak, kau pakai sabun baru ya "


" Tidak " geleng Clara, dia mengendus kulitnya, perasaan bau nya seperti sabun biasa yang dia pakai. Atau mungkin karena dia berendam dengan kelopak bunga mawar. Jadi bau nya agak lain.


" Oh gitu...tapi kok enak ya bau nya, tidak seperti biasanya " Alexander kembali mengecup puncak kepala Clara.


Diruang tengah mereka berpisah.


Alexander naik ke lantai dua, sementara Clara masuk ke ruang makan.


Sesuai apa yang dikatakan Alexander, tidak begitu lama dia sudah muncul diruang makan.


Setelah selesai makan, Nicolas sudah menunggu Alexander di pintu ruang kerja Alexander.

__ADS_1


Alexander pun mempersilahkan Nicolas untuk masuk.


Alexander memberi kan surat yang tadi diterima nya dari Jacob pada Nicolas.


Nicolas membacanya.


" Aku akan menyuruh bawahan ku untuk menyelidiki keberadaan nya " kata Nicolas.


" Tujuh belas tahun sudah...,baru sekarang dia mau bicara " geram Alexander marah.


" Aku akan pastikan dia tidak ada maksud lain Tuan " kata Nicolas.


" Dan bagaimana dengan Jhonatan, apa dia sudah kembali ke kota D "


" Dari informasi yang diketahui bawahan ku dia masih di luar negeri "


" Baik.., pantau terus, aku tidak ingin tiba-tiba dia datang dan meneror Clara "


" Baik Tuan.. "


" Kalau begitu kau bisa pulang.. " ucap Alexander sembari berdiri.


" Baik Tuan " Nicolas membungkuk sopan.


Nicolas pun keluar dari ruang kerja Alexander.


Alexander menghela nafas panjang. Lalu berjalan mendekati foto yang tergantung di tembok ruang kerjanya tersebut.


Foto orang tua Clara yang menggendong Clara saat umur 2 tahun dan dirinya yang masih muda.


Alexander mengelus foto tersebut, inilah foto keluarga nya.


Lama Alexander menatap foto tersebut, dia melamun dengan tatapan mata sedih.


Masa-masa dulu bersama kakak angkatnya terbayang di ingatannya. Penyelamat hidup nya, menarik dirinya dari kerasnya kehidupan yang dilalui nya dari bayi.


Hidup tanpa orang tua, tanpa kasih sayang dan cinta orang tua, membuat dia dulu tidak tahu caranya berinteraksi dengan orang lain.


Setelah dia di adopsi, dia pun mulai merasakan rasanya di sayangi. Dicintai dengan tulus.


Sekarang dia sudah dewasa dan sudah mulai menua, dia tetap tidak ingin terikat dengan lawan jenis untuk berumah tangga.


Walau belakangan dia pernah terlibat cinta satu malam dengan beberapa wanita, itu hanya kesenangan semata yang biasa dilakukan para pria dewasa, untuk bersenang-senang.


Dia tidak pernah ingin memiliki wanita yang sudah menjadi bekas pria lain.


Dia merasa bahwa kasih sayang dan perhatiannya hanya pantas dia berikan pada keluarga kakak angkat nya.


Mereka meninggalkan satu-satunya harta yang berharga yang akan di jaganya seumur hidup. Buah cinta mereka, putri mereka yang imut.


Yang menurut Alexander lebih berharga daripada harta dan kekayaan yang selama ini di carinya dengan mudah.


Alexander berlahan meninggalkan ruang kerjanya. Menutup pintunya pelan.


Tidak terasa waktu ternyata telah menunjukkan jam 10 malam.


Alexander menaiki anak tangga, berjalan menuju kamar Clara.

__ADS_1


Dia membuka sedikit pintu kamar, mengintip pemilik kamar apakah sudah tidur.


Kosong, tidak ada orang di tempat tidur.


Alexander membuka pintu lebar-lebar, melongok mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Clara tidak terlihat di mana pun.


Dia mengetuk pintu kamar mandi, sepi. Tidak ada pergerakan, dia buka kosong juga.


Dia bergegas kembali keruang bawah. Menuruni tangga dengan cepat.


Memeriksa setiap ruangan Mansion. Tetap kosong. Kemana gadis kecilnya. Dia mulai khawatir.


Terakhir dia membuka ruang belajar Clara. Tampak gadis imut itu tertidur menelungkup di atas meja belajar nya.


Alexander bernafas lega. Dia melangkah mendekati Clara.


"Apa yang di kerjakan nya? " pikir Alexander heran.


Dia melihat buku gambar dengan lukisan pola baju.


Alexander tersenyum. Ternyata Clara sedang mengerjakan desain baju. Clara memang sangat suka membuat baju. Karena itu dia mengambil jurusan desainer.


Berlahan Alexander merapikan meja Clara. Dan pelan-pelan mengangkat Clara.


Dengan lembut dia menggendong Clara. Alexander tersenyum melihat Clara yang begitu nyenyak nya tidur. Di elusnya pipi Clara dengan lembut.


" Gadis kecil ku yang cantik " gumamnya mengecup bibir Clara.


Alexander kemudian membawa Clara ke lantai atas.


Bibi Melinda yang melihat Alexander menggendong Clara dari jauh tersenyum bahagia.


" Pasangan yang serasi " gumamnya bahagia, " Semoga mereka secepatnya menikah, usia Tuan Alexander sudah tidak muda lagi, sudah seharusnya memiliki keturunan "


Alexander mendorong pintu kamar Clara dengan punggungnya, dan menutup kembali dengan punggungnya.


Meletakkan Clara berlahan ke tempat tidur. Menarik selimut menutup tubuh Clara.


Dia menatap wajah Clara lama, menelusuri setiap wajah nya.


Dan berakhir menatap bibir nya yang sedikit terbuka. Terlihat sangat menggoda, bibir yang penuh terlihat menantang ingin di kecupnya lagi.


" Clara..kau hanya milik Paman, jangan berpikir untuk memikirkan laki-laki lain..., Paman tidak akan membiarkan siapa pun mengambil mu dari sisi Paman "


Berlahan Alexander mendekatkan wajah nya ke wajah Clara. Dengan lembut dia mengecup bibir Clara.


Rasanya selalu tetap manis, dan menjadi candu bagi Alexander. Rasa nya dia ingin berlama- lama menikmati bibir Clara.


Alexander merasa enggan untuk meninggalkan Clara. Dia ingin malam ini tidur memeluk Clara sama seperti malam sebelum nya.


Dia bergegas mematikan lampu, lalu menyalakan lampu tidur.


Dan kemudian bergabung dengan Clara masuk ke dalam selimut. Menarik Clara ke dalam pelukannya, lalu memejamkan mata.


Sangat nyaman tidur memeluk Clara. Tidur nya bisa nyenyak.


Tidak berapa lama Alexander pun terlelap.

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2