Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
54.


__ADS_3

Jhonatan juga tidak kalah terkejut melihat saksi yang di hadirkan oleh Pengacara Penuntut.


Pria tersebut kemudian duduk di kursi saksi.


" Apakah anda mengenal pria yang duduk di kursi saksi Tuan Jhonatan?" tanya Pengacara Penuntut.


" Saya...saya.." Jhonatan tidak bisa menjawab.


" Baiklah kalau anda tidak bisa menjawabnya, saya yang akan menjawab nya untuk Yang Mulia Hakim Ketua..." ujar Pengacara Penuntut tersebut santai.


" Yang Mulia...saksi yang saya hadir kan di kursi saksi adalah sopir pribadi Nyonya Melisa Anggraini Putri...sebagai mana hasil rekaman bukti yang saya tampil kan tadi, semua sudah menyaksikan, bahwa Nyonya Melisa dan sopir nya yang berupaya menyabotase mobil korban....mereka bekerja sama melakukan untuk melenyapkan korban " kata Pengacara Penuntut.


" Dan semua ide dan rancangan dari Nyonya Melisa sendiri..." lanjut Pengacara Penuntut.


" Apakah anda yang ada di dalam rekaman video tersebut Tuan Leo?" tanya Pengacara Penuntut pada saksi.


" Ya...itu saya sendiri " jawab nya sembari mengangguk.


" Dan apakah wanita yang bersama anda itu adalah Nyonya Melisa Anggraini Putri majikan anda sendiri?"


" Ya. Benar "


Ruang sidang kembali riuh mendengar pengakuan saksi. Sangat berbeda dengan pengakuan Jhonatan yang mengatakan rekaman tersebut hasil editan.

__ADS_1


" Dan apakah anda yang berusaha untuk melenyapkan saksi Hendrik saat melihat ternyata masih hidup pada kejadian tiga belas tahun yang lalu, dan itu atas suruhan majikan anda Nyonya Melisa?"


" Iya benar sekali " angguk saksi yang bernama Leo tersebut.


" Tidak!!" tiba-tiba terdakwa Melisa berdiri sambil berteriak, " Dia bohong..saya tidak pernah memerintahkan seperti itu!!"


Melisa histeris tidak terima dengan kesaksian sopir pribadi nya tersebut.


" Dia telah disuap untuk bersaksi palsu, semua yang dikatakan nya bohong...!!" teriaknya histeris.


" Apakah anda disuap untuk memberikan kesaksian palsu?" tanya Pengacara Penuntut pada saksi Leo.


" Tidak!" dengan tegas Leo menggeleng.


" Tolong aman kan terdakwa " sahut Hakim Ketua seraya mengetuk palu.


Melisa meronta tidak terima di apit Petugas dan mengikat tangannya kebelakang punggung nya.


" Anda harus tenang Nyonya...kalau anda tidak mau di perlakukan kasar " ujar Petugas tajam.


Melisa akhirnya berusaha untuk tenang.


Sidang pun kembali dilanjutkan, dan semua bukti-bukti yang ditunjukkan kepada saksi Leo oleh Pengacara Penuntut di benarkan olehnya.

__ADS_1


Dan akhirnya hasil tes DNA Jhonatan dan Clara pun keluar.


Dan Pengacara Penuntut membacakannya dengan suara lantang di ruang sidang tersebut.


Dan hasilnya sama seperti dari awal dia memberikan hasil tes DNA pada Hakim Ketua.


Tidak ada ikatan darah sama sekali, 0,1% pun tidak ada.


Jhonatan dan Melisa tidak bisa lagi untuk membantah keakuratan hasil tes tersebut.


Dan akhirnya sidang pun berakhir.


Hakim Ketua dan para juri pun meninggal kan ruang sidang untuk merundingkan hasil keputusan sidang atas para terdakwa.


Clara sepanjang persidangan sangat shock dengan bukti-bukti yang tunjukkan. Dia bergidik ngeri.


Hatinya sangat sakit mengetahui kematian orang tuanya yang telah direncanakan, karena ingin menguasai harta warisan yang diberikan Kakeknya.


Dengan lemah lembut Alexander menenangkan Clara dengan memeluknya, dan sesekali mengelus punggungnya.


Clara menggenggam erat ujung jas Alexander gemetar. Perasaannya benar-benar hancur dan terluka.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2