Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
51.


__ADS_3

Alexander tidak percaya apa yang dilakukan Clara.


Ternyata dia salah sangka, dia pikir tadi Clara ingin berkompromi dengan Jhonatan.


Ternyata Clara membelanya, Alexander tersenyum bangga dengan tindakan yang dilakukan Clara.


" Apa kata mu tadi??" Melisa mendekati Clara, " Kau telah menikah dengan nya " Dia menunjuk ke arah Alexander.


" Ya..., kenapa? ada masalah?" Clara menatap tajam Ibunya Jhonatan.


" Apa kau tidak tahu..., dia itu sangat jahat, dia yang merencanakan pembunuhan orang tuamu" kata Melisa dengan penuh keyakinan.


" Aku tidak percaya, bukti yang akan menjawab nya nanti " kata Clara


" Jangan coba-coba menghina suamiku, dia bukan orang yang seperti itu " kata Clara tajam.


Clara kemudian berbalik dan berjalan kembali menghampiri Alexander.


" Dengar Clara...kau lebih pantas menikah dengan Jhonatan...jadi aset keluarga kita tidak akan berpindah tangan kepada orang lain " ujar Melisa berusaha untuk mengambil hati Clara.


" Aku tidak kenal dengan kalian...aku tidak punya keluarga lain, keluarga ku hanya Alexander seorang yaitu suamiku " sahut Clara lantang.


Alexander merangkul bahu Clara, mereka pun memasuki ruang sidang.

__ADS_1


" Alexander kau brengsek...kau telah mencuci otak Clara...aku akan membalas mu!!" teriak Melisa histeris, dia sudah merancang untuk menguasai harta orang tua Clara.


Tapi yang mendapatkan ternyata Alexander, dia benar-benar tidak terima.


Petugas menarik mereka ke ruang sidang karena mereka berupa untuk mengejar Alexander dan Clara.


Ruang sidang terlihat penuh, kebanyakan dari wartawan dan kalangan masyarakat.


Mereka begitu tertarik untuk melihat kejadian sebenarnya yang terjadi tiga belas tahun yang lalu.


Tidak berapa lama sidang pun dimulai.


Dengan bukti-bukti yang ada, Pengacara dari Alexander membeberkan kejahatan Melisa yang dia rencanakannya tiga belas tahun yang lalu.


Pertanyaan demi pertanyaan di ajukan Pengacara pihak Alexander.


Dan Melisa selalu membantahnya, dia mengatakan dia dijebak.


Dan sewaktu bukti-bukti ditunjukkan, dia pun tetap membantah, dia mengatakan bukti tersebut palsu.


Mendengar pengakuan Melisa tersebut, ruang sidang jadi riuh, banyak yang jadi ragu akan bukti-bukti yang diperlihatkan oleh pihak Alexander.


Di meja Penuntut, Alexander duduk tenang mendengar Melisa membantah semua bukti-bukti yang tunjukkan.

__ADS_1


Dia menggenggam tangan Clara untuk membuat Clara tetap tenang.


Dan saat Jhonatan maju duduk di kursi terdakwa. Sama seperti Melisa membantah semua tuduhan yang di lontarkan padanya di bantahnya.


Dia mengatakan dia dijebak seseorang. Dia mengatakan kalau dia tidak mungkin melakukan hal kejahatan pada Pamannya sendiri.


Pengacara penuntut memberikan bukti pada Hakim bahwa Jhonatan dan Clara tidak ada hubungan darah sedikit pun.


Jhonatan tetap membantah bahwa surat DNA tersebut palsu.


" Ibu Hakim Yang Mulia... apakah boleh untuk membuktikan kalau memang surat ini tidak palsu?" tanya Pengacara Penuntut.


" Ya, silahkan " kata Hakim mengijinkan.


" Terimakasih Ibu Hakim Yang Mulia..." ucap Pengacara Penuntut membungkuk kan kepalanya sedikit dengan sopan.


Dia pun melangkah ke arah Jhonatan, tangannya ter ulur untuk mengambil beberapa helai rambut Jhonatan.


Tiba-tiba Jhonatan bangkit dari duduknya menghindari tangan Pengacara Penuntut tersebut.


" Mau apa anda...,ini namanya tidak sopan yang Mulia Hakim " sahut Jhonatan dan memandang pada Hakim untuk meminta penolakan, dia nampak panik.


" Bukankah anda mengatakan bahwa bukti yang saya berikan adalah palsu...., jadi kita bukti kan benar atau palsu dengan cara mengambil secara langsung sampel rambut anda dan Nona Penuntut " kata Pengacara Penuntut.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2