
Alexander dan asistennya Nicolas tidak begitu sulit untuk menemukan Restoran mawar putih yang disebutkan teman Clara tadi.
Restoran terlihat sangat ramai oleh pelanggan, para pelayan nampak sangat sibuk melayani.
"Silahkan Tuan... " Nicolas membukakan pintu untuk Alexander.
"Selamat datang Tuan-tuan..., silahkan. Apakah mau pesan ruang Vip... " sahut pelayan restoran ramah sembari senyum.
"Tidak... disini saja " ucap Alexander.
"Oh... silahkan Tuan, sebelah sini ada meja kosong.. " sang pelayan menunjuk meja kosong pada Alexander dan Nicolas.
Si pelayan menarik kursi untuk Alex duduk.
"Terimakasih.. " kata Alex.
"Sama-sama Tuan.... oh ya..mau pesan makan apa Tuan.. "
"Nanti saja... " sahut Alex.
"Baik Tuan... saya permisi dulu"
Alexander mengedarkan pandangannya ke seluruh restoran, dia melihat satu persatu pelayan tersebut, terutama yang para wanitanya.
"Tuan... coba lihat sebelah sana.. " sahut Nicolas kearah ujung restoran.
Tampak seorang pelayan wanita muda dengan rambut di ikat tinggi tinggi, dia nampak sangat menikmati pekerjaannya. Terlihat dengan cara dia melayani, selalu senyum dan ramah berbicara pada pelanggan.
Mata Alexander tidak berkedip melihat gadis itu. Dia membeku di tempat duduk nya. Rasanya dia tidak percaya, apakah benar itu Clara? gadis kecil nya yang imut? gadis kecilnya yang manja?.
Sangat berbeda sekali dengan yang ini, tampak gadis itu terlihat dewasa dari usia nya. Cara dia berbicara dan bersikap nampak seperti di atas usia nya.
Senyumnya itu begitu manis, semua orang menatap nya terpesona.
Tiba tiba wajah Alexander menggelap, tatapan orang orang tersebut pada Clara tidak disukai nya. Mata mereka seolah olah ingin melahap Clara.
Ingin rasanya dia menghampiri meja tersebut, membalikkan mejanya agar orang orang itu berhenti menatap Clara.
Tampak peluh mulai mengucur di kening Clara dan mengalir ke lehernya. Glek! Alexander menatap leher Clara yang jenjang.
Semua mata pria memandang Clara saat melewati meja meja pelanggan, mereka sangat terpesona dengan kecantikan dan senyum manis Clara.
Dan sial nya Clara membalas ramah dengan anggukan kepala pada para pelanggan tersebut.
Entah perasaan apa yang mengalir di dada Alexander, dia tidak senang dengan semua apa yang dilihatnya.
Dia benar-benar ingin menurunkan rambut Clara agar lehernya yang jenjang tidak dilihat mata para lelaki itu.
"Tuan benar kah itu Non Clara... " sahut Nicolas " wah ternyata setelah besar dia jadi semakin cantik saja ya " mata Nicolas tampak takjub memandang Clara.
__ADS_1
"Diam!! " bentak Alexander. Dia tampak tidak senang Nicolas mengagumi kecantikan Clara.
"Maaf Tuan " Nicolas cepat cepat menunduk. Dia tahu boss nya nampak tidak suka ponakannya di pandang begitu lekat.
"Ayo kita keluar... kita menunggu di mobil saja " sahut Alexander sambil berdiri. Dan kemudian berjalan keluar restoran tersebut.
"Baik Tuan... " Nicolas ikut bangkit dan mengikuti boss nya tersebut.
Di dalam mobil Alexander mengusap wajah nya kasar, dia merasa sangat teledor selama 6 tahun ini.
Kemana saja dia tidak begitu memperhatikan Clara. Terlalu sibuk dengan bisnis nya, Clara jadi terabaikan.
Alex menghela nafas kasar, dia mengepal tangannya erat. Maafkan paman Clara, bisik nya merasa bersalah.
...****************...
Jam 9 malam Clara akhirnya bernafas lega, jam kerjanya sudah selesai, ini waktunya pulang. Dia pun permisi pada manajer dan seniornya yang lain.
"Hati-hati di jalan Clara... " sahut mereka.
"Iya... yok.. duluan ya " dia melambai kan tangannya.
"Iya... " sahut mereka.
Clara sudah berganti baju, dan rambutnya sudah di geraikan nya kembali.
"Tuan... Non Clara sudah keluar " ujar Nicolas.
Alexander reflek melihat ke arah pintu restoran, terlihat gadis kecilnya melangkah keluar.
Alexander secepat kilat keluar dari mobil, dia pun berjalan mendekati Clara.
"Clara.. " panggilnya
Clara menoleh melihat ada orang memanggil namanya. Dia sangat terkejut melihat orang tersebut, apakah dia tidak salah lihat. Dia membeku di tempatnya berdiri.
"Pa.. paman " gumamnya pelan nyaris tak terdengar. Dia menatap tak berkedip, jantung nya berdebar tak percaya.
Apakah benar ini paman, pikirnya.
Melihat reaksi Clara yang diam di tempat membuat Alexander heran.
Dulu biasanya dia akan langsung berlari memeluk nya, dia akan berteriak manja dan bergelayut di pelukannya sambil memanggil namanya.
Kali ini tidak ada respon dari Clara, dia tampak biasa-biasa saja.
Kening Alexander mengernyit merasakan ada sesuatu yang berbeda pada Clara.
Dia pun merentangkan tangannya lebar lebar, kemudian tersenyum manis pada Clara.
__ADS_1
"Apakah kau tidak mau memeluk pamanmu ini gadis kecilku.. , lama tidak bertemu, apakah kau tidak rindu.." sahut Alex.
Clara ingin menangis rasanya, ini seperti mimpi, pamannya mencari dia sampai ke kota T. Rindu! tentu saja, dia sangat rindu.
Rindunya sudah menggunung tidak bisa lagi di ungkapkan, sangat menyiksa. Tapi dia tidak boleh seperti dulu lagi, sekarang pamannya sudah ada yang memiliki.
Jadi dia harus bersikap dewasa, tidak boleh egois. Kalau dia berlari ke pelukan pamannya, dia takut tidak bisa melepaskan pamannya.
Cintanya yang selama ini di usahakan nya agar memudar, takutnya nanti jadi semakin membesar tidak bisa melepaskan pamannya pada wanita lain.
Clara tersenyum memandang pamannya, dia melangkah mendekati Alexander. Dia bukan memeluk, tapi mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Apa kabar paman..,lama tidak bertemu.. " ucapnya seperti orang lain saja.
Alexander nampak tidak senang dengan reaksi Clara. Apa-apaan ini! pikirnya kesal, apakah dia marah karena kelalaian ku selama ini tidak pernah berkomunikasi dengannya?.
Alexander menatap tangan Clara yang terulur untuk bersalaman. Wajahnya terlihat tidak senang dengan sikap Clara, dia tidak ingin bersalaman, dia ingin di peluk, pelukan yang erat.
Nicolas yang menyaksikan itu pun heran juga dengan sikap Clara, sepertinya Clara menjaga jarak dengan Alexander.
Seperti ada sesuatu yang membuat dia enggan untuk memeluk pamannya itu.
Berlahan Alexander pun mengulurkan tangannya untuk menyalam Clara. Tangan mereka pun saling menggenggam erat bersalaman, tapi dalam hitungan detik Alexander menarik Clara ke dalam pelukannya.
"Paman tidak ingin salaman... paman ingin pelukan" ujar Alexander memeluk Clara posesif.
Clara terkejut dengan tarikan tangan pamannya tersebut, dia tidak bisa menghindar lagi.
Clara di peluk Alexander erat-erat, seolah tidak ingin melepaskannya. Sampai Clara terangkat keatas, kakinya terayun ayun menjuntai.
Nicolas tersenyum senang menyaksikan dua insan yang lama tidak bertemu tersebut. Nona kecilnya yang telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, sungguh menakjubkan.
Alexander membenamkan wajahnya ke leher jenjang Clara, oh..wangi ini sangat menenangkan. Rasanya Alexander seperti kembali ke rumah, sangat nyaman rasanya tidak bisa di ungkap kan.
Perasaan nya yang selama ini merasa gersang seolah olah tersiram air sejuk dengan memeluk Clara.
"Clara... maaf kan paman sudah mengabaikan mu.... paman mohon jangan membenci paman, rasanya hati paman sangat sakit saat kau mengulurkan tanganmu hanya ingin bersalaman saja " kata Alexander semakin memperdalam wajahnya ke leher jenjang Clara.
Clara tidak bisa berkata-kata lagi, dadanya pun sudah mau meledak menahan tangis.
Rindunya selama ini akhirnya terlepaskan juga. Dia tidak perduli lagi, biarkan lah dia egois. Dia pun membalas pelukan pamannya erat-erat.
Dan tangisan nya pun meledak lah sudah. Dia menangis sejadi-jadinya.
Nicolas sebagai penonton pun jadi ikut merasakan sedih, terharu melihat Boss dan Nona kecil nya melepas rindu.
Tanpa sadar dia pun meneteskan air mata bahagia.
Bersambung..........
__ADS_1