
Jam lima sore Alexander membawa Clara ke butik gaun ternama di kota T, sebagaimana janjinya tadi pagi akan membawa Clara ke suatu acara.
Malam ini Alexander akan membawa Clara sebagai pasangannya ke resepsi pernikahan rekan bisnisnya.
Clara memilih satu gaun malam berwarna pink dengan kerah v yang tidak begitu dalam, lengannya yang berenda bunga mawar terlihat sangat elegan.
Begitu di coba, sangat pas di badannya. Pinggangnya terlihat sangat ramping, dan panjang gaun hanya sampai mata kaki saja.
"Ya ampun.. cantik sekali non.. " ucap si pelayan butik takjub melihat penampilan Clara yang memukau.
Mulutnya sampai menganga tak percaya. Memang pakaian yang indah akan sesuai bila dipakai pada orang yang tepat.
Clara melihat ke cermin, dia pun tidak percaya dengan penampilannya. Dia seperti tidak mengenali dirinya.
Kulitnya yang putih bersih tampak terlihat lebih terang, seputih susu. Lehernya yang jenjang terlihat sangat menggoda , karena rambutnya di ikat tinggi.
"Mari nona..kita perlihatkan pada Tuan Alex..., apakah dia setuju dengan gaun ini "
Alexander telah selesai memilih pakaian juga, dia duduk menunggu di depan ruang ganti Clara.
Kepala nya menengadah yang tengah melihat-lihat majalah saat mendengar tirai ruang ganti terbuka.
Dia tiba-tiba tertegun melihat ke depan. Matanya tidak berkedip melihat sosok gadis cantik yang berdiri tidak jauh dari nya.
Benar kah itu gadis kecilnya? Matanya rasanya tidak percaya melihat sosok Clara yang begitu sangat cantik dengan gaun pesta tersebut, sangat cocok sekali ke tubuhnya.
Kulitnya yang seputih susu, dengan leher jenjangnya yang menggoda. Glek! Apa?!
Tidak! Baju ini sangat terbuka, kerah lehernya agak rendah hingga hampir memperlihatkan lekukan dadanya. I
Ini akan mengundang mata para lelaki nantinya jelalatan melihat Clara, ini terlalu terbuka.
Tidak! Tidak! Tidak!... Alexander tiba-tiba merasa tidak sudi, tidak ingin berbagi pada siapapun untuk mengagumi Clara.
"Ganti..!!"sahutnya dengan wajah datar, " Terlalu terbuka, cari yang kerahnya agak tinggi menutup leher "
Dia kembali meraih majalah yang diletakkannya tadi, dan kembali membacanya.
"Tapi Tuan... ini terlihat sangat cocok dan cantik sesuai dengan bentuk tubuh non Clara " sahut si pelayan.
Mata Alexander tajam melihat pelayan tersebut, dia benar-benar tidak senang perintah nya di bantah.
"Ba.. baik Tuan.." si pelayan gemetar melihat aura dingin Alexander yang mengancam.
Dia telah membuat kesalahan, benar-benar bodoh, gara-gara kesalahannya butik mereka bisa tutup.Bahaya!
"Coba yang ini non " si pelayan mengambil satu gaun pesta mewah lainnya yang lebih sopan, warna kuning lembut pasti cocok juga ke warna kulit Clara. Dengan leher tinggi dan terlihat elegan.
Alexander kembali mengangkat kepalanya saat mendengar tirai ruang ganti terbuka.
__ADS_1
Terlihat dia tersenyum melihat penampilan Clara di balut gaun kuning lembut tersebut, memang masih terlihat cantik dan sangat mempesona.
Tapi setidaknya tidak begitu terbuka lagi. Nampak dia puas dengan pilihan pelayan tersebut. Dia mengangguk setuju.
"Bagus... itu saja, sangat cantik " ucapnya seraya berdiri, " Ayo kita pergi ke salon "
Alexander menggenggam tangan Clara membawanya ke kasir untuk membayar pakaian mereka. Dia kemudian menyodorkan kartu hitam tanpa batas.
...****************...
Tepat jam tujuh malam mereka pun meluncur menuju Hotel Emerald Genius, salah satu cabang hotel Groups Genius di kota T.
Hotel ini hotel yang paling termewah dan termahal di kota T, biasanya kalangan orang kaya kota T saja yang selalu menyewa Hotel Emerald Genius untuk acara-acara seperti resepsi pernikahan, ulang tahun, anniversary dan lainnya.
Nicolas menghentikan mobil tepat didepan hotel, terlihat karpet merah terhampar sepanjang jalan menuju pintu hotel.
Alexander turun lebih dulu dari mobil, dan menahan pintu untuk Clara turun dari mobil.
Dia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Clara, Clara mengulurkan tangannya menerima uluran tanga Alex.
Alexander tersenyum menatap Clara yang terlihat sangat cantik dan anggun.
Dia menggenggam tangan Clara posesif, tangan Clara yang kecil sangat nyaman dalam genggamannya.
Mereka pun berjalan di karpet merah memasuki hotel.
"wahhh... lihat itu Tuan Alexander.. tampan nyaaa.... " para wanita yang mengenal Alexander histeris melihat kedatangannya.
"Apakah itu kekasih Tuan Alexander... mereka terlihat sangat cocok ya "
"Iya.. tampan dan cantik..., pasti anak mereka nantinya cantik dan tampan juga "
"Aku patah hati... ternyata pujaanku sudah ada yang punya "
" Siapa bilang cocok... kayak nya gak pantas, pasti cewek itu baby sugar... penyuka harta saja, lihat baju nya itu.., edisi terbatas "
"Iya benar "
Alexander memeluk pinggang Clara posesif, dia mendengar ocehan para wanita tersebut tidak senang.
Dia menunjukkan wajah dinginnya pada setiap wanita-wanita yang memandang nya terpesona.
Alexander membawa Clara ke aula hotel, sang punya acara melihat Alexander, dan kemudian tergesa-gesa menghampiri.
"Selamat malam Tuan... silahkan sebelah sini " ucap nya ramah sembari tersenyum senang, menuntun Alexander dan Clara ke meja yang telah di sediakan khusus buat mereka.
Alexander menarik satu kursi untuk tempat duduk Clara. Dan sang punya acara menarik kursi yang di sebelah Clara untuk Alexander.
"Silahkan Tuan.. "
__ADS_1
"Terimakasih " ucap Alexander.
"Halo Tuan Alex... senang bertemu dengan anda, sudah lama tidak mengobrol dengan Tuan.. " sahut seorang pria paruh baya di meja yang sama dengan mereka , meja tersebut khusus buat lima orang tamu.
Dia berdiri sambil membungkuk hormat pada Alexander.
Alexander memandang pria tersebut, dia ingat pria tersebut salah satu pejabat di kota T.
"Apa kabar Tuan Nelson Chandra Phonie... " kata Alex mengangguk.
"Kabar baik Tuan... kenalkan ini istri saya " Si pak pejabat mengenalkan istrinya.
"Salam kenal Tuan.. " sahut istrinya ikut berdiri juga seperti suaminya membungkuk hormat, " saya Agatha istri Nelson "
"Salam kenal juga " jawab Alexander.
"Lama tidak datang ke kota T Taun... senang melihat anda menginjakkan kaki ke kota kita lagi " sahut seorang pria paruh baya lagi yang duduk semeja dengan mereka, dia pun ikut berdiri juga dan memberi hormat "Saya Hendra Augustine "
"Ah... ya, saya masih ingat.. apa kabar Tuan Hendra "
" Kabar baik Tuan " ucapnya tersenyum.
"Siapa kah gadis cantik disebelah Tuan? " sahut istri Nelson hati hati, "Apakah dia kekasih anda yang tidak pernah anda perlihatkan kepada publik? "
Pipi Clara memerah mendengar ucapan istri Si pejabat Nelson Chandra Phonie tersebut.
Seandainya iya, betapa senang hatinya, tapi dia hanyalah seorang keponakan saja di mata Alexander.
Keponakan tersayang yang tidak boleh dipandang sebagai seorang gadis, gadis yang dicintai sebagai wanita pada umumnya.
"Dia pemilik sah Groups Genius, keponakan saya " jawab Alexander sembari meremas jemari Clara lembut yang dari tadi masih tetap di genggaman nya di bawah meja, dia tersenyum manis menatap Clara.
"Ohh.. " Mereka bertiga terkejut memandang Clara. Mereka tidak menyangka pemilik Groups Genius ternyata seorang gadis muda, seumuran dengan anak gadis mereka.
"Salam kenal nona....." kata kata salam dari istri Nelson berhenti karena belum tahu nama Clara.
"Saya Clara Stephanie nyonya... " sahut Clara ramah sembari tersenyum manis.
Mereka bertiga kembali terkejut memandang Clara, senyuman nya sangat manis, sungguh mempesona.
Alexander tidak senang melihat reaksi ketiga orang tersebut, yang terpesona oleh senyuman Clara. Dia meremas tangan Clara kuat.
"Auww.. " Clara meringis kesakitan, menghentikan senyuman nya.
"Kenapa... " mereka bertiga terkejut melihat Clara meringis kesakitan.
"Oh... tidak apa apa..., kaki saya tidak sengaja membentur kaki meja " jawab nya berbohong.
"Anak gadis kami juga sepertinya seumuran dengan nona Clara.. mereka datang juga, tapi lain meja... nanti saya kenalkan pada non Clara " kata Agatha.
__ADS_1
Tak berapa lama pun acara di mulai, Alex dan Clara menikmati hidangan demi hidangan yang disajikan di meja mereka.
Bersambung.....