
Clara tertawa setelah mencukur habis Brewok Alexander.
Terlihat berbeda tanpa brewok, wajahnya jadi kelihatan tambah muda.
" Paman terlihat seperti usia tiga puluh tahun" katanya sembari mengelus hasil kerjanya.
Alexander memandang wajahnya di cermin wastafel, iya...tampak terlihat muda.
" Nanti juga tumbuh lagi..." kata Clara mengecup pipi Alexander.
" Ternyata kau pandai juga mencukur ya... sangat bersih " kata Alexander mengelus rambut Clara.
" Paman mandilah, aku akan menyiapkan baju Paman..." ucap Clara sembari turun dari wastafel.
" Baik sayang..." Alexander memeluk Clara sebentar.
Lalu Clara pun keluar dari kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian mereka pun turun untuk makan malam.
" Sepertinya kau tidak boleh lagi memanggil Paman dengan sebutan Paman " Kata Alexander di sela-sela makan mereka.
Clara mendadak berhenti menyuap nasi nya.
" Jadi aku harus panggil apa sama Paman?"
" Sebentar lagi kita akan menjadi suami istri, rasanya tidak pantas kau memanggil suami mu dengan sebutan Paman kan?"
" Iya " angguk Clara.
" Mungkin harus panggil Honey...atau suamiku.. atau sayangku " kata Alexander.
__ADS_1
Clara tampak terdiam mendengar perkataan Alexander.
Dia berpikir sebutan apa yang cocok untuk Pamannya setelah mereka menikah, kayaknya cocok kalau panggil Suamiku saja, pikirnya.
" Aku akan panggil Suamiku saja Paman " kata Clara.
Alexander tersenyum mendengar panggilan Clara tersebut. Dia terlihat sangat senang.
" Itu sangat cocok..., tapi sebelum kita menikah...Paman ingin kau memanggil Paman dengan sebutan Sayangku.."
Clara menyipit kan matanya memandang Alexander, banyak sekali maunya Paman yang satu ini, pikirnya cemberut.
" Kenapa? " tanya Alexander tersenyum melihat Clara memandang nya begitu intens.
" Baiklah...mulai hari ini aku panggil Paman dengan sebutan Sayangku "
" Pintar.., coba Paman mau dengar cara mu memanggil Paman " Alexander memandang Clara tersenyum.
" Paman tidak dengar, terlalu pelan "
" Sayangku... " ucap Clara tapi masih dengan nada canggung, rasanya lidahnya seperti kaku.
" Sepertinya kau belum bisa menerima kenyataan " kata Alexander kembali menyendok makanannya ke mulut.
" Baiklah " kata Clara memantapkan perasaan nya, " Sayangku... " ucapnya merdu, sangat enak di dengar telinga.
Alexander membeku di tempatnya, dia sangat suka mendengar suara Clara yang memanggilnya dengan sebutan Sayangku tersebut.
Di tatap nya Clara dengan wajah merona, hatinya sangat bahagia.
Alexander me lap mulutnya, lalu bangkit dari tempat duduk nya, kemudian menghampiri Clara.
__ADS_1
" Aku sangat suka mendengar kau memanggil Paman dengan sebutan Sayangku... sayang aku semakin mencintai mu " Alexander mengecup bibir Clara sekilas, lalu mengecup kepalanya.
Clara sangat senang Paman nya terlihat sangat bahagia.
" Sayangku... " panggil Clara.
" Ya sayang... "jawab Alexander.
" Ayo kita makan lagi " sahutnya.
" Oh iya...ayo makan lagi " Alexander tersadar dia tengah berdiri disamping Clara.
Mereka kembali melanjutkan makan mereka.
Sambil sesekali saling melirik, pipi Clara merona karena asik terus di lirik Alexander.
Sementara yang melirik merasa tidak percaya dengan apa yang dirasakan nya saat ini. Hatinya semakin bahagia saja, dia seperti anak remaja yang lagi kasmaran.
Apakah ini cinta pertama nya? Alexander memikirkan perjalanan asmaranya, sepertinya dia seumur hidup belum pernah jatuh cinta pada seseorang wanita.
Ya, walaupun di saat dia lagi merintis bisnisnya sampai keluar negeri, dia tidak pernah jatuh cinta pada seseorang.
Dia terlalu sibuk untuk memikirkan cinta, yang dilakukan nya hanya bersenang-senang dengan para wanita penghibur.
Tetapi kemudian dia menyadari, bahwa dia terlalu berharga di jamah oleh para wanita murahan tersebut.
Tubuhnya hanya boleh disentuh oleh wanita yang dicintainya.
Karena itu saat di usia tiga puluh tiga tahun dia berhenti bermain-main dengan wanita manapun.
Dia jadi merasa jijik di sentuh oleh para wanita murahan tersebut.
__ADS_1
Bersambung........