Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
30.


__ADS_3

Alexander membawa Clara ke dalam mobil, dia membopong Clara dengan penuh kelembutan.


Dan Clara memeluk leher Alexander erat, dia masih gemetar ketakutan.


Peristiwa ini membuat dia benar-benar shock, pisau belati yang tadi ditodong kan dileher nya, seperti masih terasa dingin menempel dileher nya.


Dia terisak gemetar, wajah nya dibenamkan dalam-dalam ke leher Alexander.


Alexander mengetatkan geraham nya, dia masih emosi. Belum puas rasanya dia menghajar Jhonatan.


Ya, dia belum selesai.


Besok dia akan mengintrogasi si brengsek itu. Dan menghajarnya sampai dia puas.


Jantung nya sudah mau jatuh tadi melihat pisau menempel di leher Clara.


Dia sangat ketakutan seandainya tadi pisau itu merobek leher Clara.


Dan kenyataannya memang telah tergores, walau goresan tipis.


Dan itu cukup membuat Alexander benar-benar ingin membunuh Jhonatan.


Sekarang dia akan membawa Clara dulu, dan memeriksa lukanya.


Alexander mengecup kepala Clara untuk menenangkan nya.


Nicolas bergegas membawa Alexander dan Clara , berlahan mobil itu meninggalkan tempat persembunyian Jhonatan.


Alexander memeluk Clara dalam pangkuannya, di belainya rambut Clara yang berantakan.


Berkali-kali di kecupnya ujung kepala Clara, menenangkan Clara yang masih gemetar.


Dan juga untuk menenangkan perasaan nya yang tadi begitu sangat ketakutan jika Clara terluka.


Sebelum sampai di Villa Nicolas sudah menelepon Dokter.


Dan begitu mereka sampai di Villa tampak Dokter sudah menunggu.


Dengan lemah lembut Alexander menggendong Clara naik ke kamar.


Nicolas dan Dokter berjalan mengikuti Alexander dari belakang.


Dokter kemudian memeriksa keadaan Clara. Luka di leher Clara kemudian di balut, dan Dokter memberi obat untuk luka Clara.


" Dia masih shock Tuan..., perlu istirahat yang cukup...dan kalau bisa jangan ditinggalkan dulu sendirian...,tiga hari lagi saya akan datang untuk memeriksa keadaan nya " ucap Dokter pada Alexander.


Kemudian Dokter pun pergi di antar oleh Nicolas.


Alexander mengecup kening Clara.


" Maafkan Paman.... Paman terlalu lalai tidak memperhatikan lebih untuk mengawasi Jhonatan " kata Alexander lembut menatap Clara.


" Aku tidak kenal dengan nya Paman " kata Clara.

__ADS_1


" Dia sepupu tiri mu " Alexander duduk di tepi tempat tidur, " Sudah lama dia mau mengambil alih perusahaan Abang Ipar "


Clara meraih tangan Alexander.


" Apa Paman terluka?" tanya nya seraya memeriksa tangan Alexander.


" Paman baik-baik saja " Alexander mengelus kepala Clara, " Apa dia berbuat jahat padamu? "


Clara geleng kepala.


" Dia hanya ingin aku bekerja sama dengan nya, dia ingin mengambil alih Perusahaan Papa "


" Dia tidak berhak atas harta warisan mu, dia tidak ada hubungan darah dengan Kakek...,Ayahnya bukan anak Kakek, Ibu tiri Abang Ipar telah menipu Kakek dengan kehamilan nya "


Clara tidak percaya dengan penjelasan Paman nya tersebut, dia tidak menyangka ada juga wanita yang melakukan cara yang nekat untuk mendapatkan yang di inginkan nya.


Ah, iya...dia ingat banyak wanita yang seperti itu, beberapa waktu lalu ada yang mencoba menjebak Pamannya.


Dan untung nya Pamannya tidak bisa di curangi.


Clara menatap Alexander lekat-lekat, pria yang dari dulu diam-diam di cintainya.


Cintanya semakin dalam pada Pamannya tersebut. lelaki yang tegas dan penuh perhitungan.


" Kau masih kecil waktu itu, jadi tidak tahu peristiwa nya " kata Alexander.


Pintu kamar tiba-tiba ada yang mengetuk.


Alexander menerimanya, dan menutup kembali pintu kamar.


Dia menaruh baskom di atas nakas.


" Mari Paman lap badan mu "


Clara membuka bajunya, dia tidak peduli lagi dengan rasa malu. Badannya sangat lengket.


Dan dia kemudian hanya memakai pakaian dalamnya saja.


Alexander mengambil handuk bersih, dan juga baju tidur Clara.


Meletakkan nya di sisi tempat tidur.


Kemudian mulai mengelap badan Clara.


Berlahan dengan hati-hati Alexander mengelap lengan Clara.


" Kau tahu...betapa takutnya Paman kalau kau terluka...,Paman sangat takut kau kenapa-kenapa....,Paman tidak akan memaafkan diri Paman " sahut Alexander mengelap wajah Clara.


" Aku sudah biasa di aniaya Paman.. " Clara tersenyum.


Alexander berhenti mengelap wajah Clara, wajah nya mulai nampak emosi lagi.


" Sepertinya Paman terlalu bermurah hati dengan keluarga si Pho nie itu...Paman tidak senang mengetahui kau teraniaya sewaktu di Universitas "

__ADS_1


" Itu sudah berlalu, sudahlah Paman....jangan ganggu mereka lagi " kata Clara mendinginkan emosi Alexander.


" Kau memang berhati mulia gadis kecilku.." Alexander mengelus pipi Clara, " Tapi Paman tidak puas untuk memberi perhitungan pada orang yang menyakitimu...Paman pendendam, Paman tidak suka milik Paman di ganggu "


Clara tidak bisa lagi menjawab perkataan Alexander, bagaimana pun Alexander tetap akan menjalankan niatnya.


Alexander menatap bibir Clara, mengelus bibir itu berlahan dan lembut.


" Sejak kau mengutarakan isi hatimu pada Paman...Paman tidak tenang, wajahmu memenuhi pikiran Paman, dan kata-katamu terus terngiang di telinga Paman.. " Alexander menatap mata Clara dalam-dalam.


Pipi Clara tiba-tiba merona, dia menelan ludah tanpa sadar.


" Begitu Paman mendengar kau di culik Jhonatan, hidup Paman rasanya tidak ada artinya lagi... Paman sangat takut kehilanganmu "


Alexander mengelus wajah Clara lembut.


" Dan saat melihat kau menatap Paman ketakutan di todong Jhonatan dengan belati tersebut, tubuh Paman gemetar.... Paman baru tersadar bahwa Paman telah jatuh cinta padamu... Paman sangat mencintaimu...hingga nafas Paman rasanya mau berhenti bernafas melihat kau meneteskan air mata... "


Clara membeku di tempat nya, dia seperti tidak percaya mendengar penjelasan Alexander.


Alexander memegang ke dua tangan Clara, menggenggamnya ke dalam telapak tangannya.


" Paman mencintaimu Clara....Paman baru menyadarinya sekarang....,kau terlahir ternyata untuk Paman miliki...kau seseorang yang sangat berharga bagi Paman....calon Ibu dari anak-anak Paman "


Mata Clara berkaca-kaca mendengar penjelasan Alexander tersebut.


Dia bagaikan mimpi tidak mempercayai pendengaran nya.


Cintanya ternyata bersambut juga. Pamannya mencintainya juga.


" Sebenarnya perasaan ini sudah ada entah sejak kapan, Paman tidak tahu... Paman tidak menyadari nya telah jatuh cinta padamu " kata Alexander meremas jemari Clara di dalam genggamannya.


" Mungkin saat bertemu kembali dengan mu setelah enam tahun kita berpisah....kalau tidak salah....saat bertemu di Restoran Mawar Putih, Paman terkejut dengan perubahan dirimu...,kau begitu sangat cantik sehingga Paman tidak bisa berpaling menatap mu "


Air mata Clara akhirnya lolos juga, dia menangis bahagia mendengar pengakuan Pamannya.


Dia pun menghamburkan tubuh nya ke pelukan Alexander. Di peluknya Pamannya erat-erat.


Alexander tersenyum bahagia, dibalas nya pelukan Clara dengan erat juga.


" Sayang...." ucapnya di telinga Clara dengan lembut, di kecupnya belakang telinga Clara mesra.


Tangis Clara pun meledak, perasaannya sangat bahagia. Di benamkan nya wajahnya ke dada Alexander.


Alexander mengelus rambut panjang Clara, di belainya dengan lembut.


" Sejak kapan kau mulai mencintai Paman?" Tanya Alexander masih memeluk Clara erat.


" Da..dari sejak umur empat belas tahun " kata Clara malu-malu, wajahnya semakin di benamkan nya ke dada bidang Alexander.


Pipinya merona merah menahan malu.


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2