
Tidak berapa lama ruang runding terbuka, Hakim Ketua dan para juri pun kembali memasuki ruang sidang.
Ruang sidang langsung hening begitu Hakim Ketua dan para juri duduk ditempatnya semula.
Semua tegang menunggu hasil keputusan yang akan di bacakan Hakim Ketua.
Clara dirangkul Alexander erat, tangan Clara juga digenggaman nya erat.
Hakim Ketua menarik mic lebih dekat ke depannya. Dia mulai membacakan hasil keputusan sidang.
" Dari hasil bukti-bukti yang telah dikumpulkan Penuntut pada Terdakwa, dan hasil penilaian atas perilaku terdakwa selama persidangan...,kami sebagai penegak Hukum Kriminal menyatakan bahwa para terdakwa dinyatakan BERSALAH...dan karena mereka telah merencanakan pembunuhan ini maka akan dikenakan Hukuman SEUMUR HIDUP!!" ujar Hakim dengan lantang, lalu mengetuk palu tiga kali.
Sidang ditutup.
Ruang sidang lagi-lagi riuh, mereka memuji hasil putusan yang dibacakan oleh Hakim Ketua.
" Tidakkk!!!" Melisa berteriak histeris, dia berontak saat akan dibawa oleh Petugas.
" Brengsek kau Alexander...kau telah merencanakan ini semua kan...jauh sebelum kau memasuki keluarga Paman ku!" teriak Jhonatan tidak puas dengan putusan Hakim, dia pun memutar balikkan fakta.
Alexander tidak memperdulikan teriakan Jhonatan tersebut, di rangkul nya Clara untuk meninggalkan ruang sidang.
__ADS_1
Melisa yang dibawa paksa para Petugas, terus saja berontak.
" Clara...tolong Tante...,ini semua bohong Tante tidak membunuh orang tuamu, Tante difitnah!!" Melisa berteriak pada Clara, dia berusaha untuk mendekati Clara.
Dia membuat wajah memelas agar Clara iba padanya, dengan derai air matanya dia memohon pada Clara.
" Dengar kan Tante nak...semua itu hasil rancangan Alexander, dia yang merencanakan semua itu...apa kau tidak tahu, dia adalah seorang mafia...dia tidak seperti yang kau lihat...dia sangat jahat, hatinya sangat licik...kau harus keluar dari jerat pesonanya...dia itu Iblis!!" Melisa memelas berusaha mengambil simpatik Clara.
Clara menatap tajam pada Melisa, tatapan nya sangat dingin.
Perasaan nya yang masih shock atas perbuatan yang dilakukan nya, tidak percaya melihat Melisa tidak juga mengaku salah.
Clara berjalan menghampiri Melisa, dan tangannya pun melayang.
Clara menampar Melisa dengan keras.
Melisa sangat terkejut dengan tamparan Clara tersebut.
" Bukannya mengaku salah, malah melemparkan perbuatanmu pada orang lain... dasar tidak punya hati nurani, harta telah membutakan mata hatimu!!" kata Clara begitu tajamnya.
" Tidak...Clara bukan begitu, aku mengatakan yang sebenarnya " ujar Melisa masih terus berdalih, dia tetap memelas dan mengiba seperti orang yang hilang akal.
__ADS_1
" Sudah cukup..bawa dia pergi " sahut Alexander pada Petugas.
Para Petugas pun membawa Melisa dengan paksa.
Melisa tetap berteriak seraya berusaha melihat ke arah Clara, sampai dia diseret karena mengeraskan tubuhnya tidak ingin dibawa.
" Clara...Claraaa!! " teriaknya kencang-kencang, tubuhnya sampai merosot ke lantai berontak tidak ingin dibawa.
Alexander merangkul Clara , mereka keluar dari ruang sidang.
Nicolas dan Hendrik mengikuti langkah mereka dari belakang.
Sesampai di aula para wartawan berhamburan mendekati Alexander dan Clara.
Nicolas dan Hendrik beserta anak buah Alexander yang lainnya berusaha menghadang para wartawan tersebut.
Alexander menutup kepala Clara dengan jas nya, dia tidak ingin Clara kena jepretan kamera para pengejar berita tersebut.
Dengan susah payah mereka pun berhasil keluar dari kerumunan.
Alexander melepaskan jasnya dari kepala Clara.
__ADS_1
Mereka merasa lega telah berhasil.
Bersambung.....