Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
17.


__ADS_3

Alexander mencelupkan handuk kecil ke dalam air hangat, memeras nya dan kemudian melap lengan Clara yang terlihat merah.


"Biar aku saja Paman " kata Clara meraih handuk tersebut.


Alexander menahan tangan Clara yang ingin mengambil handuk tersebut.


"Biar kan Paman melakukan nya "


Clara terpaksa mengalah, membiarkan Alexander melap tangan dan kaki nya.


"Apa benar Paman tidak mengenal nya...tidak mungkin wanita tadi begitu kesal melihat aku menempel pada Paman " kata Clara.


Alexander tidak menanggapi perkataan Clara tersebut, dia terus fokus melap kaki Clara.


"Umur Paman sudah memasuki kepala empat... sudah seharusnya Paman berumah tangga, dan memiliki anak "


Alexander tetap tidak menanggapi kata-kata Clara.


"Angkat bajumu.. Paman akan lap di bagian lebam supaya di olesi obat " sahut Alexander sembari mencelupkan handuk kembali ke air hangat, dan memeras nya.


Wajah Clara langsung memerah, itu kan bagian pinggul.


Clara diam tidak bergerak.


Alexander memandang Clara heran, kenapa tidak mengangkat baju nya.


"Paman akan lap dulu daerah lebam nya, baru di oles obat cream nya "


"Biar aku saja yang lap Paman.. " kata Clara, wajah nya tambah memerah. Rasa nya canggung sekali.


"Tidak, biar Paman lap..." Alexander tidak sabar, dia pun mengangkat baju Clara.


Karena baju yang di kenakan Clara model casual dress terusan sampai lutut, jadi lah seluruh kaki sampai paha nya tersingkap semua.


Karena lebam di bagian pinggul, alhasil Clara nyaris bugil. Memperlihat kan bagian ****** ***** nya.


Clara tidak tahu lagi mau bilang apa, dia benar-benar sangat malu. Dia memalingkan wajah nya, tidak berani melihat Alexander.


Alexander membeku di tempat nya, dia tidak sadar baju Clara model terusan.


Dia tidak percaya melihat pemandangan di depan nya. Tanpa sadar dia menelan ludah.


Dia menutup kembali baju Clara.


"Kau ganti baju dulu, baru nanti Paman lap "


Alexander mengambil baju tidur Clara dari lemari, dia mengambil baju model setelan baju celana panjang.


"Paman mau ambil air minum dulu " kata Alexander memberi baju tidur tersebut.


Lalu dia keluar kamar mengambil air minum.


Sepuluh menit kemudian Alexander kembali ke kamar Clara.


Clara telah selesai berganti baju.


Alexander meletakkan air minum yang di bawa nya ke nakas.


"Nah.. minum dulu " kata Alexander menyodorkan gelas pada Clara.


Clara pun meminum air tersebut.

__ADS_1


Alexander kembali melanjutkan melap Clara. Sekarang setelah ganti baju, bagian pinggul gampang untuk di lap.


Dengan lembut Alex mengoles obat cream di daerah pinggul Clara.


Lebam itu sangat terlihat jelas karena warna kulit Clara yang putih.


Saat mengolesi obat, tanpa sadar jemari Alexander menyentuh kulit Clara.


Kulit itu terasa sangat lembut. Beberapa detik tangan nya membeku ditempat.


Tanpa sadar tidak tahu entah kenapa, ada keinginan yang sangat kuat, Alexander ingin mengelus kulit itu di telapak tangannya.


Ini gila memang, tapi dia sangat ingin mengelus nya.


Berlahan jemari Alexander mengelus kulit Clara dengan lembut.


Clara tersentak merasakan jemari Alexander mengelus pinggul nya.


Clara menatap Alexander yang tampak nanar melihat kulit nya yang di elus jemari nya tersebut.


Clara diam saja membiarkan Alexander. Dia juga menikmati elusan Alexander. Sangat nyaman, dan rasanya seperti ada kupu-kupu berterbangan di hatinya.


Tidak tahu entah bagaimana mereka sudah saling menatap.


Alexander menatap Clara begitu dalam, begitu juga Clara.


Clara sangat mengagumi Paman nya dari dulu. Wajah Alexander yang dewasa terlihat sangat tampan, walau usianya sudah tiga puluh delapan, tapi tidak terlihat tua.


Alexander menatap wajah Clara yang menurut nya sangat cantik, kening nya, matanya, hidungnya sangat menarik. Dan bibir nya, lama Alexander menatap bibir ranum Clara.


Bibir itu begitu penuh dan memikat, dan menggoda. Bagaimana rasanya bila di kecup, pikir Alexander menghayal.


Tanpa sadar seperti ada yang menggerakkan tangannya di luar kesadarannya, jemari Alex berlahan terulur menyentuh bibir Clara.


Dada Clara berdebar-debar merasakan sentuhan jemari Alexander di bibir nya.


"Paman.. " gumam Clara , suara nya terdengar serak. Dia memejamkan matanya menikmati elusan jemari Alexander.


Alexander tiba-tiba tersadar mendengar Clara memanggil nya. Apa yang kulakukan, pikir nya.


Dilihat nya Clara memejamkan mata. Wajahnya terlihat bersemu merah, sangat menggoda.


Begitu Alexander menarik jemari nya, mata Clara pun kembali terbuka.


"Maaf... Paman tidak bermaksud kurang ajar " kata Alexander, " Paman sudah oles obat nya, istirahat lah "


Alexander menarik selimut menutup tubuh Clara.


"Paman ke ruang kerja dulu, kalau butuh sesuatu..panggil Paman" katanya sebelum menutup pintu kamar.


"Baik Paman " jawab Clara.


...****************...


Alexander dari tadi tidak fokus memeriksa hasil laporan keuangan. Ingatan nya terus membayangkan bibir Clara yang menggoda.


Dia menyugar rambut nya kasar. Dada nya berdegup kencang mengingat wajah Clara dengan mata yang terpejam, sangat menggoda dengan pipi yang bersemu merah.


"Ada apa ini...kenapa aku begitu gelisah " pikir Alexander bingung dengan perasaan nya.


Seumur hidup dia tidak pernah mengalami hal seperti ini kalau memikirkan wanita.

__ADS_1


Banyak wanita cantik di kenal nya, wanita yang berbaris menyodorkan diri dengan suka rela padanya. Tetapi tidak satu pun yang membuat hati nya bergetar seperti sekarang ini.


Alexander mencoba kembali fokus pada berkas laporan yang menumpuk di meja.


Baru dua laporan di lihat, kembali dia tidak fokus lagi.


Wajah Clara kembali menari-nari di ingatan nya.


Alexander menghela nafas panjang. Di pejamkan nya mata nya untuk menghapus bayangan itu sejenak agar dia bisa kerja.


Tiba-tiba handphone nya bergetar.


"Halo " katanya setelah menekan tanda hijau.


......


"Bagus "


......


"Oke "


Alexander kembali meletakkan handphone nya ke atas meja.


Dia kembali melanjutkan kerja nya.


Sampai jam waktu makan malam barulah Alexander keluar dari ruang kerjanya.


Dia pun pergi ke kamar nya untuk mandi dulu. Baru nanti akan melihat Clara.


Dia tidak mengizinkan Clara untuk turun dulu, sebab pinggul nya yang sakit masih agak bengkak.


Setelah selesai mandi, Alexander menemui Bibi Melinda untuk membawa kan makan malam ke kamar Clara.


Alexander membuka kamar Clara, tampak gadis kecil nya masih tidur.


Berlahan dia duduk di pinggir tempat tidur.


"Clara...waktu nya makan malam " Alexander membangun kan Clara. Di elus nya kepala Clara.


"Emmm... " gumam Clara mulai terbangun.


"Ayo makan dulu...sudah malam " kata Alexander menyingkapkan selimut yang menutupi Clara.


Berlahan Clara membuka mata.


Bibi Melinda mendorong troli makan ke dalam kamar.


Setelah itu dia pun meninggal kan ke dua majikannya untuk menikmati makan malam mereka berdua.


"Terimakasih Bi... " sahut Clara tersenyum.


"Iya Non... silakan makan dulu selagi hangat " kata Melinda, kemudian menutup pintu pelan.


Alexander mengambil nasi ke piring dan menaruh lauk pauknya ke dalam piring tersebut, lalu memberikan nya pada Clara.


"Terimakasih Paman.. " kata Clara menerima piring tersebut.


"Makan yang banyak biar jangan terlalu kurus " ujar Alexander sembari menyendok nasi ke piring nya sendiri.


Clara hanya mengerucutkan bibir nya mendengar kata-kata Alexander.

__ADS_1


Alexander hanya tersenyum saja melihat tingkah Clara yang di anggap nya sangat imut.


Bersambung..........


__ADS_2