Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
11.


__ADS_3

Acara-acara seperti ini biasanya dimanfaatkan oleh para pebisnis untuk lebih mendekatkan diri pada para investor, Alexander adalah investor terkuat yang di incar para pebisnis.


Para penjilat berusaha mendekati nya untuk bisa berinvestasi pada perusahaan mereka. Biasanya akan ada yang memperkenalkan putri mereka, agar lebih mudah untuk menjalin ikatan yang kuat.


Clara yang tidak mengerti topik pembicaraan pamannya dengan para koleganya tersebut, hanya bisa diam berdiri disamping Alexander menyimak semuanya.


Dari arah pembicaraan tersebut, ada sedikit yang diketahui nya.


Lama berdiri membuat Clara ingin ke toilet.


"Paman... " panggil Clara seraya menarik ujung jas Alexander, " aku pergi ke toilet sebentar "


" Oh iya.. pergilah " jawab Alexander mengelus Kepala Clara.


Clara meninggal kan pamannya yang melanjutkan pembicaraan dengan para penjilat tersebut.


Clara membasuh tangannya di wastafel. Dan merapikan rambutnya yang agak berantakan.


Setelah melihat penampilan nya sudah kembali rapi, dia pun keluar dari toilet setelah selesai duduk sebentar di kamar toilet buang air kecil.


Saat dia membuka pintu tiba-tiba dia menabrak seorang gadis yang akan masuk ke toilet.


"Oh.. maaf saya tidak sengaja " ujar nya.


"Wah.. wah..!! siapa ini.. hei Sani lihat ini..." sahut gadis yang tidak sengaja di tabrak Clara, " Dunia ini memang sempit... Clara Stephanie, tidak ku sangka kita bisa jumpa lagi..., kenapa kau bisa ada di hotel ini.. gadis miskin seperti mu bisa bisanya masuk hotel mewah begini... "


"Astagaaa.. ini Clara si ****** itu kan... " seru Sani dari belakang gadis yang ditabrak Clara.


"Permisi.. aku mau lewat, aku sudah minta maaf.., aku tidak ada urusan dengan kalian " sahut Clara dingin, dia tidak menyangka akan bertemu para monster di hotel ini.


Dia pun berjalan melewati ke dua monster tersebut.


"E.. e... e.. tunggu.. " seru Sani , " Amira dia lancang sekali pada mu, apa kau biarkan dia pergi begitu saja? "


"He..berhenti... ! " teriak Amira pada Clara.


Clara tidak menanggapi, dia malas meladeni para monster. Dia terus melanjutkan langkah nya meninggalkan lorong toilet tersebut.


Amira dan Sani sangat marah di abaikan oleh Clara. Amira mengejar Clara, dan menarik tangannya dengan kencang. Sehingga Clara berputar menghadap Amira.


"Kau perlu di kasih pelajaran ya... orang miskin seperti mu memang terlalu sombong... merasa hebat ya, kau mengabaikan aku ya.. " teriak Amira melotot marah.


"Jangan-jangan kau datang ke hotel ini lagi jual diri ya " kata Sani tertawa mengejek.


" Jaga mulut mu, jangan sembarangan bicara.. " ucap Clara santai, kemudian menarik tangannya kasar dari genggaman Amira.

__ADS_1


"Kalau dilihat dari gaun nya, ini gaun yang mahal...waah.. Laki-laki tua mana lagi yang kau goda Clara Stephanie " ujar Amira sarkas.


Sani menghadang langkah Clara, dia menatap Clara dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Mengamati setiap senti pakaian yang dipakai Clara, dan memperhatikan penampilan Clara.


Clara menatap Sani tajam, dia benar-benar muak meladeni kedua monster tersebut.


"Matamu..!! " teriak Sani tidak senang, "Kau berani melotot ya, kau gadis miskin tak tau diri... " Sani menarik baju Clara.


Clara reflek mundur, sehingga Sani hanya meraih angin saja.


Amira yang melihat dari belakang mendorong Clara hingga kembali mendekat pada Sani. Sani pun cepat meraih Clara.


Merasa terancam Clara berontak, menahan tangan Sani yang mencengkram bajunya.


"Jangan sentuh aku " katanya tajam.


"Apa?!! " Sani menatap Clara, dia tidak senang melihat keberanian Clara, " Ka.. kau sudah berani melawan ya..!! " Sani histeris saking marah nya.


Dia mengangkat tangannya yang satu lagi untuk menampar Clara.


Belum sempat tangannya terayun menampar, tiba-tiba ada sebuah suara menghentikan nya beraksi.


"Ada apa ini ?!! " suara bariton itu menggema di lorong toilet tersebut.


"Tuan Alexander Genius.. " seru Amira dengan mata berbinar, pria idamannya.


"Ada masalah apa, kenapa ribut-ribut..., suara teriakan sampai terdengar ke dalam" kata Alexander.


"Ada apa ini, kenapa teriak-teriak.. ada masalah apa " Nelson dan Isterinya Agatha muncul dari belakang Alexander.


"Ada apa... ada apa, apa yang terjadi.. " sahut seorang pria paruh baya yang ikut muncul juga dari belakang Nelson dan isterinya.


"Papaa.. " sahut Sani yang tergolek duduk di lantai mengenaskan, dia menangis dengan menyedihkan.


"Sani.. kenapa kau terduduk di lantai nak " sahut Hendra bergegas menghampiri Sani, dia membantu putrinya tersebut berdiri.


"Gadis sialan itu mendorongku jatuh ke lantai.. dia cemburu padaku " Sani dengan pilunya mengadu pada Ayahnya, "Tuan Alex... tolong beri aku ke adilan, dia melakukan tindak kejahatan di hotel anda..."


"Sani.. kau tidak boleh asal tuduh begitu " tegur ayahnya gusar.


"Tuan Alex.. aku tidak bohong " kata Sani berlahan mendekati Alex, dengan wajah memelas dia mencoba meraih tangan Alexander memohon di kasihani.


"Iya Tuan..., dia cemburu pada kami " sahut Amira meyakinkan aduan Sani.

__ADS_1


"Amira... jangan asal bicara, itu tidak mungkin.. " sahut Nelson tidak percaya.


"Papa percaya sama anak sendiri atau orang lain sih.. " sahut Amira marah.


Sementara Alexander wajahnya sudah menggelap menahan marah.


Pemandangan yang di lihat nya tadi, di mana Clara di keroyok dua orang gadis. Dan untung tamparan tadi tidak mendarat di pipi gadis kecilnya.


Amira pun berlahan berjalan menghampiri Alexander untuk meyakinkan nya, bahwa mereka tidak bersalah.


Alexander mengabaikannya, dia berjalan menghampiri Clara yang dari tadi diam saja tidak membela diri.


Di raih nya Clara kedalam pelukannya.


" Kau tidak apa-apa gadis kecilku... apakah ada yang luka? " tanya nya, lalu memeriksa wajah Clara.


" Tidak ada paman.., aku baik-baik saja " jawab Clara.


Amira dan Sani terbelalak terkejut menyaksikan Alexander memeluk Clara.


Gadis yang mereka benci ternyata keponakan Tuan pemilik Hotel Emerald Genius.


Habis lah sudah, masa depan keluarga mereka di ujung tanduk.


Alexander merangkul bahu Clara, memandang kedua gadis yang memprovokasi Clara tadi.


"Maaf kan kami Tuan... kami terlalu memanjakan putri kami..., kami akan mendidik nya lagi.., kami benar-benar salah.. maafkan kami Tuan.. " Nelson dan istrinya minta maaf seraya membungkuk dalam-dalam.


"Ayo minta maaf pada non Clara...!! " teriak Hendra memarahi putrinya, seraya menekan kepala Sani agar menunduk meminta maaf.


"Kau juga!! " teriak Nelson pada Amira, " Apa kau tidak tahu pemilik Hotel Emerald ini adalah nona Clara Stephanie.. "


"Apa?!! " Amira dan Sani terkejut tak percaya. Matilah mereka, telah menyinggung dan menganiaya pemilik Hotel Emerald yang sebenarnya.


"Clara... maaf kan, kami salah... tolong maafkan kami... " sahut Amira dan Sani memohon ampun berlutut pada Sani.


"Saya tidak bisa memaafkan kan putri-putri anda berdua Tuan Nelson dan Tuan Hendra, " sahut Alexander , dia mulai menunjukkan sikap arogannya,dia benar-benar marah," Mereka sudah keterlaluan, selama masa kuliah juga mereka sudah sering membuli keponakan saya, dan bahkan menyiksa nya juga "


"Apa?!!! "


" Maafkan kami... " Amira dan Sani menangis histeris, mereka berlutut memohon ampun sampai membungkuk membenturkan kepala ke lantai.


Penyesalan selalu datang belakangan. Benar-benar senjata makan tuan.


Kalau tidak Alexander menyuruh Nicolas menyelidiki masalah Clara sewaktu kuliah, dia tidak tahu kalau Clara mendapat perlakuan tidak baik dari seniornya.

__ADS_1


Alexander sudah bertekad akan melindungi Clara sampai seumur hidupnya. Dia akan menyingkirkan siapapun yang berani menyakiti Clara.


Bersambung....


__ADS_2