
Karena Alexander sangat ahli di dunia bisnis, sehingga dia mempunyai banyak musuh yang ingin menumbangkannya.
Oleh sebab itu dia membentuk suatu jaringan bawah, jaringan yang direkrut nya untuk menghadapi masalah, bila terjadi suatu tindak kejahatan.
Dunia bisnis mempunyai sisi yang kejam, dunia yang hitam.
Saat Alexander mengambil alih perusahaan orang tua Clara, dia menyadari banyak hal yang ganjil ditemukan nya.
Dan kematian Kakak angkatnya menurut pengamatan nya seperti suatu misteri.
Bertahun-tahun dia menyelidiki sebab kematian kakak Angkatnya. Dan dia tidak dapat menemukan titik terang.
Sehingga dia merekrut lebih banyak lagi orang-orang yang bekerja di jaringan bawah.
Dia membangun proyek gedung bertingkat yang setengah jadi menjadi tempat jaringan bawah nya.
Dia sengaja melakukannya agar tidak mencolok perhatian banyak kalangan.
Dan saat ini mobil hitam anti peluru yang dikemudikan Nicolas, memasuki area proyek apartemen yang belum selesai dibangun di pinggiran Kota T di bagian barat.
Kali ini gedung apartemen terbengkalai yang mereka tuju berlantai dua puluh lima.
Nicolas membawa mobil masuk basement.
Kemudian mereka masuk ke lift dengan menekan lantai dasar setelah memarkirkan mobil.
Lift pun turun ke lantai dasar.
Ting! Lift terbuka.
Suasana lantai dasar terlihat terang dengan lampu yang banyak.
Tampak seorang lelaki diikat di kursi dengan tangan ke belakang.
Ada beberapa pria sedang duduk tidak jauh dari nya.
Begitu lift terbuka, dan melihat siapa yang datang, mereka langsung bangkit dan membungkuk hormat.
" Tuan Alex " sapa mereka.
Alexander mendekati Jhonatan yang tengah di ikat tersebut.
Satu anak buah Alexander menyodorkan kursi untuk Alexander.
Alexander duduk pada kursi yang disodorkan tersebut. Lalu menopang kan satu kakinya pada satu kaki satu lagi.
Jhonatan menyeringai memandang Alexander. wajahnya tampak membengkak akibat kena tinju Alexander semalam.
" Di mana Hendrik?" tanya Alexander dengan nada yang dingin.
" Siapa Hendrik...aku tidak kenal " kata Jhonatan acuh tak acuh.
Alexander menendang kursi tempat sandera Jhonatan, dan meluncur ke belakang membentur tembok.
Jhonatan merasakan punggung nya sakit terbentur ke tembok.
Alexander bangkit dari duduknya, berlahan mendekati Jhonatan yang meringis menahan sakit.
Di angkatnya kepala Jhonatan dengan menarik rambutnya, wajah Jhonatan menengadah dan menatap Alexander.
__ADS_1
" Kau tidak menepati janji mu...kau memang bajingan " umpat Jhonatan sinis, "Kau sudah berjanji untuk menyerahkan surat pemindahan pengalihan...kau memang seorang pecundang yang tidak layak menjadi bagian Genius "
Wajah Alexander menggelap mendengar perkataan Jhonatan tersebut.
" Apa kata mu??" Alexander menarik kerah baju Jhonatan.
Bukk!!
Sebuah tinju mendarat di wajah Jhonatan.
" Kau telah melukai Clara, kau kira aku mau mendengarkan mu...kulit Clara sangat berharga...sedikit goresan saja mengenai kulitnya, aku akan mematahkan tanganmu..!!" dengus Alexander dengan mata berapi-api. Dia menendang tangan Jhonatan.
Dan cukup membuat Jhonatan menjerit kesakitan.
" Kau bukanlah cucu sah dari Tuan Miguel, apa hak mu ingin mengambil harta warisan Clara.... kau tidak berhak !!"
" Ha..ha..haa.. dan kau...", Jhonatan tertawa mengejek Alexander, " Apakah kau berhak? kau hanya gembel yang di pungut dari pinggir jalan, kau bukan siapa-siapa "
" Aku adalah wali dari Clara " sahut Alexander.
" Wali?? kau hanya modus....jangan-jangan kau sudah meniduri Clara, dengan begitu kau bisa mengendalikan gadis malang itu " kata Jhonatan dengan pongahnya.
Plakk!!!
Sebuah tamparan mendarat ke wajah Jhonatan, dan kemudian di susul dengan tendangan menghantam tubuh Jhonatan hingga terpental beberapa meter ke lantai beserta kursi yang mengikatnya.
Bukkk!!!
Wajah Alexander benar-benar sudah gelap, darahnya mendidih mendengar nama Clara keluar dari mulut Jhonatan.
" Kau tidak berhak menyebutkan nama Clara dari mulutmu yang kotor itu " suara Alexander menggeram.
" Kau sudah tua... Clara tidak pantas untukmu " sahutnya lagi tanpa peduli dengan kemarahan Alexander.
Alexander kembali meninju Jhonatan, menariknya bangkit dengan kekuatan penuh dan menendang Jhonatan. Hingga terpental ke tembok.
" Aku akan menyelidiki lagi peristiwa tiga belas tahun yang lalu....kalau kau dan keluarga mu ada terlibat dengan kematian kakakku...aku tidak akan membiarkan kau hidup lagi " kata Alexander dengan marah.
Kata-kata Alexander membuat perubahan di mimik wajah Jhonatan. Dia tanpa sadar menelan ludah.
" Kau tidak mau memberitahukan kemana Hendrik kau sembunyikan? aku akan menemukan nya tanpa perlu menanyakan padamu lagi " kata Alexander mendekati Jhonatan.
Di tendangnya kembali Jhonatan.
" Aku akan membuka kasus tiga belas tahun yang lalu, siap-siap lah untuk membela diri "
" Jaga dia...aku mau lihat siapa yang akan datang untuk menolong nya " kata Alexander pada anak buahnya.
" Baik Tuan " jawab mereka mengangguk patuh.
Nicolas bergegas menekan lift, dan menahan pintu lift begitu terbuka, agar Alexander masuk ke dalam lift terlebih dulu.
...****************...
Clara terbangun merasa perut nya lapar, dia melihat jam di nakas menunjukkan jam 11:40.
Tadi pagi dia lanjut tidur lagi setelah Alexander mengatakan akan keluar sebentar.
Clara menekan bel.
__ADS_1
Kemudian dia turun dari tempat tidur, berjalan ke depan cermin. Memeriksa lehernya, meraba di bagian yang luka.
Dia merasa masih ada rasa sakit.
Suara ketukan terdengar di pintu kamar.
Clara bergegas membuka pintu. Seorang pelayan berdiri di depan pintu.
" Apa yang anda perlukan Nona?" tanyanya.
" Aku lapar...apakah sudah boleh makan?" tanya Clara.
Pelayan itu tersenyum, dia merasa Clara sangat imut, dan polos.
Sebagai majikan dia tidak seharusnya bertanya mengenai apa boleh dan tidak boleh makan.
Dia adalah majikan, dan punya hak untuk menyediakan makanan karena dia mau makan.
" Tentu saja Nona...saya akan mengambil makanan untuk anda " ucap Pelayan tersebut membungkuk sopan.
" Terimakasih.."
" Sama-sama Nona... " Pelayan tersebut berlalu dari hadapan Clara.
Clara menutup pintu kamar.
Dia kemudian ke kamar mandi, dia mau membersihkan badan sebentar sebelum makanannya datang.
Dari semalam dia tidak mandi, badan terasa lengket dan tidak nyaman.
Clara membersihkan badan dalam waktu lima menit. Mandi di shower tidak butuh lama.
Selesai mandi, berpakaian dan merapikan rambutnya yang panjang.
Suara ketukan di pintu kamar terdengar.
Clara membuka pintu. Pelayan tadi telah datang dengan baki berisi makanan.
" Terimakasih... " Clara menerima baki tersebut.
" Kalau perlu apa-apa katakan saja Nona...kami senang melakukan nya untuk melayani Nona.. " ujar si Pelayan tersebut.
" Iya... nanti aku bel lagi kalau butuh sesuatu "
" Baik Nona... selamat makan, anda harus makan banyak dan banyak istirahat agar lukanya cepat tertutup "
Clara tersenyum mendengar mendengar kata-kata pelayan tersebut, semua orang yang menjadi bagian keluarga nya sangat perhatian padanya.
Walau tidak memiliki orang tua lagi, yang akan memperhatikan nya, masih ada orang lain yang perhatian padanya.
" Baik... aku akan banyak makan dan istirahat sampai sore " kata Clara tersenyum.
Pelayan tersebut merasa senang mendengar majikan kecilnya tersebut sangat ramah dan mau mendengar kata-kata nya.
" Saya permisi dulu Non.. "
" Iya..., silahkan"
Bersambung.........
__ADS_1