
Alexander berlahan membuat gerakan pelan agar Clara tidak merasakan sakit.
Di peluknya Clara dengan erat, dia merasa sangat bahagia. Clara luar biasa sangat menggairahkan.
Alexander mengecup dada Clara, suara nya sangat parau menggeram merasakan sensasi dibawah sana seolah membuat dia hilang akal.
Suara Clara yang serak membuat Alexander seakan tidak ingin menyudahi nya. Dia ingin berlama-lama di dalam sana.
Merasakan Clara inci demi inci, menikmati kelembutan tubuhnya.
" Sayangku...." gumam Clara serak.
" Sebentar sayang...,aku belum puas...kau sangat nikmat bagaikan anggur yang memabukkan " gumam Alexander parau, di kecupnya leher dan dada Clara dengan rakus, " Kau begitu menggairahkan, aku rasanya akan gila tidak bisa melepaskan mu.."
" Apakah masih sakit?" tanyanya mengelus punggung Clara , membuat gerakan yang lembut.
" Sudah tidak lagi " kata Clara serak dan tanpa sadar kembali mendesah merasakan dibawah sana sangat menggelitik.
Tiba-tiba tubuhnya mengejang dan bergetar, spontan memeluk Alexander sangat erat.
Dan Alexander pun mengalami hal yang serupa, tubuhnya mengejang dan bergetar.
Mereka mengeluarkan suara jeritan yang tanpa sadar keluar dari mulut masing-masing.
Mereka saling memeluk begitu eratnya.
Clara membenamkan tubuhnya kedalam pelukan Alexander.
Nafas mereka memburu, masih dalam ke adaan berpelukan Alexander merebahkan tubuhnya bersandar ke kepala bathtub.
__ADS_1
Di peluknya Clara dalam pangkuannya, mereka merilekskan tubuh mereka yang lelah.
Alexander mengelus kepala Clara, lalu di kecupnya dengan penuh sayang.
" Aku mencintaimu sayang " bisiknya di telinga Clara.
" Aku juga suamiku....sangat mencintaimu " ucap Clara tersenyum, matanya di pejamkan merasakan dada Alexander yang ber otot di pipinya yang menempel di sana.
Clara masih memeluk Alexander melingkar kan tangannya di sekitar rusuk Alexander.
Sepuluh menit mereka seperti itu, dan akhirnya bangkit untuk membersihkan diri.
Terdengar perut Clara berbunyi sudah kerongkongan.
Mereka sama-sama tertawa mendengar suara tersebut.
Membopong Clara setelah selesai mandi ke kamar.
Mereka pun tidak lama turun untuk makan malam.
" Sayang...besok kita akan pergi ke pengadilan , kau yang tenang ya...jangan gugup dan takut " Sahut Alexander di sela-sela makan malam mereka.
Clara tiba-tiba menghentikan suapannya.
" Pengadilan...apakah ini tentang Jhonatan?"
" Iya...mereka dibalik kematian papa dan mama mu " kata Alexander.
" Apakah bukti-bukti nya sudah ditemukan sayangku?"
__ADS_1
"Iya sudah...tenang saja, mereka akan kita buat merasakan perbuatan mereka, aku akan membuat mereka di penjara seumur hidup "
" Baguslah...mereka memang harus merasakan hasil perbuatan mereka " kata Clara dengan nada yang bergetar.
Dadanya merasa sesak, orang tuanya ternyata dibunuh.
Perasaannya tiba-tiba merasa tidak terima karena kematian orang tuanya bukan kecelakaan lalu-lintas, tetapi dibunuh oleh keluarga sepupu tirinya.
Air mata Clara tanpa sadar mengalir dari sudut matanya.
Dia teringat masa kecilnya telah kehilangan orang tua, kasih sayang orang tuanya hanya sebatas di usia 7 tahun saja dirasakannya.
Dalam diam sambil makan Clara meneteskan air mata, hatinya sedih teringat bagaimana Pamannya berusaha menjadi pengganti orang tuanya dalam merawat nya.
Clara kecil yang selalu rindu pada orang tuanya dimasa kecilnya yang masih belia.
Dia melihat teman-temannya yang datang di antar orang tuanya mereka ke sekolah.
Dan dia kadang dapat ejekan dari temannya karena tidak punya orang tua.
Alexander menoleh melihat Clara menangis dalam diam sembari makan.
" Sayang..." Alexander mengelap mulut nya dengan serbet, lalu meraih Clara dalam pelukannya.
Clara pun menangis dalam pelukan Alexander, dipeluknya Alexander erat.
" Bukan kau saja yang sedih sayang....aku juga sangat sedih dengan semua ini, tenang saja... kita akan membuat mereka menderita " Alexander mengecup kepala Clara.
Bersambung.......
__ADS_1