Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
14.


__ADS_3

"Selamat datang Nona... senang melihat Nona telah kembali lagi ke rumah... " Para pelayan membungkuk hormat menyambut kedatangan Clara.


Para pelayan terlihat sangat senang melihat Nona kecil mereka telah kembali pulang.


Semua sangat pangling melihat perubahan Clara. Nona kecil mereka telah tumbuh dewasa, menjelma menjadi gadis yang cantik.


"Bibi Melindaaaa..... " Clara berlari menghampiri seorang pelayan wanita paruh baya. Kemudian memeluk pelayan tersebut erat-erat. Mereka pun saling ber tangisan melepas rindu.


"Non Clara....akhirnya nona kembali pulang ke rumah... " Wanita tua itu memeluk Clara begitu eratnya, " Bibi rindu..."


"Aku juga bii... "


Semua pelayan yang menyaksikan itu pun tanpa sadar ikut menangis.


Melinda adalah pelayan yang cukup lama bekerja di Mansion tersebut setelah Jacob si kepala Pelayan.


Sebelum Clara lahir dia sudah bekerja ikut ibu Clara. Dan setelah Clara lahir, dia ditugaskan untuk jadi pengasuh Clara.


"Non Clara terlihat kurus... pasti sangat menderita di kota T.. " kata Melinda menatap Clara dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Tidak bi... ini karena masa pertumbuhan... tubuhku jadi tinggi " Kata Clara.


"Iya... Non Clara terlihat jadi semakin cantik " ucap Melinda.


Mereka tertawa mendengar kata-kata Melinda, tertawa dengan wajah penuh air mata kebahagiaan.


Pelayan yang lain ikut-ikutan tertawa.


"Mari masuk " sahut Alexander, di rangkul nya bahu Clara memasuki Mansion.


Clara mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan Mansion.


Akhirnya dia pulang, di sinilah tempat kenangan nya bersama ke dua orang tuanya.


Dia menatap foto yang cukup besar terpampang di tembok Mansion di ruang tamu tersebut, foto sepasang suami-istri yang mengenakan gaun pengantin.


Lama dia berdiri menatap foto tersebut, foto ke-dua orang tuanya. Alexander juga ikut menatap foto tersebut sambil tetap merangkul bahu Clara.


Mereka sesaat terdiam satu sama lain dengan pikiran masing-masing.


Kemudian Clara mengedarkan kembali pandangan nya ke seluruh Mansion. Ada perubahan letak tatanan perabotan dan ada yang baru.


"Paman merubah suasana Mansion ya... " ujar Clara.


"Tidak " kata Alexander menggeleng, " Bukankah kau yang melakukannya? " Tanya nya.


"Tidak " jawab Clara menggeleng.


"Jadi siapa yang melakukan nya?"


"Tidak tahu " kata Clara angkat bahu.

__ADS_1


Raut wajah Alexander pun langsung berubah.


"Jacob.. "


"Iya Tuan.. " Jacob datang menghampiri mereka.


"Siapa yang merubah tatanan Mansion... dan siapa yang membeli perabotan baru ini " Tunjuk Alexander menunjuk setiap senti ruang tamu tersebut.


"Bukankah itu perintah anda sendiri Tuan.. " kata Jacob hati-hati.


"Kapan aku kasih perintah seperti itu... " kening Alexander berkerut, " Siapa yang menyampaikan perintah tersebut "


"Sekretaris anda Tuan... Nona Linda"


Seketika wajah Alexander menggelap. Lancang sekali perempuan itu! pikir Alex marah.


"Singkirkan semua dan bakar... " sahut Alexander marah, " Atur kembali letak susunan ke semula, keterlaluan... lancang sekali dia... , Jacob lain kali harus pastikan kalau ada perintah, apakah itu dari saya atau tidak, mengerti!! "


"Baik Tuan " Angguk Jacob


"Linda " Clara tampak berpikir, "Bukankah dia yang menganjurkan untuk kuliah di universitas Sunkrila di kota T, atas perintah Paman "


" Dia lancang sudah bertindak sesuka hatinya... Paman tidak ada memerintahkan semua itu "


Clara tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang lain dengan kejadian ini. Sesuatu berbau ingin di akui, dan ingin memiliki.


"Paman sudah memecat perempuan itu..., dia tidak akan bisa kerja di mana pun lagi... dia sudah keterlaluan mau menyingkirkan mu, memangnya siapa dia sudah lancang berbuat sesukanya pada pewaris sah Groups Genius " Alexander mengelus kepala Clara, kemudian mengecup puncak kepala Clara lembut.


Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada seorang Alexander, seorang ceo yang mendominasi dalam dunia bisnis.


Dan masih tetap melajang di usia yang terbilang sudah mulai memasuki kepala empat.


Wanita mana pun pasti dengan sukarela melemparkan diri kedalam pelukan seorang Alexander. Pria dewasa yang mapan, maskulin , dan tampan lagi.


Clara membenamkan wajah nya ke dada bidang Alexander.


Apakah cinta nya akan diterima Alexander kalau dia berkata jujur mengenai orang yang di sukainya? Bathin Clara sedih.


"Pergilah beristirahat.., Paman masih ada pekerjaan yang akan di urus " kata Alexander membalas pelukan Clara tersebut.


Sebenarnya dia enggan jauh-jauh dengan Clara, tapi dia harus menyelesaikan pekerjaan nya.


"Baik Paman.. " Clara berlahan melepas pelukan nya. Dia pun naik ke lantai atas.


...****************...


Clara memetik bunga mawar, kemudian menghirup aromanya sembari memejamkan mata.


Taman ini masih terlihat indah sama seperti terakhir kali ditinggalkan nya. Para pelayan ternyata masih mengurus taman tersebut dengan telaten.


Dulu dia ingat sewaktu umur 7 tahun sebelum ke-dua orang tuanya meninggal, ibunya lah yang membuat taman ini.

__ADS_1


Ibunya suka sekali merawat bunga, segala macam bunga mawar dia tanam di taman tersebut.


"Non Clara... sudah waktunya makan siang, sudah ditunggu Tuan Alex.. " sahut Nina, dia tergesa-gesa memanggil majikan kecilnya tersebut.


"Oh iya... aku datang " sahut Clara meraih beberapa tangkai mawar yang telah dipetik nya. Dia akan taruh di meja makan dan kamar.


"Apakah Paman sudah lama datang? " tanyanya sembari membetulkan letak topinya di kepala.


"Iya Non... Tuan tidak senang kalau Non Clara terlalu lama berjemur di matahari " kata Nina.


Clara tersenyum saja mendengar perkataan pelayan nya tersebut.


"Ayo " sahut nya.


"Baik Non "


Alexander melihat Clara memasuki ruang makan. Di genggaman nya tampak beberapa tangkai bunga mawar.


"Paman " Panggil Clara, dia tersenyum sambil memperlihatkan bunga mawar, " Bunga nya terlihat sangat cantik, aku mau taruh di meja makan dan kamar paman.. "


"Kalau sudah terlalu terik jangan berlama-lama di taman, nanti kau sakit " kata Alexander khawatir.


"Iya paman.. " Clara mengambil vas bunga dan mengisinya dengan air, kemudian memasukkan beberapa tangkai mawar.


Lalu meletakkan nya di tengah meja.


"Mari makan " sahut Alexander.


Alexander dari dulu memang selalu pulang untuk makan siang, dia tidak suka makan siang di luar.


Sama seperti Ayah Clara, selalu pulang untuk makan siang bersama istri dan anaknya.


Rasanya sangat enak makan bersama keluarga.


Dan sifat itu tertular pada Alexander. Dia pun merasa tidak enak makan sendiri di luar sana kalau tidak dengan keluarga nya.


"Makan yang banyak.. " kata Alexander seraya meletakkan sepotong daging ayam ke piring Clara, " Kau terlalu kurus "


" Ini tubuh ideal ku Paman... ini sudah pas, tidak kurus juga tidak gemuk " kata Clara mengambil ayam yang di taruh Alexander ke piring nya, kemudian memakannya.


"Ideal apanya... menurut Paman sangat kurus, Paman seperti memeluk tulang "


Clara mengerucut kan bibirnya tidak senang dengan perkataan Alexander tersebut.


"Semua orang bilang tubuh ku tidak kurus, mata Paman seperti nya ada masalah "


"Mata mereka yang bermasalah " Alexander mengambil sayur dan meletakkan nya ke piring Clara. Dan mengambil ayam lagi, lalu meletakkan ke piring Clara.


Clara hanya diam saja melihat apa yang di perbuat Alexander tersebut. Dia mengambil dan memakannya.


Alexander tersenyum senang melihat Clara makan dengan lahap.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2