Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
56.


__ADS_3

Selama perjalanan kembali ke Villa, Clara tampak diam hanya memandang jalanan. Dia masih tidak percaya kalau orang tuanya ternyata dibunuh.


" Sayang..." panggil Alexander pelan, dia melihat wajah Clara masih pucat.


Disentuh nya tangan Clara.


" Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya dengan lembut.


Clara berlahan menoleh memandang Alexander, matanya terlihat berkaca-kaca. Sepertinya akan menangis lagi.


Alexander meraih Clara kedalam pelukannya.


" Mereka sangat kejam...mereka membunuh Papa dan Mama, mereka sangat jahat" Clara mulai kembali menangis lagi.


Dipeluk nya Alexander, membenamkan wajahnya di dada bidang Alexander.


Dengan lembut Alexander membelai kepala Clara.


" Mereka telah mendapat hukuman nya...seumur hidup mereka akan menangis menyesali perbuatan mereka dipenjara " kata Alexander menenangkan Clara.


Clara masih sedih mengingat saat orang tuanya sekarat sewaktu mobil meledak.


Dia menangis sesenggukan di dada Alexander, hatinya sangat sakit.


Alexander menarik Clara kepangkuan nya, memeluk tubuh mungil Clara dalam dekapannya.


Dia mengelus kepala dan punggung Clara, menenangkan istri kecilnya dengan belain sayang.


Mungkin karena lelah, Clara akhirnya berhenti menangis.

__ADS_1


Alexander merasakan kalau Clara sudah tenang dan tidak menangis lagi.


Berlahan Alexander menunduk melihat Clara.


Ternyata Clara tertidur.


Alexander melihat istrinya tertidur dengan mata yang bengkak karena menangis terus.


Dikecup nya kening Clara, dan kemudian turun ke matanya yang sembab.


" Besok kita akan kembali ke kota D " kata Alexander.


" Baik Tuan " sahut Nicolas dan Hendrik bersamaan.


Sesampai di Villa Alexander membopong Clara yang tertidur naik ke kamar.


Dan dengan lembut meletakkannya ketempat tidur.


Dia merasa kalau kaki Clara pasti letih memakai sepatu hak tinggi.


Dan kemudian diapun menarik selimut menutup tubuh Clara setelah menyalakan AC.


Setelah itu Alexander pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hari ini terasa sangat melelahkan, sidang pembunuhan Kakak angkatnya akhirnya terselesaikan.


" Kakak...aku telah membalaskan dendam kalian, mereka telah mendapatkan hukumannya " gumam Alexander di bawah shower, air mengalir membasahi rambut dan badannya.


Dia beberapa saat berdiri dibawah shower untuk mendinginkan kepalanya yang panas.

__ADS_1


Dari awal dimulainya sidang dan sampai akhir sidang, Jhonatan dan Melisa tetap tidak mau mengakui perbuatan mereka.


Itu membuat Alexander sangat marah. Karena itulah membuat kepalanya terasa panas menahan emosi.


Merasa telah tenang, Alexander menyudahi mandinya.


Meriah bath robe dan memakainya, dan mengambil handuk bersih dari lemari handuk di samping wastafel untuk mengelap rambut basahnya.


Karena belum waktunya untuk makan malam, jam makan masih lama.


Alexander memutuskan untuk bergabung tidur bersama istri kecilnya, karena diapun merasa sangat letih.


Setelah mengelap dan mengeringkan rambutnya.


Tanpa melepaskan bath robe, Alexander masuk kedalam selimut.


Menarik tubuh mungil istrinya masuk kedalam pelukannya.


" Sayang...jangan bersedih lagi, semua sudah berlalu...mari kita jalani hidup kita, semoga selalu bahagia kedepannya...aku mencintaimu sayang..." Alexander mengangkat dagu Clara dengan ujung jemarinya.


Dia memandang wajah cantik Clara yang tengah terlelap.


Mengelus pipinya berlahan, sangat lembut.


Membelai ujung hidung Clara, lalu turun ke bibirnya yang ranum.


Berlahan Alexander membelai bibir istrinya, menelusuri bibir yang sangat manis tersebut, menurutnya.


Dia menarik dagu Clara lebih tinggi, dan berlahan dia menunduk mencium bibir yang indah tersebut.

__ADS_1


Dan berlahan dengan lembut mengulumnya.


Bersambung.......


__ADS_2