Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
13.


__ADS_3

Sementara Clara sedang mandi, Alexander mondar-mandir di kamar, dia terlihat sangat gelisah. Perkataan Clara tadi membuat dia tidak tenang.


"Ternyata dia telah menyukai seseorang... " bisik hatinya, "Tidak bisa... dia masih kecil, aku tidak merestui nya untuk pacaran...kami telah lama berpisah ... kami baru bertemu kembali, waktu kami untuk saling bercengkrama belum cukup lama..."


Pintu kamar mandi terbuka, Clara telah selesai mandi. Dia keluar mengenakan bath robe.


"Paman.. aku sudah selesai " sahutnya.


Alexander memandang Clara, dia tampak seperti melamun menatap Clara.


Clara bingung dengan tatapan Alexander.


"Kenapa paman menatap ku seperti itu ? " tanya Clara.


"Siapa lelaki itu... yang kamu suka? " pertanyaan Alexander membuat Clara salah tingkah.


"Ada...suatu saat juga paman akan tahu " kata Clara tersipu.


"Apa kalian sudah pacaran.. "


"Belum... dia belum tahu kalau aku suka sama dia "


" Jadi dia belum tahu perasaan mu padanya? "


"Iya " angguk Clara mengalihkan pandangannya dari tatapan Alexander, dia sangat malu mengungkap kan perasaan nya.


Paman lah lelaki itu, bisik hati Clara.


Pipi nya terasa panas karena di tatap Alexander begitu lekat.


Perasaan Alexander tidak nyaman mendengar pengakuan Clara tersebut. Dada nya terasa sesak.


Suatu saat memang Clara harus menikah, dia akan ikut dengan suaminya.


Tapi kenapa perasaan ini..? pikir Alexander merasa prustasi.


Membayangkan itu hati Alexander rasanya tidak rela, dia ingin Clara terus tetap bersama nya.


Dia ingin selalu memanjakan Clara, menyayangi nya, memberikan apa pun yang diinginkan Clara.


"Apa kau serius dengan perasaan mu padanya .. atau mungkin kau hanya kagum saja padanya, tidak suka "


"Aku mencintai nya paman.. " ucap Clara sangat yakin dengan perasaan nya.


"Tidak bisa Clara... kau tidak boleh pacaran " ujar Alexander, " Aku akan menjauhkan laki-laki itu dari mu"


"Paman tidak boleh begitu... aku sudah besar paman, sudah bisa untuk menikah..,di usia ku ini adalah masa-masa subur untuk dapat punya anak, kalau sudah terlalu tua akan sulit hamil ..." kata Clara dengan santai nya sembari melepaskan handuk yang membalut rambutnya.


"Clara..!!!? " Teriak Alexander marah, wajahnya sudah menggelap.


Clara terkejut mendengar teriakan Alexander, handuk yang dipegangnya terjatuh.


Seumur hidup nya Alexander belum pernah memarahinya, apalagi membentak nya.

__ADS_1


Malam ini Alexander berteriak padanya, hanya masalah urusan perasaan nya menyukai seorang lelaki.


"Paman... "Gumamnya gemetar, bibirnya ikut bergetar. Hati nya tiba-tiba sedih memandang Alexander, air mata nya sudah mulai jatuh.


" Clara.. " sahut Alexander melunakkan nada suaranya, " Dengar... paman tidak suka mendengar kau bicara seperti tadi "


"Paman tidak suka aku mencintai seorang lelaki? " Tanya Clara mulai menangis.


"Bukan begitu.. " Alexander mendekati Clara, di pegang nya tangan Clara, "Kau itu masih kecil... masih belum waktu nya untuk dekat dengan seorang lelaki "


Alexander mengusap air mata Clara, dan dengan lembut dia mengelus pipi Clara. Di tatap nya mata Clara lekat-lekat.


"Paman belakangan ini sangat sibuk bekerja, bertahun-tahun kita terpisah... saat kau usia 10 tahun sudah paman tinggalkan, kita bertemu hanya sebentar saat itu kau berusia 14 tahun... dan kemudian kita berpisah lagi... " Alexander mendekap kedua pipi Clara dengan kedua telapak tangannya, " Dan kita bertemu kembali saat kau berusia 20 tahun..., kau tahu tidak perasaan paman...paman belum siap untuk berpisah lagi dengan mu..., paman masih ingin lebih lama lagi bersamamu..., apa kau tidak ingin bersama paman lagi? "


"Tentu saja aku ingin selalu bersama dengan mu paman, seumur hidup ku...." ucap Clara.


Alexander sangat senang mendengar ucapan Clara tersebut, dia tersenyum bahagia.


"Bagus... jadi mulai sekarang , kamu harus buang perasaan mu pada lelaki itu ya.. " kata Alexander seraya menatap mata Clara bergantian, dia ingin Clara menghapus perasaan nya pada lelaki yang di sukainya.


Wajah Clara langsung berubah mendengar kata-kata Alexander. Tentu dia tidak setuju dengan saran Alex, karena lelaki itu adalah Alex sendiri.


"Aku tidak janji paman... aku sangat mencintai nya, aku sudah lama menyimpan rasa cinta padanya..., maafkan aku paman " kata Clara


Alexander menghela nafas prustasi mendengar perkataan Clara tersebut.


Dia menempelkan kening nya ke kening Clara.


"Paman mohon Clara... kamu harus membuang perasaan mu itu " Mohon Alexander dengan nada yang pelan, dia tidak ingin membentak Clara karena sudah mulai emosi.


Oh, paman aku tidak bisa mengatakan kalau orang itu adalah paman, karena paman tidak memandang aku sebagai wanita, bisik hati Clara.


Kau hanya memandang aku sebagai keponakan mu, apakah aku pantas untuk mencintai mu paman? kalau kau tahu bahwa lelaki itu adalah paman, apakah kau menganggap aku sudah gila? apakah kau akan meninggalkan aku karena mencintai mu sebagai pria. Clara merasa dilema.


Memikirkan itu Clara tanpa sadar menangis, dia memeluk Alexander sambil membenamkan wajahnya ke dada Alex.


Alexander membalas pelukan Clara tersebut, dia mengelus rambut Clara yang tergerai.


Di kecupnya puncak Kepala Clara. Emosinya sedikit mereda. Beberapa saat mereka berpelukan erat, Alexander pun mulai merasa rileks memeluk Clara. Tapi Clara masih terisak.


"Sudah... jangan menangis lagi " kata Alexander meletakkan dagunya di puncak kepala Clara. Tangannya masih terus mengelus rambut Clara.


"Maafkan aku paman... akan ku coba, tapi aku enggak janji.. " sahut Clara di antara isak tangisnya.


Alexander memejamkan matanya mendengar perkataan Clara tersebut, hatinya kesal mendengar kata 'tidak janji' itu.


"Baiklah...lain kali kita bicarakan lagi, sudah malam... kita harus istirahat, besok kita pulang ke kota D "


Berlahan Clara melepaskan pelukannya. Jemari Alexander pun berlahan menghapus air mata Clara yang membasahi pipinya.


"Paman mandi dulu.. naiklah ke tempat tidur " kata Alexander.


Clara mengangguk, satu kecupan mendarat di keningnya. Alexander kemudian melangkah ke kamar mandi.

__ADS_1


...****************...


Alexander menyodorkan kotak kecil pada Clara. Sekarang mereka sudah berada di mobil menuju kota D.


"Apa ini paman ?" tanya Clara bingung.


"Hadiah kelulusan mu.. bukalah " kata Alexander tersenyum.


"Wahhh... cantik sekali paman!!" seru Clara sangat senang begitu kotak itu di bukanya.


Sebuah kalung berlian, melihat bentuk nya sepertinya sangat mahal.


"Ini pasti mahal " kata Clara mengamati kalung tersebut.


"Sini paman bantu pakaikan.. " Alexander meraih kalung tersebut.


Nicolas yang sedang menyetir di depan, mencuri pandang melalui kaca spion.


Dia tersenyum melihat kebahagiaan kedua majikan nya tersebut.


"Cocok sekali, sangat cantik " kata Alexander sangat puas dengan hadiah nya.


"Terimakasih paman " ucap Clara tersenyum manis, dia mengecup pipi Alexander.


Alexander terkejut. Dia membeku di tempat duduknya. Apa itu tadi, pikirnya. Cepat sekali proses nya, sampai dia merasa tidak percaya.


Apakah boleh sekali lagi? Dia ingin memastikan apakah itu tadi nyata?


Alexander beberapa saat kemudian baru tersadar.


"Tadi kau bilang apa sama paman... paman tidak fokus, karena memikirkan pekerjaan " kata Alexander, bohong! Bilang saja, tolong bolehkah satu kali lagi .Bathin nya merasa tidak puas.


"Oh.. terimakasih paman atas hadiah nya, aku suka.. ini pasti sangat mahal sekali " kata Clara tersenyum manis memandang Alexander.


"Dan kemudian.... " Alexander ingin kelanjutan nya yang seperti tadi.


"Aku cuma bilang itu saja tadi paman "


"Seperti nya tadi paman ada merasakan sesuatu... "


Clara memandang paman nya bingung. Tapi sesaat kemudian dia sadar. Dia tadi mengecup pipi paman nya.


Dia pun tertawa. Tidak menyangka ternyata Alexander bisa seperti anak kecil yang ingin hadiah juga.


Alexander tersenyum melihat Clara yang tertawa kencang, dia sangat bahagia melihat kebersamaan mereka.


Alexander meraih Clara ke dalam pelukannya. Dia merasa gemas melihat Clara.


Clara tampak begitu imut tertawa Terpingkal-pingkal sambil memegang perut karena merasa lucu.


Clara pun kembali mengecup pipi Alexander, bukan satu, tapi ke dua pipi Alexander.


Alexander sangat bahagia, dia memeluk Clara erat. Mereka tampak sangat bahagia tertawa bersama.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2