Kau satu-satunya yang berharga

Kau satu-satunya yang berharga
53.


__ADS_3

Hendrik masuk ke dalam ruang sidang.


Semua mata memandangnya, ada yang sebagian langsung tahu siapa dia.


Dan ada yang belum tahu, kira-kira siapa gerangan dia.


" Yang Mulia...saya membawa saksi utama yang mengetahui siapa dalang dibalik pembunuhan Tuan Bernard dan Nyonya Sesilia, dia adalah sopir pribadi korban sendiri yang melarikan diri saat akan dilenyapkan bersama korban...bertahun-tahun dia dikejar oleh suruhan terdakwa, dan sekarang dia akan memberikan kesaksiannya " sahut Pengacara Penuntut.


" Silahkan..." kata Hakim Ketua.


Hendrik pun di persilahkan duduk di kursi saksi.


" Paman Hendrik..." gumam Clara tidak percaya sopir pribadi Ayahnya masih hidup, ternyata yang mati bersama orang tuanya bukan Hendrik.


Hendrik memandang Clara tersenyum, membungkuk kan sedikit kepalanya dengan sopan.


Dia terlihat senang melihat majikan kecilnya sudah tumbuh besar, menjadi seorang gadis yang cantik.


Kemudian Hendrik pun menjelaskan kronologi kejadian. Mengatakan bahwa beberapa hari sebelum kejadian sudah ada beberapa kali mobil disabotase.


Dan dia kemudian berinisiatif untuk memasang kamera tersembunyi untuk mengetahui siapa dalangnya.


Hendrik menyerah kan hasil rekaman nya yang disimpannya selama ini dengan rapi.


Melisa terlihat gelisah, wajahnya terlihat pucat.

__ADS_1


Rekaman pun kemudian diputar.


Tampak dari dalam mobil kamera merekam ada dua orang diluar mobil berusaha untuk membuka pintu mobil.


Yang satu wanita dan yang satu lagi pria.


Dan pintu pun terbuka, kamera tersembunyi merekam sekilas pembicaraan mereka saat pintu mobil terbuka.


" Ayo cepat sedikit...sebentar lagi Hendrik akan datang, kau harus pastikan hari ini harus berhasil " ujar si wanita, dan saat kamera tersembunyi merekam wajahnya, terlihatlah dengan jelas siapa gerangan wanita tersebut.


" Baik Nyonya..." sahut si pria.


Ruang sidang langsung heboh begitu melihat wajah wanita yang ditampilkan kamera tersembunyi tersebut.


Melisa sudah sangat pucat ditempat duduknya. Keringat dingin sudah mengucur di punggung nya.


Setelah hening, Pengacara Penuntut menampilkan foto wajah wanita yang di dalam rekaman tersebut.


" Apakah anda kenal dengan wanita ini Tuan Jhonatan...?" tanya Pengacara Penuntut.


" Itu palsu, itu pasti hasil editan...Ibuku bukan orang yang seperti itu!" Jhonatan tetap membantah bahwa itu bukan ibu nya.


Ruang sidang kembali riuh mendengar pengakuan Jhonatan.


" Sudah jelas itu Nyonya Melisa...kenapa terus di sangkal oleh anaknya "

__ADS_1


" Sudah salah tapi tidak mengakuinya...memang keluarga kejam "


" Apa dia tidak tahu hukuman bagi orang yang tidak mengakui kesalahannya sangat berat "


" Apa dia pikir dengan menyangkal terus mereka akan bebas?"


" Mereka benar-benar pembunuh berdarah dingin...tidak punya hati nurani "


Tok!! tok!! tok!!


Hakim Ketua kembali mengetuk palunya untuk mengamankan ruang sidang yang lagi-lagi berisik.


Pengacara Penuntut pun kembali melanjutkan pertanyaan nya pada terdakwa Jhonatan.


" Kalau anda mengatakan itu bukan ibu anda... saya akan membawa saksi lain untuk mengkonfirmasi lebih jelas mengenai wanita yang ada di dalam rekaman tersebut "


Pengacara Penuntut kemudian minta persetujuan dari Hakim Ketua untuk mengundang saksi lainnya.


Hakim Ketua pun memperbolehkan apa yang diajukan oleh Pengacara Penuntut.


Pintu ruang sidang pun dibuka Petugas, dan masuklah seorang pria ke dalam ruang sidang.


Semua langsung heboh melihat siapa yang masuk.


Lagi-lagi ruang sidang kembali heboh dan bising.

__ADS_1


Melisa sudah benar-benar pucat, tubuhnya gemetar gugup.


Bersambung......


__ADS_2