
Clara terperangah mendengar perkataan Cindy.
Ini suatu pelajaran baginya, lain kali dia tidak akan mau lagi untuk berbaik hati melihat seorang wanita yang akan meminta pertolongan.
Ini benar-benar sudah diluar perkiraan nya, dia yang mencoba menolong, malah di manfaatkan wanita licik tersebut.
" Dan menurut ku...kau terlalu manja Clara, kau sudah besar...tidak pantas terlalu dekat pada Pamanmu, itu tidak normal...orang yang akan melihatnya akan salah paham " kata Cindy dengan tegas.
Semua Pelayanan yang ada di ruangan tersebut terbelalak kaget mendengar perkataan Cindy.
Ini sudah kelewatan, seorang tamu menasehati Nyonya rumah dan tidak punya sopan santun mencoba untuk menjadi Nyonya rumah.
" Anda sangat lancang Nona...anda hanya tamu di Mansion ini " kata Pak tua Jacob tidak senang.
" Nona Clara adalah istri Tuan Alexander...tentu wajar saja Tuan Alexander memanjakan nya!" kata Bibi Melinda dengan nada tajam, " Anda sudah sangat lancang Nona Cindy!"
Cindy terkejut mendengar perkataan Bibi Melinda.
Tangannya tanpa sadar menyenggol vas bunga, dan terjatuh ke lantai dengan bunyi yang keras.
__ADS_1
" Ada apa ini??!" Tiba-tiba suara bariton terdengar di pintu ruang makan.
" Tuan Alexander.." para Pelayan membungkuk kan badan sedikit menyapa Alexander dengan sopan.
" Ada keributan apa ini?" tanyanya.
" Kak Alex..."
Alexander tidak menanggapi Cindy, dia berjalan menuju istrinya yang duduk diam yang terlihat agak shock.
" Sayang...kau tidak apa-apa?" tanyanya memeriksa Clara, memeriksa tangan dan wajah nya.
Cindy yang mendengar kedua Tuan rumah saling memanggil dengan panggilan yang terlihat sangat mesra, membuat dia hampir jatuh terduduk karena keterkejutan nya.
" Kak...kau dan keponakanmu..., apakah itu benar?" tubuh Cindy gemetar tidak percaya, tadi dia sudah hampir berhasil menguasai orang-orang di Mansion tersebut.
Alexander tidak menanggapi Cindy, dia melihat vas bunga pecah berserakan di lantai.
Dan melihat setumpuk bunga yang baru dipetik di atas meja makan.
__ADS_1
Wajahnya langsung menggelap, dia langsung bisa membaca situasi diruang makan tersebut.
" Apakah kau yang memetik bunga-bunga ini?" tanyanya tajam.
" I..iya kak, aku lihat bunga di taman sangat cantik dan segar...jadi aku petik untuk menggantikan bunga-bunga yang telah layu diruang makan, ruang tamu...mungkin perlu juga dikamar kakak "
" Kau benar-benar lancang...aku tidak ingin siapapun menyentuh bunga-bunga tersebut... hanya istriku yang berhak mengurusnya, dan dia adalah Nyonya rumah yang akan mengatur itu semua!" tekanan nada suara Alexander sangat tajam, semua Pelayan pun jadi gemetar mendengarnya.
Mereka tahu Tuan mereka sudah mau meledak karena emosi.
" A.. aku hanya ingin membantu " Cindy sangat gugup melihat ekspresi wajah Alexander yang sangat dingin.
Tubuhnya mulai gemetar, dia telah salah mengambil sikap. Dia merasa terlalu terburu-buru, dia seharusnya mengambil hati para Pelayan dulu agar bisa mendukung nya.
" Kau hanya seorang tamu, dan orang asing...sangat lancang tidak punya sopan santun di rumah orang " kata Alexander dingin.
" Ki.. kita bukan orang asing kak...kau adalah kakakku " kata Cindy dengan wajah sedih, dia sudah mau menangis mendengar perkataan Alexander.
" Aku dan kau tidak ada ikatan apapun...hanya sebatas teman masa kecil karena dibesarkan di panti asuhan, dan kita semasa kecil pun tidak akrab sama sekali " kata Alexander dengan wajah datar dan dingin.
__ADS_1
Bersambung.....