Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina
19


__ADS_3

Karin yang sedang memeluk suaminya kini mengerutkan keningnya ketika ia menyadari pria itu hanya duduk dalam posisi yang kaku, sama sekali tidak ada niat untuk membalas pelukannya.


Maka dari itu, Karin kemudian melepaskan pelukan mereka lalu dia berdiri di depan suaminya sambil bertolak pinggang menatap pria di depannya.


Wajah pria itu tampak sangat tegang dengan pipi yang agak merona membuat Karin akhirnya tertawa.


"He he he... Kau begitu malu padaku sampai tidak mau membalas pelukanku?" Tanya Karin langsung membuat Rasyid menelan air liurnya menatap perempuan di depannya yang terlalu berani.


Padahal dia pikir bahwa perempuan itu adalah perempuan yang sangat pemalu, namun sekarang semua pikirannya itu harus disingkirkan ke ujung laut.


"Itu, aku akan mandi dulu," ucap Rasyid sembari berdiri lalu dia kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Karin yang melihat itu hanya bisa tersenyum, lalu dia kembali duduk di kursi meja rias sambil memegang kartu kredit yang diberikan oleh suaminya.

__ADS_1


Dia menunggu selama beberapa saat sampai akhirnya dia mendengar suara ketukan pintu kamar hingga Karin pun pergi membuka pintu tersebut sebab berpikir bahwa yang datang ialah pelayan yang ditugaskan memberikan pakaian untuknya.


Clek!


Benar saja, seorang pelayan berdiri di depan kamar sedang memegang beberapa paper bag yang diduga Karin berisi pakaian untuknya.


Pelayan itu kemudian berkata, "Selamat malam nyonya, ini adalah pakaian yang--"


"Apa ini?!" Tiba-tiba saja Diandra datang merebut paper bag dari tangan pelayan sebelum Karin mengambil paper bag tersebut.


"Berikan padaku!" Ucap Karin pada Diandra langsung membuat Diandra membawa paper bag itu ke belakang punggungnya.


Diandra pun menatap Karin sambil berkata, "Kau pasti membeli ini menggunakan uang Kakak ku bukan?! Tapi sebentar lagi dia akan menceraikanmu dan kau akan keluar dari rumah ini, Jadi kau tidak berhak mengambil barang-barang ini!!"

__ADS_1


Setelah berbicara, Diandra tidak menunggu jawaban dari Karin dan perempuan itu langsung pergi darinya bersamaan dengan tuan grason yang menaiki tangga menuju lantai 2.


Sebenarnya Karin ingin keluar dan memberi pelajaran pada adik iparnya, tetapi karena saat itu dia tidak memakai apapun pada tubuhnya selain baju kaos yang diberikan oleh suaminya, maka Karin pun akhirnya memutuskan untuk menutup pintu kamarnya dengan perasaan yang begitu kesal.


Pelayan yang ada di sana kini terdiam di tempatnya, dan dia tidak tahu harus berkata apa lagi sehingga dia hanya bisa berbalik pergi dalam diamnya berharap tidak akan ada masalah besar yang timbul dari pertengkaran yang baru saja terjadi.


Tuan grason pun menatap pelayan yang pergi dari pintu kamar putranya, lalu pria itu berdiri menatap pintu kamar putranya selama beberapa saat sebelum dia berbalik menuju ruang perpustakaan yang terletak di rumah itu.


Memasuki perpustakaan, Tuan Grason langsung mengambil sebuah buku yang paling tebal di perpustakaan tersebut dengan sampul yang terbuat dari kayu dan sudut bukunya di beri besi tebal.


'Perempuan itu tidak layak untuk berada di rumah ini!' ucap Tuan Grason dalam hati sambil memperhatikan sudut-sudut buku itu sebelum dia meninggalkan perpustakaan dengan buku tebal yang ada di tangannya.


Pria itu segera pergi ke meja makan dan duduk di sana sambil menatap istrinya yang juga sudah duduk di meja makan.

__ADS_1


"Panggil anak-anak untuk makan!" Perintah Tuan Grason pada istrinya membuat Nyonya grason segera menganggukkan kepalanya lalu dia pun menatap ke arah kepala pelayan supaya perempuan itu melaksanakan perintah suaminya.


🤭🤭🤭 bocoran bab berikutnya akan terbit di YouTube


__ADS_2