
Diandra dengan cepat mengangguk, "ya, itu adalah cincin pemberian ibu di hari ulang tahunku, Apakah kakak melihatnya? Aku rasa kakak ipar yang kembali mencuri perhiasanku, karena tadi ketika aku membawa paper bag ke dalam kamarku, dia sempat mengikutiku ke dalam kamar dan sempat juga berdiri di dekat meja tempat perhiasanku diletakkan!" Tegas Diandra pada kakaknya.
πͺπΌπ°
"A,, apa? Dia mencuri lagi?" Kata Nyonya grason dengan raut wajah tak percayanya menatap ke arah Karin yang saat itu berdiri dengan raut wajah datarnya.
Sementara Rasyid yang ada di sana, dia sekarang tahu apa yang terjadi sehingga dia menjadi semakin marah dan tak bisa menahan tangannya untuk terulur merangkul istrinya.
"Ayo kita pergi dari orang-orang ini," ucap Rasyid membuat nyonya grason dan putrinya sangat terkejut karena tak menyangka mereka berdua malah akan diabaikan oleh Rasyid ketika Diandra baru saja berbicara tentang sesuatu yang sangat penting.
Maka kedua orang itu langsung mengejar Rasyid dan Karin dengan nyonya grason yang berkata, "tunggu ibu, ibu akan menemanimu ke rumah sakit, Hanya ibu yang bisa menjagamu dengan baik di rumah sakit!"
__ADS_1
Tetapi ketika mereka tiba di luar di mana mobil Rasyid berada, Rasyid langsung naik ke atas mobil bersama dengan istrinya lalu dia pun menutup pintu dan menatap ke arah sopir yang sudah duduk di kursi kemudian, "jalankan mobilnya!" Perintah Rasyid.
Tanpa berkata apapun, Rasyid yang ada di sana pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah dengan Nyonya grason serta Diandra berusaha mengejar mobil itu sambil berteriak, "hei tunggu kami!!!"
Sayangnya, kedua perempuan itu diabaikan oleh Rasyid dan juga Karin, karena saat ini dalam mobil, Karin telah melepaskan pakaian suaminya dan dia terkejut melihat luka di punggung suaminya yang ternyata sangat dalam.
"Astaga, seharusnya tadi kita langsung pergi ke rumah sakit, bagaimana bisa kau menahan rasa sakitmu untuk luka sebesar ini?" Gerutu Karin langsung mengambil kotak P3K yang diperlihatkan sopir padanya lalu perempuan itu berusaha melakukan pertolongan pertama pada suaminya.
Sementara Rasyid yang dibicarai oleh istrinya, pria itu tidak mengatakan apapun, namun saat ini pikirannya sedang kacau mengingat kembali bagaimana perlakuan orang tuanya dan juga saudaranya pada istrinya.
Sambil dijahit bukannya, Rasyid ditemani oleh istrinya yang memegang erat sebelah tangan pria itu.
__ADS_1
"Apakah suami saya harus dirawat inap di Rumah sakit?" Tanya Karin pada sang dokter yang saat itu sementara menangani Luka Rasyid.
"Tidak apa, dia bisa pulang, Tetapi lukanya tidak boleh terkena air dan harus rutin dibersihkan dan diberikan obat. Juga, nanti saya akan memberikan resep obat untuk mengurangi rasa nyerinya, dan makanannya juga harus diperhatikan, makanan yang sehat membuat luka lebih cepat sembuh," ucap dokter membuat Karin menganggukkan kepalanya sambil mengingat hal itu dalam hatinya.
Cukup lama mereka berada di rumah sakit, mulai dari penanganan luka sampai pengambilan resep di apotek barulah keduanya kemudian kembali ke mobil untuk pulang ke rumah.
Tetapi di tengah perjalanan, Rasyid menatap istrinya sambil berkata, "kamu mau pulang ke rumah ataukah kita pergi ke apartemenku?"
Ucapan suaminya langsung membuat Karin mengerutkan keningnya karena dia tak menyangka bahwa ternyata suaminya memiliki sebuah apartemen.
Ucapan suaminya juga sekaligus menjawab pertanyaannya dalam hati bahwa setiap kali pria itu tidak kembali ke rumah maka pria itu bukannya pergi bersama perempuan lain di luar rumah, namun menginap di apartemennya.
__ADS_1
"Kau punya apartemen? Kalau begitu bagaimana kalau malam ini Kita menginap di sana?" Tanya Karin langsung dijawab anggukan Rasyid.
"Ya, tentu," kata Rasyid sambil mengelus tangan istrinya yang sedang ia genggam.