
Sambil duduk bersama dengan suaminya, Karin sesekali melirik ke arah perempuan yang menjadi selingkuhan suami Vena.
Kelakuan Karin tak luput dari perhatian Rasyid hingga Rasyid bertanya, katanya, "ada apa?"
Karin menghela nafas dengan panjang sebelum mendekatkan kepalanya ke arah suaminya, "selingkuhan fajar ada di sini," ucap Karin yang merasa sangat kesal karena seandainya dialah yang ada di posisi Vena, maka dia akan sangat marah kalau selingkuhan sang suami datang ke pemakaman anak sendiri.
Rasyid pun melirik ke arah perempuan yang dimaksud istrinya sebelum dia berkata, "Jangan membuat keributan, ini adalah rumah duka."
Karin kembali menghela nafas dengan panjang sebelum dia menganggukkan kepalanya karena dia juga memiliki pikiran yang sama dengan suaminya, tetapi tetap saja perempuan itu benar-benar menyebalkan.
Beberapa saat keduanya terus diam di tempat mereka sambil makan, tiba-tiba saja Karin melihat fajar sudah keluar dari ruang penghormatan untuk mendiang anaknya lalu pria itu pergi menyapa semua orang.
Satu persatu disapa olehnya sampai pria itu berhenti di meja yang sama dengan yang ditempati oleh perempuan selingkuhan, bahkan fajar duduk di depan selingkuhannya.
'Sial!! Aku ingin pergi menarik rambut perempuan itu dan menghempaskannya ke luar!' gerutu Karin dalam hati sambil menggertakkan giginya dengan perasaan penuh amarah.
Meski begitu, Karin masih tetap diam sampai ia melihat kejadian yang membuat matanya melotot dengan sempurna.
Di bawah meja, dua orang itu saling bermain kaki hingga membuat Karin tak tahan lagi dan dia pun mengeluarkan ponselnya lalu merekam kejadian tersebut.
Rasyid yang melihat kelakuan istrinya, ia tidak mengatakan apapun dan hanya diam saja di tempatnya.
Sampai akhirnya setelah Karin selesai merekam, barulah Rasyid bertanya, "kamu mau mengatakannya sekarang?"
Karin menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak," ucap Karin yang meski merasa sangat kesal atas apa yang dilakukan oleh dua orang itu, tetapi ia masih sadar untuk tidak mengacaukan suasana duka di tempat tersebut.
Karena jika dia melakukannya, maka bukan orang lain lah yang akan tersakiti, tetapi Vena sendirilah yang akan lebih terpukul lagi kalau dia harus menghadapi dua kejadian menyakitkan hati secara bersamaan.
Maka dua orang itu pun duduk bersama dalam ketenangan sampai 2 jam kemudian satu persatu orang meninggalkan rumah duka tak terkecuali Karin dan suaminya.
Saat mereka berada dalam mobil untuk kembali ke rumah, Karin langsung menghela nafas dengan kasar, "pria sialan itu, berani-beraninya mereka berselingkuh di pemakaman Deris? Aku sangat benci setiap kali mengingatnya!" Gerutu Karin Yang tak habis pikir dengan apa yang ada di dalam pikiran suami Vena sehingga tidak bisa menahan diri bahkan di pemakaman putranya sendiri.
Bahkan jika Deris bukanlah Putra kandungnya, tetapi setidaknya pria itu seharusnya menghargai anak yang telah Ia besarkan.
Bahkan jika itu adalah orang yang benar-benar asing bagi Fajar, maka tidak seharusnya pria itu bersikap tak senonoh di rumah duka.
Sementara Rasyid yang melihat istrinya, pria itu jelas mengerti bahwa istrinya masih terus berada dalam kekesalan sehingga berkata, "Carilah kesempatan yang tepat untuk membicarakan masalah itu dengan ibu," ucap Rasyid.
Karin mengganggukan kepalanya "kau benar," ucap Karin sebelum dia terdiam sampai mereka tiba di apartemen.
Sementara di rumah duka, Vena yang sedari tadi terus menangis, ia kini keluar dari ruang penghormatan lalu dia melihat suaminya hanya tinggal berdua saja dengan seorang perempuan yang merupakan sekretaris suaminya.
"Kau belum pulang?" Tanya Vena pada Sang Perempuan sambil melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan bahwa hari sudah tengah malam.
"Ah,, Pak Hari ini saya tidak membawa mobil, tadi saya datang bersama teman, tapi teman saya pulang lebih awal," ucap Sang Perempuan langsung membuat Vena mengerutkan keningnya.
Tetapi Vena belum berkata apapun ketika fajar lebih dulu berbicara, katanya, "biar aku yang mengantarnya pulang sebentar, lagi pula rumahnya tidak jauh dari sini."
"Ah,, baiklah," ucap Vena menganggukkan kepalanya sebelum perempuan itu duduk lalu mengambil satu gelas alkohol dan menikmatinya.
Fajar memperhatikan istrinya, dan dia merasa tak senang karena perempuan itu duduk bersama-sama dengan mereka sehingga tidak bebas untuk bercerita dengan perempuan di depannya yang bernama Serena.
Oleh sebab itu, fajar berkata, "aku akan mengantarnya sebentar."
Serena pun menganggukkan kepalanya, "ya, ini sudah tengah malam, tidak baik Kalau aku masih terus ada di sini," ucap Serena langsung membuat Vena menganggukkan kepalanya lalu membiarkan kedua orang itu pergi.
Begitu keduanya pergi, Vena ter diam memandangi meja yang ada di hadapannya, semuanya berantakan dan harus ia bereskan.
Maka tanpa menunda-nunda, Vena pun langsung berdiri lalu membereskan meja-meja tersebut karena orang-orang yang tadi membantunya untuk menyiapkan makanan dari belakang kini telah pergi sehingga dia sendiri bersama kedua putrinyalah yang harus membereskan semuanya.
Tetapi saat itu, kedua Putrinya sudah tertidur di ruang penghormatan sehingga Vena hanya seorang diri saja membereskan ruang kotor tersebut.
Setelah 2 jam membereskan, akhirnya semuanya kembali bersih Lalu Vena pun kembali ke ruang penghormatan dan melihat kedua putrinya tertidur di sana tetapi suaminya tidak ada.
'katanya rumah Serena ada di dekat sini, tapi Kenapa dia belum pulang juga?' pikir vena dalam hati sambil mengambil ponselnya lalu dia pun menghubungi suaminya.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
"Halo," jawab seorang pria dari seberang telepon.
__ADS_1
"Kenapa kau belum kembali juga?" Tanya Vena pada pria di seberang telepon.
"Aku sedang dalam perjalanan, tadi tiba-tiba ada kecelakaan yang menghalangi jalan kami jadi harus berputar jauh untuk sampai ke rumah Serena," jawab fajar.
"Baiklah, hati-hati di jalan," ucap Serena sebelum dia mematikan panggilan telepon itu lalu perempuan tersebut kini duduk sambil bersandar ke dinding dengan pandangannya tertuju pada foto Rasyid.
Dia terdiam selama 30 menit sampai suaminya kembali barulah Vena merasa tenang dan ikut tidur bersama anak-anaknya membiarkan suaminya yang berjaga.
Vena tertidur sampai pada keesokan harinya ia terbangun dan mendapati suaminya tak ada di manapun sehingga perempuan itu keluar dari ruang penghormatan dan mendapati sebuah surat yang ditinggalkan oleh suaminya pada salah satu meja kosong.
*aku pergi ke kantor sebentar, akan kembali nanti siang,* isi surat itu membuat Vena mengerutkan keningnya karena tak menyangka suaminya masih akan pergi bekerja setelah mereka kehilangan Putra mereka.
Meski begitu, Vena tidak mengatakan apapun dan tidak lama-lama juga berlarut dalam kesedihannya karena sebentar lagi akan ada lagi tamu yang datang melayat sehingga Vena membangunkan kedua putrinya lalu mereka bersiap-siap.
Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman keluarga grason, saat ini nyonya Keraton dan suaminya baru saja mendapat kabar dari Karin tentang Deris yang meninggal dunia.
Kabar tersebut mereka dapatkan lewat panggilan telepon sehingga ketika panggilan teleponnya telah dimatikan, hanya Grason meletakkan ponsel tersebut di atas meja sebelum dia menoleh ke arah suaminya.
"Putramu meninggal, Bukankah seharusnya kau pergi melayat?" Tanya Tuan grason pada suaminya.
Tetapi tuan Grason menggelengkan kepalanya, "Aku tidak pernah melihat pria itu sejak Ia lahir, Jadi untuk apa aku pergi? Biarkan saja, lagi pula kalau aku pergi hanya akan membuat pertengkaran di rumah duka dan merusak suasana," ucap tuan grason sambil mengambil ponselnya lalu pria itu memainkan ponselnya di depan istrinya.
Nyonya Grason menghela nafas, "Meski aku juga kesal, tapi bagaimanapun Deris adalah putra kandung mu, kalau kau tidak pergi, apa kata orang-orang tentangmu? Semua orang tahu bahwa kau adalah ayahnya dan kalau para pelayat tak pernah melihatmu di rumah duka, Bukankah mereka semua akan menggosipkan kita?" Ucap nyonya grason yang terlalu peduli dengan reputasinya, dia tidak ingin ada sebuah gosip buruk menyebar tentangnya dan tentang keluarganya.
Tetapi tuan grason dengan cuek berkata, "semua orang juga tahu kalau aku tidak pernah mengunjungi mereka, Jadi kalau tiba-tiba aku datang ke sana di saat-saat seperti ini, malah akan menimbulkan banyak ucapan tidak menyenangkan dari mulut orang-orang."
Setelah berbicara, Tuan grason lalu berdiri dan pergi meninggalkan istrinya.
Sementara Nyonya grason, dia masih terdiam di tempatnya memikirkan masalah itu, tetapi setelah beberapa saat, dia pikir bahwa apa yang dikatakan oleh suaminya memang benar sehingga Nyonya Grason pun tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi dan hanya lanjut membaca majalah.
... ... ...
... ... ...
Bip bip bip....
Rasyid yang kembali ke rumah Kini memasuki apartemen, lalu pria itu melihat seluruh ruang tamu dan dapur di apartemen namun tidak mendapati istrinya.
Oleh sebab itu, Rasyid memanggil istrinya dengan berkata, "sayang!"
Sambil memanggil istrinya, Rasyid berjalan ke arah kamar dan mendapati istrinya sedang tertidur di atas ranjang dengan hampir seluruh tubuhnya diselimuti.
Rasyid pun segera meletakkan tasnya di meja lalu mendekati istrinya dan menyentuh kening istrinya untuk memeriksa keadaan istrinya karena tidak biasanya istrinya tidur di jam-jam seperti itu.
Tetapi ketika Rasyid memegang kening istrinya, pria itu tidak merasakan hal yang aneh pada istrinya, tidak demam dan wajahnya juga tampak lelap dalam tidurnya, tidak terlihat pucat.
Namun Rasyid mengeryit ketika ia melihat pakaian yang dikenakan istrinya tadi pagi masih sama dengan pakaian yang digunakan oleh istrinya hari ini.
'Sepanjang hari ini dia belum mandi?' pikir Rasyid dalam hati sambil memperhatikan wajah istrinya.
Pria itu terdiam selama beberapa saat sampai akhirnya dia berdiri lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi.
Rasyid mandi sekitar 30 menit sebelum dia keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya masih saja terlelap.
Meski begitu, Rasyid tidak mengganggu tidur istrinya dan pria itu hanya memakai pakaian sebelum dia pergi ke dapur dan lebih terkejut lagi mendapati kulkas di dapur sedang kosong dan tidak ada makanan apapun yang tersedia.
Bahkan ketika ia memeriksa lemari-lemari yang biasa menyimpan snack, Rasyid juga tidak menemukan apapun di sana hingga membuat pria itu merasa bahwa istrinya sedang berada dalam kondisi yang sangat malas untuk berbuat apa-apa.
'Dia tidak berbelanja?' pikir Rasyid dalam hati sambil mengambil ponselnya lalu pria itu pun memesan makanan jadi ke apartemen mereka.
Setelah selesai, Rasyid kembali ke kamar dan saat itu mendapati istrinya baru saja membuka mata dan saat ini mengucek matanya sambil menguap dengan mulut terbuka lebar.
"Kau sudah bangun, aku sudah memesan makan malam untuk kita berdua, sekarang mandilah baru kita makan malam bersama," ucap Rasyid sambil mendekati istrinya lalu pria itu pun dengan cepat merapikan rambut istrinya yang sudah acak-acakan.
Karin menatap suaminya, "Apa kau sudah menyiapkan air hangat untukku?" Tanya Karin langsung dijawab anggukan Rasyid.
"Sudah," kata Rasyid sambil menyibakkan selimut dari paha istrinya.
Mendengar ucapan suaminya, maka Karin pun segera turun dari tempat tidur Lalu dia pergi ke kamar mandi dan memulai acara mandinya.
Begitu keluar dari kamar mandi, karin melihat suaminya sudah keluar dari ruang ganti sambil membawa satu set pakaian rumah hingga Karin pun langsung menghampiri suaminya dan membiarkan pria itu membantunya berpakaian.
__ADS_1
"Kau tampak sangat tidak bersemangat, Apa kau merasa sakit?" Tanya Rasyid yang merasa cemas pada istrinya.
Karin menggelengkan kepalanya, "tidak, aku baik-baik saja, sekarang bantu aku mengeringkan rambut," ucap Karin sambil berjalan ke meja rias lalu dia pun duduk sambil menatap suaminya dari balik cermin.
Tanpa menunggu lama, maka Rasyid pun segera mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut istrinya sambil memperhatikan istrinya yang Hanya duduk diam saja, padahal biasanya kalau dia membantu istrinya mengeringkan rambut, perempuan itu akan melakukan hal lain seperti memakai skin care atau berdandan.
"Kau tidak pakai skin care mu?" Tanya Rasyid langsung membuat Karin menatap mata suaminya lewat pantulan cermin yang ada di hadapan mereka.
"Kau akan membantuku menggunakannya kan?" Tanya Karin akhirnya membuat Rasyid mengukir sebuah senyuman di wajahnya.
Hari ini istrinya sedang bermanja-manja, apapun yang diinginkan perempuan itu harus dialah yang mengerjakannya sehingga Rasyid menganggukkan kepalanya, "tentu saja, nanti setelah aku selesai mengiriingkan rambutmu." Ucap Rasyid langsung mengukir sebuah senyuman di wajah istrinya.
Maka sesuai dengan janji Rasyid, Setelah dia selesai mengirimkan rambut istrinya, Rasyid pun membantu istrinya menggunakan skin care sebelum mereka keluar dari kamar dan makan malam bersama.
Sambil makan malam, Karin menatap suaminya, "aku akan memberitahu Vena tentang perselingkuhan suaminya," ucap karin yang sudah memikirkan masalah itu dan dia pikir sekarang sudah waktunya dia berbicara karena pemakaman Deris setelah selesai satu minggu yang lalu.
Rasyid menganggukkan kepalanya, "katakanlah padanya, dan perlihatkan juga buktinya padanya, karena aku cemas dia tidak akan mempercayaimu kalau kau hanya berbicara saja," ucap Rasyid langsung dijawab anggukan Karin.
Maka mereka berdua melanjutkan makan malam mereka sampai saat mereka selesai makan malam, ponsel Karin tiba-tiba saja berdering hingga Karin meninggalkan suaminya dan dia pergi ke ruang tamu untuk mendapatkan ponselnya yang terletak di sana
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Karin melihat nama pemanggil adalah Vena sehingga tanpa menunda lebih lama, Karin langsung mengangkat panggilan telepon itu, "halo," ucap Karin.
"Bisakah kita bertemu sebentar? Aku ada di dekat apartemen mu di cafe xx," ucap perempuan dari seberang telepon langsung membuat Karin berjalan ke arah dapur.
"Aku harus meminta izin dulu pada suamiku, akan kukirimkan pesan padamu kalau dia mengijinkanku," ucap karin sambil melihat suaminya yang saat itu sudah berada di wastafel mencuci piring bekas makan mereka.
"Baiklah, kalau begitu kutunggu kabar darimu," kata Vena dari seberang telepon sebelum panggilan telepon itu diakhiri hingga Karin pun menyimpan ponsel ke dalam saku bajunya.
Karin kemudian mendekat ke arah suaminya dan melihat suaminya yang tampak serius mencuci piring kotor, "sayang, Vena baru saja meneleponku dan dia bilang dia mau bertemu denganku sebentar di cafe xx. Bolehkah kita ke sana?" Tanya Karin yang merasa bahwa saat itu adalah waktu yang tepat juga untuk mengatakan pada Vena tentang kebusukan yang telah dilakukan oleh suami perempuan itu.
Rasyid menoleh menatap istrinya yang menatapnya dengan mata berbinar-binar sebelum pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya dan mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir istrinya.
"Pergi ganti pakaianmu, biar aku menyelesaikan ini," ucap Rasyid langsung membuat Karin mengukir sebuah senyuman indah di wajahnya sebelum perempuan itu berlari menuju kamar.
Melihat kebahagiaan istrinya, maka Rasyid tersenyum memandangi kepergian perempuan itu sampai Karin menghilang dari pandangannya barulah Rasyid kembali fokus pada pekerjaannya mencuci piring.
Sementara Karin yang ada di kamar, perempuan itu segera mengganti pakaiannya lalu dia juga mengambil pakaian yang akan digunakan oleh suaminya sebelum Karin duduk di meja rias dan menambahkan sedikit bedak ke wajahnya.
Setelah selesai menggunakan bedak, Karin melihat suaminya sudah memasuki kamar sehingga Karin langsung berdiri mengambil pakaian yang telah Ia siapkan untuk suaminya.
"Pakai ini," ucap Karin mendekati suaminya lalu perempuan itu membantu suaminya melepaskan pakaian nya.
Setelah keduanya selesai berganti pakaian, maka mereka pun segera meninggalkan apartemen dengan Rasyid yang membawa mobil menuju cafe xx.
Dalam perjalanan ke cafe, ponsel Rasyid tiba-tiba saja berdering sehingga Rasyid pun mengambil ponselnya.
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
"Ini telepon dari ayah," ucap Rasyid yang bisa melihat wajah penuh tanya istrinya untuk mengetahui siapa yang menelponnya.
"Kalau begitu angkatlah," ucap Karin langsung membuat Rasyid menganggukkan kepalanya sambil menekan tombol terima pada ponselnya.
Saat itu juga, mobil Rasyid telah berbelok ke dalam parkiran cafe lalu Rasyid memarkir mobil dengan rapi namun tetap berada dalam mobil untuk berbicara dengan ayahnya sebelum mereka turun dari mobil.
"Ya, ayah," ucap Rasyid pada pria di seberang telepon.
"Ada hal penting yang hendak Ayah bicarakan denganmu dan istrimu, datanglah ke rumah!" Perintah pria dari seberang telepon.
"Apakah malam ini juga?" Tanya Rasyid.
"Ya, kalian datang kemari dan menginap lah malam ini!" Perintah Tuan Grason sebelum panggilan telepon itu diakhiri.
"Ada apa?" Tanya Karin yang bisa melihat wajah suaminya yang tampak terkejut setelah berbicara dengan ayahnya.
"Katanya ada sesuatu yang hendak dibicarakan Ayah dengan kita, dan dia menyuruh kita untuk pergi ke rumah utama lalu menginap di sana," ucap Rasyid yang merasa ada sesuatu yang tidak baik lagi yang akan dibicarakan oleh ayahnya hingga mereka dipanggil secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Ya sudah, setelah kita bertemu dengan Vena baru kita pergi ke kediaman utama," ucap Karin langsung dijawab anggukan Rasyid.