Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina
67


__ADS_3

Dina memeriksa segala persuratan yang masuk ke dalam kantor sebelum diberikan pada Rasyid, lalu perempuan itu mengerutkan keningnya ketika dia melihat sebuah surat yang ditujukan pada Karin.


'ini,,, surat panggilan dari kantor polisi?' ucap Dina dengan raut wajah tercengang menatap amplop di tangannya.


Perempuan itu berpikir selama beberapa saat sebelum dia membawa semua surat-surat itu ke ruangan Daffa.


Begitu tiba di dalam ruangan, Dina pun meletakkan surat-surat untuk Rasyid di meja kerja Rasyid sebelum dia menghampiri Karin yang meja kerjanya berada di samping meja kerja Daffa lalu meletakkan satu surat yang ditujukan untuk Karin.


Karin juga bingung kenapa dia tiba-tiba mendapatkan surat, tetapi perempuan itu tetap mengambil suratmu untuknya Lalu melihat kop surat pada amplop itu.


Dina masih tinggal beberapa saat memperhatikan raut wajah Karin dan tampak jelas Karin sangat terkejut dengan surat tersebut sehingga membuat Dina merasa senang.


'Pasti ada hal buruk yang telah terjadi sehingga dia dipanggil oleh Polisi,' ucap Dina dalam hati yang merasa begitu senang, dan berharap Karin mungkin akan masuk penjara atau sesuatu yang buruk lainnya akan menimpa perempuan itu sehingga dia bisa tetap ada di sisi Rasyid.


Sementara Karin yang kini membuka amplop di tangannya, perempuan itu buru-buru melihat isi suratnya dan kening Karin semakin berkerut ketika ia membaca dia telah dipanggil ke kantor Polisi untuk sebuah tuduhan kekerasan yang dilakukan pada Anggi.


"Sayang," ucap Karin langsung melihat ke arah suaminya hingga Rasyid pun menghentikan gerakan jarinya yang hendak menandatangani sebuah dokumen.


"Ya, sayang," ucap Rasyid.


Dengan raut wajah yang ragu-ragu, Karin kemudian menyerahkan surat di tangannya pada suaminya.


"Apa ini?" Kata Rasyid segera memeriksa surat yang ia dapatkan dari istrinya.


Beberapa saat kemudian, kening Rasyid juga berkerut sebelum dia meletakkan surat itu di atas meja lalu balik menatap istrinya.


"Jangan khawatir, aku akan menyuruh pengacara kita untuk menyelesaikannya," ucap Rasyid langsung dijawab anggukan Karin sehingga perempuan itu pun kembali fokus pada pekerjaannya.


Sementara Dafa, pria itu langsung mengambil teleponnya lalu menghubungi pengacara mereka.

__ADS_1


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


"Ya Tuan," jawab sang pengacara dari seberang telepon.


"Aku hendak membicarakan sesuatu, tolong kita bertemu hari ini," ucap Dafa.


"Baik Tuan, di mana kita bertemu?" Tanya pengacara dari seberang telepon.


"Akan kukirimkan alamatnya," ucap Dafa sebelum dia mematikan panggilan telepon itu lalu kembali melirik ke arah istrinya yang tampak fokus pada pekerjaannya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Daffa yang merasa cemas perempuan itu mungkin memikirkan masalah tuntutan yang dilakukan oleh Anggi.


Karin melemparkan senyum lebarnya pada suaminya, "Jangan khawatir, aku tidak semudah itu untuk dipengaruhi oleh hal-hal tidak penting," ucap Karin.


Daffa merasa lega mendengar ucapan istrinya hingga pria itu pun kembali lagi fokus ke pekerjaannya.


Dina yang melihat kepergian Karin ke dapur, ia segera mengikuti Karin hingga ketika mereka tiba di dapur, Dina kemudian berkata, "Anda baik-baik saja?"


Karin menoleh menatap Dina yang tampak memperlihatkan wajah cemasnya, "Ada apa kau bertanya seperti itu?" Tanya Karin yang selalu curiga akan perempuan yang ada di depannya, tidak mungkin maksud pembicaraan Dina sejalan dengan pikiran perempuan itu. Pasti ada udang di balik batu.


"Ah,, aku tidak sengaja melihat perikop surat yang dikirim untuk mu, kau dipanggil ke kantor polisi, Memangnya ada masalah apa?" Tanya Dina yang merasa sangat penasaran.


Tetapi Karin tidak berniat untuk mengatakan apapun pada perempuan itu sehingga Karin hanya membuang muka dari Dina dan lanjut membuat minuman untuk dirinya dan suaminya.


Dina yang melihat kecuekan Karin, ia merasa kesal dalam hatinya, 'Dasar perempuan sombong ini, aku tahu ada sesuatu buruk yang terjadi, tapi kau tidak mau memperlihatkannya padaku karena terlalu takut aku akan bersenang senang atas apa yang menimpamu bukan? Heh,,, sepertinya aku hanya perlu menunggu sebentar lagi,' pikir Dina dalam hati.


Karena Dina merasa sangat senang, maka perempuan itu pun tidak mengatakan apa-apa lagi dan dia hanya mengambil minuman untuk dirinya sendiri sebelum dia pergi meninggalkan dapur.

__ADS_1


Karin memperhatikan punggung Dina yang semakin menjauh darinya, paman dan dia jelas tahu apa yang ada di pikiran perempuan itu, tetapi Karin tidak berniat untuk memulai pertengkaran sehingga Karin juga hanya diam saja.


Setelah selesai membuat minuman, Karin pun kembali ke ruangan suaminya dan menaruh minuman di meja suaminya sebelum kedua orang itu kembali fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.


Keduanya terus bekerja sampai pada sore hari ketika jam pulang kerja tiba, dua orang itu meninggalkan kantor lalu pergi ke sebuah kafe tempat janjian Rasyid dengan sang pengacara.


"Selamat datang," ucap sang pengacara menyambut kedatangan Karin dan Rasyid.


Rasyid menganggukkan kepalanya sebelum dia menarikan kursi untuk istrinya lalu mereka duduk bertiga.


Tidak ingin membuang-buang waktu terlalu banyak, maka Rasyid langsung menyerahkan sebuah surat pemberitahuan dari polisi.


"Istriku baru saja menerima surat ini atas tuntutan kekerasan pada seorang perempuan, saya ingin anda menyelesaikan masalah ini dengan cepat," ucap Rasyid.


Sang pengacara tidak mengatakan apapun, tetapi pria itu membuka surat di tangannya dan membacanya dengan seksama sebelum dia menatap Karin.


"Saya perlu Nyonya menceritakan dengan jelas apa yang terjadi sebelum saya menangani masalah ini," ucap sang pengacara langsung membuat Karin menganggukkan kepalanya.


"Hari itu saya memang menamparnya dengan keras sampai dia terjatuh ke lantai Tetapi semua itu terjadi bukan tanpa sebab karena ketika saya menelpon suami saya, dialah yang mengangkat panggilan telepon tersebut dan memprovokasi saya bahwa dia telah berselingkuh bersama suami saya.," Ucap Karin sambil mengambil ponselnya lalu dia pun meletakkan ponselnya di atas meja dan memutar percakapannya dengan Anggi karena memang setiap kali ia berteleponan dengan seseorang maka rekaman telepon tersebut akan otomatis tersimpan dalam ponselnya.


Pengacara pun mendengarkan rekaman tersebut selama beberapa saat sebelum dia berkata, "Kalau begitu akan mudah untuk menyelesaikan masalah ini, Apakah perempuan ini bekerja untuk kalian?"


Rasyid menganggukkan kepalanya, "Ya, dia bekerja di perusahaan, dan hari itu dia saya tugaskan untuk menemani ku dalam sebuah acara rapat dan menyuruhnya pergi ke kamar hotel untuk mendapatkan sebuah dokumen penting di sana, namun tidak menyangka dia mengangkat panggilan telepon istriku dan mengatakan sesuatu yang tidak benar," ucap Rasyid.


"Baiklah, kalau begitu saya akan menangani masalah ini, dan Bisakah saya mendapatkan copy-an rekaman video ini?" Tanya sang pengacara langsung membuat Karin menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja, kalau begitu akan saya kirim ke email anda." Ucap Karin.


"Baiklah, lalu lokasi kejadiannya Apakah di hotel xx?" Kembali tanya sang pengacara yang mana dia perlu memastikan rekaman CCTV yang ada di hotel.

__ADS_1


"Benar," jawab Rasyid.


Maka Ketiga orang itu terus berbincang-bincang seputar penyelesaian masalah yang sedang dihadapi oleh Karin.


__ADS_2