Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina
57


__ADS_3

"Ya, tidak ada," jawab sang resepsionis.


Mendengar ucapan sehari spesialis, maka Karin pun segera meninggalkan meja resepsionis sambil berjalan ke arah lift, lalu dia berdiri di depan lift dengan mata terpejam dan pikiran yang sibuk.


'Dimana mereka?' ucap Karin dalam hati.


🌞🌞🌞


Selama Karin berpikir, perempuan itu tidak bisa mengetahui ke lantai mana dia harus pergi, sampai akhirnya ponselnya tiba-tiba saja berdering.


Maka Karin dengan cepat merogo tanya, ia menemukan ponselnya dan melihat panggilan telepon yang ternyata berasal dari nomor tak dikenal.


"Halo?" Ucap Karin menjawab panggilan telepon itu.


"Selamat sore Nyonya, ini saya Dina, saya ingin memberitahu bahwa hari ini tuan muda sedang ada rapat bersama dengan salah seorang klien dari perusahaan xx, Mereka ada di hotel xx di lantai 17. Tadi juga saya tidak sengaja mendengar kalau Anggi disuruh untuk memesan sebuah kamar untuk Tuan muda di lantai yang sama dengan tempat melakukan rapat. Saya curiga akan ada sesuatu yang dilakukan oleh Anggi sehingga saya menghubungi nyonya," ucap Dina dari seberang telepon yang ingin menjebak Anggi agar perempuan itu bisa ketahuan atas rencananya untuk memanas-manasi Karin.


"Ok," jawab Karin langsung menekan tombol reject pada ponselnya lalu dia pun menekan tombol open pada Lift.


Setelah itu, Karin menunggu selama beberapa saat lamanya sampai akhirnya pintu lift terbuka lalu Karin pun segera pergi ke lantai 17.


Begitu tiba di lantai 17, Karin melihat di lantai tersebut ada lebih dari 10 kamar sehingga Karin mulai menekan satu persatu bel kamar untuk mencari tahu di mana keberadaan suaminya.


Pada kamar nomor 1, seorang perempuan yang tidak dikenali Karin membuka pintu, lalu kamar ke-2 seorang laki-laki yang membuka pintu kamar.

__ADS_1


Maka Karin pun lanjut menekan satu persatu bel kamar yang ada di lantai 17 sampai pada kamar nomor 9, ia menekan bel kamar tidak dibukakan pintu.


Oleh sebab itu, Karin berpikir bahwa kamar tersebutlah kamar tempat suaminya berada, tetapi mungkin saja Anggi tidak mau membukakan pintu untuknya.


Oleh sebab itu, Karin kembali lagi menekan bel kamar sebanyak dua kali namun tetap tidak dijawab oleh orang di dalam kamar.


Hal tersebut membuat Karim semakin kesal, tetapi ketika dia hendak menggedor-gedor pintu itu, tapi tiba-tiba saja pintu di kamar lain terbuka lalu memperlihatkan Anggi keluar dari kamar tersebut hingga kering dengan cepat menghampiri Anggi.


Anggipun terkejut melihat kedatangan Karin, tetapi perempuan itu belum melakukan apapun ketika sebuah tamparan sudah di daratkan Karin di wajah Anggi.


Plak!!!


Tamparan itu sangat keras sampai-sampai membuat Anggi langsung tersungkur ke lantai dengan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah dan pipinya yang langsung mencetak warna merah dari tamparan Karin.


Tetapi setelah itu Karin tidak memperdulikan perempuan yang terjatuh di lantai, dia dengan cepat mendorong pintu kamar yang tidak terkunci dan masuk ke kamar.


Tetapi Karin tidak menemukan suaminya di manapun kecuali ponsel suaminya yang diletakkan di atas meja sehingga Karin pun mengambil ponsel suaminya lalu membuka ponsel itu.


Riwayat panggilannya dengan suaminya telah dihapus sehingga membuat Karin menggertakkan giginya sebelum dia keluar dari kamar untuk mencari Anggi.


Namun ketika Karin tiba di luar kamar, Anggi sudah tidak ada sehingga Karin kembali ke dalam kamar lalu dia duduk sendirian di kamar sambil menunggu seseorang datang mengambil ponselnya.


'Perempuan ular itu mencari masalah dengan orang yang salah!' ucap Karin dalam hati sambil mengepal kuat tangannya dengan tatapan tertuju ke arah jendela.

__ADS_1


Karin menunggu hampir 30 menit sampai akhirnya pintu kamar terbuka lalu Karin pun segera berdiri dan melihat ke arah pintu di mana seorang pria memasuki kamar yang merupakan suami Karin.


"Sayang," ucap Karin langsung berjalan menghampiri Rasyid dan memeluk Rasyid dengan erat.


"Kenapa tidak bilang Kalau kau mau kemari?" Tanya Rasyid sambil mengelus kepala istrinya.


"Aku tidak berniat untuk datang kemari, tetapi ketika aku menelponmu, anggilah yang mengangkat panggilan teleponku dan dia bilang kau sedang mandi! Tentu saja sebagai istri, aku khawatir terjadi apa-apa pada suamiku, jadi aku langsung kemari," ucap Karin dengan suara yang sangat kesal.


"Itu sebabnya kau menampar Anggi sampai dia harus pergi ke rumah sakit?" Tanya Rasyid langsung membuat Karin menganggukkan kepalanya.


"Aku menamparnya, tapi dia masuk rumah sakit?" Tanya Karin.


"Ya," jawab Rasyid tanpa ada sedikitpun amarah pada suara dan tatapannya karena dia tidak mau memarahi istrinya.


"Ah,, Kalau begitu dia mungkin menuntutku?" Ucap Karin.


"Aku tidak akan membiarkan dia menuntutmu," ucap Karin sambil mendaratkan sebuah ciuman di kening istrinya hingga membuat Karin merasa sangat senang.


"Terima kasih sayang, tapi kenapa ponselmu kau tinggalkan di kamar ini dan perempuan itu bisa ada di sini sementara kau tidak ada di kamar?" Tanya Karin yang masih merasa aneh dengan masalah tersebut.


"Tadi aku beristirahat di sini sebentar sebelum rapatnya dimulai, lalu tak sengaja meninggalkan sebuah dokumen, jadi aku menyuruh Anggi datang mengambilnya, tapi tidak menyangka kau akan menelpon ketika Anggi ada di sini," ucap Rasyid yang kini merasa kesal pada Anggi karena perempuan itu memang berniat untuk menghancurkan hubungan mereka.


"Hah,, perempuan itu memiliki niat buruk, kau harus segera memecatnya, biar semua pekerjaannya aku yang neng handle-nya sampai kita menemukan seorang pengganti yang tepat," ucap Karin.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku menyetujuimu untuk bekerja? Kau akan kelelahan dan--"


"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja," ucap Karin sambil melemparkan senyumannya pada suaminya.


__ADS_2