Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina
64


__ADS_3

Ting!


Lift yang membawa Karin menuju lantai 7 akhirnya berhenti lalu perempuan itu keluar dari lift dan celingak-celinguk untuk mencari ruangan profesor Markus.


Ketika dia tiba di depan ruangan profesor Markus, Karin menghentikan langkahnya saat ia melihat Erik sudah berdiri di sana sambil memegang sebuah buku agenda dan juga sebuket bunga mawar yang membuat Karin kaget.


Meski begitu, Karin tetap berjalan ke Arah Erik sambil melemparkan sebuah senyuman, "kau benar-benar di sini, aku pikir tadi kau hanya bercanda," ucap Karin.


Erik yang mendengarkan itu pun, ia langsung tersenyum lalu dia mengulurkan buket bunga dan buku agenda yang telah Ia berikan untuk Karin.


"Buku agenda Yang Kau minta dan bunga yang kuberikan padamu," ucap Erik langsung membuat Karin menahan tawanya.


"Aku hendak masuk ke ruangan profesor, tidak mungkin membawa buket bunga itu kan?" Ucap Karin langsung membuat Erik menganggukkan kepalanya hingga dia pun hanya memberikan buku agenda pada Karin.


"Kalau begitu, aku akan menunggumu di sini," ucap Erik akhirnya membuat Karin menganggukkan kepalanya lalu Karin pun segera mengetuk pintu ruangan profesor Markus.


"Masuk!" Perintah seorang pria dari dalam ruangan hingga Karin pun segera masuk ke ruangan tersebut.


Setelah masuk, Karin menatap seorang pria yang duduk di hadapannya lalu Karin berkata, "Selamat siang profesor, perkenalkan saya Karin dari perusahaan--"


"Ah,, dari tadi aku menunggumu, duduklah," ucap sang profesor sambil berjalan ke arah sofa hingga Karin pun juga pergi ke sofa lalu mereka duduk bersama.


"Rasyid sudah menelponku dan mengatakan bahwa kau akan datang ke mari," ucap sang profesor sambil mengambil kotak cemilan yang disediakan dalam ruangannya lalu membukakannya untuk Karin.


"Terima kasih atas sambutan profesor, dan ini adalah berkas yang telah saya siapkan. Semua informasi yang profesor butuhkan sudah ada di berkas tersebut," ucap Karin sambil menyerahkan berkas yang telah ia siapkan untuk profesor Markus.

__ADS_1


"Kau sudah menyiapkan semuanya, kalau begitu aku masih akan mempelajari ini sehingga aku baru bisa menghubungimu dalam satu minggu lagi. Tapi,,, Ini pertama kalinya aku melihat penjelasan yang seakurat ini," ucap sang profesor yang merasa kagum dengan susunan berkas yang diberikan oleh Karin padanya.


"Terima kasih pujiannya profesor, kalau nanti ada sesuatu yang perlu ditanyakan, silakan langsung menghubungi saya," ucap Karin.


"Baiklah, tapi aku rasa kau sudah membuatnya sangat jelas di berkas ini, bahkan kau menulis juga jenis tanah tempat bangunan itu akan didirikan, hm,,, ini bagus," ucap sang profesor.


"Saya dengar profesor selalu mengecek jenis tanah setiap kali membangun di tempat itu, jadi Saya menyuruh seseorang untuk meneliti tanahnya, bahkan saya juga menambahkan beberapa rincian lain di sana supaya bisa memberikan gambaran yang akurat bagi profesor. Meski begitu, saya pikir mengunjungi lokasinya secara langsung adalah hal yang jauh lebih baik untuk dilakukan, Oleh karena itu kalau profesor memiliki waktu luang, tolong katakan pada saya supaya saya bisa membawa profesor mengunjungi lokasinya," ucap Karin.


"Tentu saja, kalau begitu besok aku akan memberitahumu karena jadwal mengajarku akan keluar besok," ucap sang profesor langsung membuat Karin menganggukkan kepalanya.


"Tentu," jawab Karin.


Maka kedua orang itu berbincang-bincang mengenai proyek yang akan dikerjakan sampai akhirnya Karin menyelesaikan pembicaraannya dengan profesor lalu Karin keluar dari ruangan profesor Markus.


Begitu menutup pintu ruangan profesor, Karin melihat Erik masih berdiri sambil bersandar ke tembok.


"Ayo antar aku," ucap Karin langsung membuat Erik menatap Karin dengan mata berbinar-binar.


Maka kedua orang itu pun segera memasuki lift dan turun ke lantai 1.


Ting!


Begitu pintu lift terbuka, Erik dan Karin segera keluar dari dalam lift, namun saat itu keduanya dihadang oleh sekumpulan mahasiswa yang mana di antara para mahasiswa itu, Karin melihat ada tiga mahasiswa yang tadi dipukuli oleh Karin.


"Erik?!" Ucap salah seorang perempuan yang ada di sana dengan raut wajah terkejutnya melihat Erik bersama-sama dengan Karin.

__ADS_1


"Ada apa kalian berkumpul di sini?" Tanya Erik dengan raut wajah bingungnya.


"Kau tidak tahu? Baru saja di grup fakultas ketua membagikan info tentang perempuan ini, dia sudah menghajar tiga mahasiswa fakultas teknik!!" Ucap sang perempuan sambil menunjuk ke arah Hana dan kedua temannya.


"Apa?!" Erik kebingungan sambil melihat ke arah Karin, dan dia tak percaya bahwa Karin bisa menghajar 3 perempuan sekaligus.


Bagaimanapun, Erik bisa melihat penampilan Karin yang sangat feminin, tak ada jiwa bela dirinya.


"Benar! Dia menghajar Kami sampai babak belur dia bahkan menghina kami dan menghina fakultas kita!!!" Tegas Hana sambil menatap tajam ke arah Karin dengan perasaan marah dan juga cemburunya karena telah melihat Karin bersama-sama dengan Erik.


"Kalian ini, bisa-bisanya kalian datang semua kemari untuk mengeroyok aku? Hm,,, daripada saling mengeroyok, kenapa kita tidak menyelesaikannya dengan pertandingan yang adil?!" Ucap Karin yang memang sampai sore dia sudah tidak memiliki jadwal lain lagi, kecuali kembali ke rumah dan menyiapkan makanan untuk suaminya.


Jadi Karin berpikir akan menghabiskan waktunya bersenang-senang di kampus, karena sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu dia terakhir kali menginjakkan kaki di kampus dan menikmati keseruan menjadi seorang mahasiswa.


"Apa katamu?!" Tanya sang perempuan yang sedari tadi berbicara.


"Maksudku, Ayo lapangan dan bertanding satu persatu, Aku bahkan menantang kalian semua untuk maju satu persatu melawanku!" Ucap Karin sambil tersenyum hingga membuat semua orang yang ada di sana terkejut dan merasa jijik dengan sikap sombong Karin.


Salah seorang pria yang merasa begitu diremehkan akhirnya mendekati Karin dan mendekatkan wajahnya ke arah Karin sambil berkata, "Kau pikir kau punya kemampuan untuk melawanku?! Kalau begitu ayo, Ayo pergi ke lapangan!!"


"Ok," jawab Karin sambil tersenyum lalu semua orang pun berjalan meninggalkan Karin.


Erik yang ada di sana segera menatap Karin dengan raut wajah cemasnya, karena perempuan cantik dan mudah yang ada di hadapannya tentulah sangat mustahil untuk bisa mengalahkan semua anak-anak teknik yang berbadan besar dan sudah sering berkelahi.


"Ayo kubantu kabur dari fakultas teknik," ucap Erik dengan raut wajah cemasnya.

__ADS_1


Tetapi Karin menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Sudah lama aku tidak menikmati kehidupan di kampus, jadi hari ini aku akan menikmatinya dengan serius!" Ucap Karin sambil berjalan menuju lapangan.


Erik pun kebingungan mendengar ucapan Karin, 'Sudah berpuluh-puluh tahun?'


__ADS_2