Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina
72


__ADS_3

Karin dan suaminya kini memasuki mobil mereka yang terparkir di lahan parkir rumah sakit xx ibukota.


Lalu setelah mobil keluar dari rumah sakit, Rasyid menatap istrinya, "Kau tampak dekat dengan Ibu kandungku," ucap Rasyid yang bisa menyadari Bagaimana percakapan kedua orang itu bahkan tampak sangat dekat.


Hal itu juga membuat Rasyid merasa aneh karena menurut ingatannya, Ini pertama kalinya Karin bertemu dengan ibu kandungnya, namun langsung akrab seperti itu bahkan tampak lebih akrab daripada seorang menantu dan ibu mertua.


"Ah,," Karin tersenyum sambil menatap suaminya, "ya, tadi kami bertemu di hotel tempat aku dan Heri melakukan meeting dengan klien, lalu kami berbincang-bincang bersama dan sepertinya kami berdua sangat cocok. Tapi ngomong-ngomong, apakah kau tidak ada niat untuk berbicara dengannya?" Tanya karin yang merasa bahwa suaminya sama sekali tidak memiliki perasaan untuk ibu kandungnya dan terutama untuk saudara kembarnya yang saat ini berada di IGD karena sedang kritis.


Bahkan tadi, suaminya tidak berbicara pada Vena, dan bahkan tidak menanyakan kabar saudara kembarnya yang dirawat di rumah sakit.


Padahal, kalau dipikir-pikir seharusnya akan ada sedikit simpati dari suaminya, Namun ternyata Karin tidak menemukan simpati tersebut di suaminya.


"Hm,," Rasyid memandangi jalanan yang cukup ramai dan dia berpikir selama beberapa saat sebelum pria itu kembali berkata, "dari aku lahir sampai dewasa aku tidak pernah bertemu dengan mereka, jadi aku tidak memiliki kerinduan apapun terhadap mereka."


Ucapan suaminya membuat Karin terdiam, dia tahu benar Apa yang dirasakan oleh Rasyid sehingga perempuan itu pun tidak berniat untuk menanyakan hal lain lagi dan tidak ingin lagi mengatakan tentang keinginan Vena bertemu dengan Rasyid.


Dia tahu bagaimana Rasyid yang tumbuh besar tanpa pernah bertemu dengan Ibunya, dan itu bukanlah kesalahan suaminya, melainkan kesalahan kedua orang tua yang sudah membuat Rasyid terjebak dalam perasaan yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang anak pada kedua orang tuanya.


Tetapi beberapa saat Karin terdiam, ia kembali mendengar suaminya berkata, "tapi karena kau terlihat dekat dengan mereka, aku juga tidak masalah kalau aku harus membangun kembali hubunganku dengan mereka."


Karin kembali terkejut dengan ucapan suaminya, karena pria itu terdengar seperti ingin melakukannya untuk dirinya hingga membuat Karin merasa terharu.


Maka Karin pun menatap suaminya dengan mata yang berbinar-binar, "Sayang, aku hanya berpikir kalau daripada saling tidak kenal seperti orang asing, lebih baik memiliki hubungan meskipun hubungan itu tidak terlalu dekat. Ketika aku bertemu dengan Vena Di hotel Vena berkata bahwa dia ingin sekali bertemu denganmu, Dia terlihat sangat merindukanmu, apalagi sekarang kembaranmu sedang masuk rumah sakit dan aku rasa dia tidak akan bertahan dengan lama," ucap Karin sambil menatap wajah suaminya. Dia sangat cemas kalau suatu saat nanti suaminya mungkin akan merasakan sebuah penyesalan atas apa yang terjadi saat ini.


"Baiklah, aku sudah mengerti dengan apa yang kau katakan. Sekarang Kau pasti lapar, kita mau makan di rumah atau di restoran?" Tanya Rasyid.


Karin merasa sangat lega dengan ucapan suaminya hingga perempuan itu langsung berkata, "Aku tiba-tiba ingin makan makanan kesukaanmu, Jadi bagaimana kalau kita ke restoran yang biasa kita tempati makan?"


Rasyid menganggukkan kepalanya, "Baiklah," kata Rasyid sambil menganggukkan kepalanya lalu pria itu pun melajukan mobilnya menuju restoran yang dimaksud oleh istrinya.


Begitu mereka tiba di restoran, keduanya langsung duduk di salah satu meja terbuka yang ada di sana.


Seorang pelayan menghampiri mereka lalu menyerahkan buku menu, "silakan dipesan," ucap sang pelayan sembari berdiri menunggu pesanan kedua orang itu.


Rasyid sama sekali tidak menyentuh buku menu yang diberikan padanya, Ia hanya membiarkan istrinya yang memesan semua makanan mereka. Sebab bagaimanapun, dia tahu istrinya akan memesankan semua makanan kesukaannya, jadi dia tidak akan protes dengan Semua pesanan istrinya.


Maka Karin pun memesan semua makanan kesukaan suaminya sebelum dia membelikan buku menunya pada pelayan lalu berbalik menatap suaminya.


"Sayang, kalau nanti kau punya waktu luang selama satu hari, Katakan padaku ya," ucap karin yang maunya mereka menghabiskan waktu 1 hari untuk pergi berjalan-jalan bersama.


Rasyid pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah, kalau begitu nanti aku akan berusaha mencari waktu luang. Tapi selain itu, apakah masih ada yang kau inginkan?" Tanya Rasyid yang tentunya ingin mengabulkan semua permintaan istri kesayangannya.


Karin berpikir selama beberapa saat sebelum perempuan itu kembali tersenyum menatap suaminya, "aku,, Bagaimana kalau kita memiliki seorang anak?" Tanya Karin.


Rasyid segera mengukir sebuah senyuman indah di wajahnya, "kalau begitu Malam ini kita bisa berjuang untuk memenuhi keinginanmu," ucap Rasyid langsung membuat wajah Karin sedikit merona sambil memperhatikan sekitar mereka karena tentunya merasa malu kalau ada orang-orang yang mendengarkan pembicaraan mereka.


Melihat istrinya yang tampak memperhatikan sekitarnya, maka Rasyid pun tersenyum mengulurkan tangannya memegang tangan istrinya.


"Tidak apa-apa kalau orang mendengarnya a, aku bahkan ingin mengatakan pada semua orang kalau Hari ini aku sangat bahagia," ucap Rasyid sambil mengelus tangan istrinya hingga membuat Karin semakin malu lagi.


"Pelankan sedikit suaramu, kita akan mengganggu ketenangan orang-orang di sini," ucap Karin.


"Baiklah sayangku," jawab Rasyid semakin melebarkan senyumannya melihat kelakuan istrinya.


Maka dua orang itu pun berbincang-bincang sampai makanan mereka datang diantarkan oleh beberapa orang pelayan.


"Ayo makan," ucap Karin dijawab anggukan Rasyid sehingga mereka mulai menikmati makanan pembuka yang disajikan di restoran itu.


Keduanya menikmati makanan sambil terus bercerita tentang berbagai hal hal sepele yang membuat kedua orang itu bahagia.


Sampai beberapa saat kemudian ketika mereka telah masuk ke makanan penutup, Karin mengerutkan keningnya ketika ia melihat ke arah pintu masuk dan mendapati seorang pria dan perempuan memasuki restoran.


"Ada apa?" Tanya Rasyid yang merasa aneh dengan raut wajah terkejut istrinya.


"Di sana," ucap Karin sambil menunjuk ke arah pintu masuk hingga Rasyid pun mengikuti arah telunjuk istrinya dan mendapati seorang pria yang merupakan suami Vena sedang bersama dengan seorang perempuan muda.


Interaksi dua orang itu pun terlihat sangat dekat, bahkan suami Vena merangkul Sang Perempuan dengan begitu mesra dan berjalan bersama-sama sambil berbincang-bincang.


Karin pun langsung teringat akan kejadian di masa lalunya sehingga Karin dengan cepat mengambil ponsel miliknya lalu mendapatkan potret kedua orang itu.


"Kau mau mengatakan itu ibu?" Tanya Rasyid.


Karin terdiam sejenak melihat gambar di layar ponselnya sebelum dia mengangkat wajahnya menatap suaminya, "apakah menurutmu aku harus diam saja?" Tanya Karin.


Rasyid berpikir beberapa saat sebelum dia menjawab, "ibuku akan sakit hati kalau mengetahuinya, tapi kalau dia tahu kita mengetahui tentang perselingkuhan suaminya tapi tidak memberitahukannya,, maka dia akan semakin merasa terhina."


Karin yang mendengar ucapan suaminya pun langsung menanggukkan kepalanya Dan inilah yang ia pikirkan sehingga kami berkata, "sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengatakan masalah ini pada Vena, karena dia juga sedang dalam keadaan tidak baik karena Deris yang masuk rumah sakit. Aku akan mencari waktu lain."


Rasyid pun mengganggukan kepalanya, "aku mendukung apapun keputusanmu." Ucap Rasyid sambil mengambil sesendok makanan di piringnya lalu dia menyuapi istrinya.

__ADS_1


Dua orang itu pun menyelesaikan makan malam mereka di restoran sebelum keduanya meninggalkan restoran.


Mereka berkendara sekitar 10 menit sampai akhirnya kedua orang itu tiba di apartemen mereka.


Begitu memasuki apartemen, Rasyid langsung menutup pintu apartemen sebelum dia membawa istrinya ke gendongannya hingga mengejutkan Karin.


"Sayang!" Teriak Karin terkejut.


Rasyid pun tersenyum sambil mendaratkan sebuah ciuman di bibir istrinya.


Cup!


"Bukankah kita harus berjuang untuk memiliki seorang anak?" Tanya Rasyid sambil membawa istrinya menuju kamar mandi hingga membuat Karin terkekeh digendongan suaminya.


"Aku harus meletakkan tasku dan barang-barangku!!" Ucap Karin.


"Ah, baiklah," jawab Rasyid sambil menurunkan istrinya dari gendongannya hingga Mereka pun melepaskan barang-barang yang ada pada tubuh mereka sebelum Rasyid kembali menarik Karin ke pelukannya dan mencium perempuan itu.


Cup cup cup....


Ciuman beruntun yang diberikan oleh suaminya langsung dinikmati oleh Karin dengan Karin melingkarkan tangannya di leher suaminya sambil membalas ciuman suaminya.


... .... ...


... .... ...


Hari ini adalah hari pertama Karin tidak masuk bekerja setelah dia sudah selesai mengajari Heri tentang segala sesuatu yang harus diperhatikan oleh pria itu selama bekerja untuk Rasyid.


Karena tidak pergi ke kantor, maka Karin menghabiskan waktunya di rumah dengan berolahraga dan melakukan kegiatan positif lainnya seperti memasak dan juga membaca buku.


Saat ini, Karin sementara membaca sebuah buku edukatif tentang menjadi seorang ibu yang baik.


Meski di kehidupan sebelumnya ia telah menjadi seorang ibu dan memiliki pengalaman mengasuh seorang anak, tetapi Karin masih ingin belajar banyak hal untuk mempersiapkan kehamilannya agar berjalan dengan lancar.


Sementara Karin masih membaca dan belajar banyak hal dari buku yang ada di tangannya, tiba-tiba saja bel apartemennya dibunyikan oleh seseorang.


Ding dong!


Ding dong!


Suara bel apartemen Karin langsung membuat kami berdiri lalu dia pun pergi melihat layar monitor yang terletak di samping pintu untuk mengetahui siapa tamunya.


Yang membuatnya merasa lebih aneh lagi bahwa perempuan itu hanya datang sendirian, tidak ada Nyonya Grason yang bersama-sama dengan Diandra.


"Masuklah," ucap Karin langsung membiarkan Diandra masuk ke dalam apartemen.


Maka Diandra pun segera pergi ke arah sofa lalu duduk di sana Dan meletakkan paper bagnya di bawah lantai. Setelah itu, Diandra mengeluarkan satu persatu barang yang ia bawa hingga membuat Karin terkejut karena perempuan itu membawa minuman alkohol dan juga cemilan yang biasa dinikmati oleh orang yang minum minuman beralkohol.


"Untuk apa semua itu?" Tanya Karin.


"Aku tidak punya teman untuk minum jadi aku datang kemari," ucap Diandra sambil membuka tasnya lalu dia menyerahkan sebuah FD pada kakak iparnya.


Karin pun mengambil FB tersebut, "untuk apa ini?" Tanya Karin merasa heran.


"Itu adalah kumpulan film yang belum ku nonton, Ayo menontonnya bersama," ucap Diandra sambil menatap kakak iparnya dengan tatapan yang tegang karena cemas perempuan itu tidak mau menonton bersamanya.


Padahal, Diandra sudah mengumpulkan keberaniannya untuk datang menghampiri kakak iparnya dan berharap hubungan mereka membaik agar dia tidak terus menerus terkena omel oleh ibunya dan uang jajannya juga bisa kembali normal seperti sediakala.


"Baiklah," ucap Karin akhirnya membuat Diandra merasa sangat lega.


Maka Karin pun langsung menyalakan tv dan memutar film yang ada di dalam flash disk sebelum dia berjalan pergi mengambil gelas dan juga jus lalu dibawa kembali ke meja.


"Aku dan kakakmu sedang melakukan program kehamilan, Jadi tidak boleh minum alkohol," ucap karin menjelaskan situasinya terlebih dahulu karena dia cemas Diandra mungkin akan tersinggung kalau dia tidak meminum minuman yang dibawa oleh perempuan itu.


Meski begitu, Karin dengan cepat mengambil satu bungkus cemilan yang dibawa oleh Diandra lalu dia pun menikmatinya sambil duduk di depan TV.


Melihat kelakuan kakak iparnya, maka Diandra pun tersenyum lalu dia membuka satu botol alkohol yang ia bawa dan menuangkannya ke dalam gelas miliknya.


Maka dua orang itu pun menonton bersama sambil menikmati makanan dan minuman yang ada di atas meja.


Sampai setengah film berjalan, Karin kemudian berdiri lalu perempuan itu pergi ke dapur mendapatkan kue yang tadi pagi ia buat.


Setelah itu, Karin kembali menghampiri Diandra Dan meletakkan kue tersebut di atas meja, "kue ini cemilan yang sehat untuk menjaga berat tubuh tetap ideal," ucap Karin langsung membuat Diandra mengambil cemilan tersebut Lalu menikmatinya.


"Kau membuat ini sendiri?" Tanya Diandra yang merasa bahwa kue tersebut rasanya sangat enak berbeda sekali dengan kue buatan ibunya dan juga para pelayan yang ada di rumahnya.


"Ya," jawab Karin dengan singkat sambil fokus ke arah TV.


Maka Diandra pun menikmati cemilan sehat yang diberikan oleh Karin sampai akhirnya film pertama yang mereka tonton kini telah habis.

__ADS_1


"Ah,,, akhir yang bagus," ucap Karin yang merasa senang karena ending dari film itu adalah ending yang bahagia.


"Filmnya bagus bukan?! Masih ada banyak film dalam FB tersebut, semuanya rekomendasi dari temanku." Ucap Diandra.


"Temanmu yang bersama denganmu ketika aku pergi ke kampus mu?" Tanya Karin.


"Iya, yang itu," jawab Diandra sambil meneguk satu gelas alkohol sampai habis.


Diandra pun memperhatikan perempuan di sampingnya, dan terlihat dia telah menghabiskan 1 botol alkohol hingga membuat Karin merasa cemas akan kesehatan perempuan itu.


"Jangan minum lagi, aku tidak mau kau mabuk di sini dan kakakmu kembali memarahiku," ucap Karin.


"Kakak ku?" Diandra menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, yang artinya bahwa kakaknya akan segera kembali.


Maka Diandra yang cemas dia akan dimarahi oleh kakaknya kalau pria itu kembali dan mengetahui dia mengajak kakak iparnya minum bersama, Diandra langsung berdiri lalu membereskan semua barang-barang yang berhamburan di atas meja.


"Aku harus pulang sekarang, besok kalau aku tidak ada kuliah, aku akan datang lagi kemari menemani kakak," ucap Diandra sambil memasukkan sampah-sampah ke dalam tempat sampah.


Karin pun tidak mengatakan apa-apa dan dia hanya menatap perempuan itu buru-buru mengambil tasnya dan pergi meninggalkannya.


'Hm, perempuan yang berkuliah memang beda,' ucap karin dalam hati sebelum dia pergi mematikan TV dan masuk ke dalam kamar untuk mandi.


Setelah mandi, Karin keluar dari kamar untuk menunggu kepulangan suaminya karena dia pun sudah memasak makanan dan hanya perlu memanaskannya di microwave sebelum dimakan.


Tetapi saat itu, ponsel milik karin tiba-tiba saja berdering hingga dia dengan cepat pergi mengambil ponselnya dan mendapati sebuah panggilan telepon yang berasal dari Vena.


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Karin pun segera mengangkat panggilan telepon itu, "halo," ucap Karin pada perempuan di seberang telepon.


"Karin,,, Deris meninggal dunia, hiks hiks hiksss" ucap perempuan dari seberang telepon sambil terisak.


Karin memperkuat pegangan tangannya pada ponselnya bersamaan dengan Rasyid yang sudah memasuki apartemen.


Maka Karin pun langsung berbalik menatap suaminya dengan wajah yang begitu murung hingga membuat Rasyid terkejut.


"Ada apa sayang?" Tanya Rasyid.


"Deris meninggal," ucap Karin langsung membuat Rasyid mendekati istrinya lalu memeluk perempuan itu.


Sementara panggilan telepon Karin dengan Vena kini telah diputuskan oleh Vena hingga Karin menurunkan ponsel itu dari telinganya dan balas memeluk suaminya.


'Ternyata semuanya memang akan terjadi seperti di kehidupan sebelumnya, tetapi mungkin saja waktunya lebih lambat atau mungkin bisa lebih cepat?' ucap Karin dalam hati sambil mengingat bagaimana suaminya yang meninggal karena tertabrak oleh mobil.


Karin pun memejamkan matanya, "kita harus pergi melayat," ucap Karin.


"Ya, tapi makan malam dulu sebelum pergi," ucap Rasyid sambil mengelus kepala istrinya.


Maka kedua orang itu pun segera makan bersama lalu Rasyid mandi sebelum mereka menggunakan pakaian serba hitam lalu pergi menuju rumah duka tempat Rasyid di bawa.


Begitu tiba di rumah duka, Karin melihat sudah ada banyak orang yang berkumpul di sana sehingga dia memegang erat tangan suaminya lalu berjalan masuk bersama-sama dengan suaminya.


Saat itu, pandangan semua orang tertuju pada Rasyid karena wajah pria itu memang sangat mirip dengan Deris, mereka seperti melihat copy-an orang yang meninggal.


Selain itu, ada juga bisik-bisik yang terdengar di sekitar ruangan tersebut yang membicarakan tentang Rasyid yang tak pernah kelihatan ketika Deris sedang sakit namun sekarang sudah datang bersama seorang perempuan yang tak mereka kenali.


Meski mendengar suara gosipan tersebut, tetapi Karin dan suaminya tidak memperdulikan perkataan orang-orang dan hanya terus melangkahkan kaki mereka sampai akhirnya mereka tiba di depan peti mati Deris yang telah diberikan karangan bunga.


Karin pun melihat Vena yang duduk di sebelah kanan dinding sambil terus menangis.


Tak berbeda dengan Vena, kedua Putri vena juga menangis tersedu-sedu di samping Vena, sementara suami Vena tampak terdiam menatap murung ke foto Deris.


Maka Karin dan Rasyid meletakkan dupa di depan foto Deris lalu mereka berdua memberi penghormatan.


Setelah selesai, Karin dan Deris langsung menghampiri keempat orang itu dan menyalami mereka.


Ketika dia tiba menyalami Vena, saat itu Vena Langsung menangis tersedu-sedu memeluk Karin hingga membuat Karin juga tidak tahan dan akhirnya dia menangis.


Dua perempuan itu cukup lama berpelukan sampai akhirnya Karin berkata, "kau harus tetap kuat, ada banyak orang yang menyayangimu di sini."


Vena menganggukkan kepalanya, "terima kasih," ucap Vena.


Maka setelah selesai menyalami 4 orang yang menunggu di ruang penghormatan, maka Karin dan suaminya langsung keluar lalu mereka pun duduk di salah satu meja kosong.


Sambil duduk di meja dan memakan makanan yang disediakan, karin memperhatikan semua orang yang ada di tempat itu dan tatapannya terhenti pada seorang perempuan yang terakhir kali dilihat oleh Karin bersama-sama dengan suami Vena.


Keberadaan perempuan itu langsung membuat Karin menggertakan giginya dan dia benar-benar marah karena perempuan selingkuhan itu berani datang ke rumah duka Deris.

__ADS_1


Meski begitu, Karin tetap duduk di tempatnya dengan tenang dan berpura-pura seperti tidak terjadi apapun.


__ADS_2