
Sekretaris Rasyid yang bernama Dina meletakkan gagang teleponnya dengan perasaan bingung.
"Karin? Siapa perempuan ini?" Ucap Dina yang merasa bingung karena Ini pertama kalinya dia mendengar nama Karin yang mengenal CEO dan langsung membuat janji secara pribadi dengan CEO.
Meski dia merasa ragu bahwa perempuan itu benar-benar mengenal CEO, Tetapi dia tetap berjalan ke pintu ruangan CEO dan mengetuk pintu ruangan.
Tok tok tok...
"Masuk!" Perintah seseorang dari dalam ruangan langsung membuat Dina masuk ke ruangan tersebut Lalu melihat Rasyid sedang sibuk dengan dokumen-dokumen yang menjadi pekerjaannya.
Sekretaris kemudian berkata "Katanya di lobi ada seorang perempuan bernama Karin yang hendak bertemu dengan--"
"Karin?!" Ucap Rasyid langsung meletakkan pena yang sedang ia gunakan untuk menandatangani dokumen di atas mejanya.
"Ya, Dia sedang ada di lobby," ucap Dina masih dengan raut wajah bingungnya menatap pria di depannya yang langsung berdiri lalu berjalan keluar dari ruangan meninggalkannya.
'Apa ini?' ucap Dina dalam hati yang mana raut wajahnya langsung berubah menjadi buruk melihat Rasyid yang sangat bersemangat untuk menyambut perempuan bernama Karin.
Dengan rasa penasarannya, maka Dina pun segera keluar dari ruangan CEO dan menyusul pria itu ke lantai lobby.
__ADS_1
Begitu tiba di lobi, ia langsung melihat Rasyid memeluk seorang perempuan.
'Siapa dia?' ucap Dina dalam hati yang tak menyangka bahwa dia akan melihat Rasyid untuk pertama kalinya memeluk seseorang.
Semua orang yang ada di sana juga sangat terkejut, bahkan resepsionis yang tadinya tidak percaya bahwa Karin adalah istri CEO kini tercengang di tempatnya karena tak menyangka bahwa apa yang dikatakan Karin memang sebuah kebenaran.
"Kenapa kau tiba-tiba datang?" Tanya Rasyid pada istrinya.
Karin mengukir sebuah senyuman di wajahnya, "Aku hanya ingin melihat-lihat kantormu, karena aku juga merasa bosan di rumah," ucap Karin dengan suara yang begitu lembut.
"Baiklah, Ayo kita naik," ucap Rasyid segera merangkul istrinya memasuki lift meninggalkan Dina yang saat ini tercengang di tempatnya.
Begitu mereka tiba di ruangan Rasyid, Karin terkejut ketika dia melihat desain ruangan suaminya memang sangat mirip dengan ruang kerja milik suaminya ketika suaminya masih muda.
Lukisan itu memiliki harga yang tak main-main, bahkan hampir mencapai 25 miliar.
"Duduklah, aku akan menyuruh sekretarisku membuatkanmu minuman," ucap Rasyid.
"Ah,, tidak apa-apa, biar aku saja yang pergi membuatnya, apakah Kau juga mau minum?" Tanya Karin yang ingin melihat-lihat di kantor suaminya sehingga pergi ke dapur juga adalah sesuatu yang penting baginya.
__ADS_1
"Di sini ada sekretaris," ucap Rasyid yang tidak mau membiarkan istrinya membuat minuman untuknya.
Tetapi Karin menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil berkata, "aku kemari karena bosan di rumah tidak melakukan apapun, Jadi kalau aku datang kemari hanya untuk duduk saja juga akan membuatku semakin bosan."
Setelah berbicara, Karin pun meletakkan tasnya di atas meja lalu dia keluar dari ruangan suaminya untuk mencari lokasi dapur.
Ketika keluar dari ruangan suaminya, Karin mengerutkan keningnya karena dia tak tahu kemana arah dapur Sebab di kehidupan sebelumnya pada kantor suaminya ada sebuah lorong di sebelah kanan yang digunakan menuju dapur, namun saat ini desain bangunan tempat Karin berada sangatlah berbeda dengan kantor suaminya yang dulu.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dina yang baru saja keluar dari lift lalu melihat Karin berdiri dengan kebingungan memperhatikan area sekitarnya.
"Ah, ya, Aku mau pergi ke dapur," ucap Karin langsung membuat Dina menunjukkan jalan menuju dapur.
"Silakan ikuti saya," ucap Dina langsung membuat Karin menganggukkan kepalanya hingga Karin pun mengikuti perempuan tersebut sampai mereka tiba di sebuah dapur.
"Ini adalah dapur perusahaan, tapi kalau saya boleh tahu, nona ini ada hubungan apa dengan Pak Rasyid?" Tanya Dina dengan rasa penasarannya.
"Ah, aku istrinya," kata Karin sambil melemparkan senyumannya pada perempuan di depannya, namun senyuman Karin membeku ketika dia melihat raut wajah Dina tampak sangat berubah setelah mendengar ucapannya.
'Ada apa dengan perempuan ini?' ucap Karin dalam hati.
__ADS_1
"Ah,, Saya tidak tahu kalau Pak Rasyid sudah memiliki seorang Istri. Kalau begitu silakan gunakan dapurnya, saya akan kembali ke ruangan saya untuk melanjutkan pekerjaan saya," ucap Dina tanpa menunggu jawaban dari Karin lalu perempuan itu segera pergi dengan tangan terkepal kuat.
Karin mengikutkan pandangannya pada perempuan yang menjauh darinya, Dan dia bisa melihat tangan perempuan itu benar-benar mengambil kekuatan untuk mengepal tangannya hingga membuat karya mempertajam tatapannya pada perempuan itu.