
Anggi yang berpisah dengan Rasyid kini kembali ke ruangannya, tetapi ketika dia hendak masuk ke ruangannya, perempuan itu menghentikan langkahnya lalu berbalik meninggalkan ruangannya dan pergi ke ruangan Dina.
Tok tok tok...
Setelah mengetuk pintu, Anggi langsung masuk ke ruangan Dina dan melihat Dina yang langsung menyambutnya dengan sebuah senyuman di wajahnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dina sambil berdiri menghampiri Anggi.
"Aku mau bertanya sesuatu padamu, apa kau mengenal seorang perempuan yang dekat dengan Rasyid yang memiliki rambut panjang dan tahi lalat di bawah tepi matanya?" Tanya Anggi.
"Ah,, itu adalah istrinya, namanya Karin." Jawab Dina dengan tatapan meniti perempuan di depannya karena ia hendak mengetahui apa yang dipikirkan oleh Anggi sehingga perempuan itu menanyakan tentang Karin.
__ADS_1
"Istri?!" Ucap Anggi sangat terkejut.
"Iya, Pak Dafa sendiri yang mengatakan bahwa dia adalah istrinya, tetapi sikap perempuan itu tidak terlalu baik. Sebaiknya Nona Anggi hati-hati dengannya," ucap Dina dengan raut wajah khawatirnya.
"Ah,, begitu, Lalu apakah kau mengetahui informasi lain tentang perempuan itu?" Tanya Anggi.
"Hm,, Hanya itu yang saya ketahui, Tapi nanti kalau saya dapat informasi tentangnya, Saya pasti akan memberitahu Nona Anggi." Kata Dina langsung membuat Anggi menganggukkan kepalanya sebelum dia pergi meninggalkan Anggi karena merasa tidak berguna bertanya pada perempuan yang tak tahu apa-apa.
Setelah Anggi tiba di ruangannya, perempuan itu duduk dengan perasaan yang kesal, "Kenapa aku tidak tahu kalau Rasyid sudah menikah?" Ucap Anggi yang merasa heran hingga perempuan itu akhirnya mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi kakeknya.
Setelah berbicara, Anggi melihat pintu ruangannya dibuka oleh seseorang yang mana yang datang menghampirinya ternyata adalah Dina.
__ADS_1
"Saya ingin mengkonfirmasi tentang proyek G," ucap Dina sambil menyerahkan sebuah berkas yang sudah ia siapkan hingga menghela nafas sambil mengambil berkas tersebut.
Dina memperhatikan raut wajah Anggi, dan dia tahu bahwa perempuan itu sedang galau karena dari gerak-geriknya Dina sudah bisa membaca bahwa Anggi juga menyukai Rasyid.
Oleh sebab itu, Dina berkata, "sepertinya Anda sangat penasaran dengan hubungan Pak Rasyid dan istrinya, sebenarnya beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar mereka bertengkar hebat di ruangan Pak Rasyid."
Ucapan Dina langsung membuat Anggi mengangkat kepalanya menatap perempuan itu dengan raut wajah penasaran, "bertengkar?"
Dina dengan cepat menganggukkan kepalanya, "Ya, mereka bertengkar hebat. Jadi saya rasa hubungan mereka sebenarnya tidak sepenuhnya saling menyukai, tapi mereka terpaksa bersama-sama. Apalagi beberapa waktu yang lalu tuan besar grason datang kemari jadi saya rasa mereka hanya bersikap saling peduli Ketika tuan besar grason datang ke ibukota.
"Lagi pula pernikahan mereka belum diumumkan dan tidak mungkin pernikahan seorang pewaris besar tidak dirayakan secara besar-besaran. Mungkin saja Pak Rasyid tidak menginginkan pernikahan ini sehingga dia mencegah diadakannya pernikahan secara besar-besaran untuk diperlihatkan pada publik." Ucap Dina.
__ADS_1
"Ah,, jadi begitu, Terima kasih sudah memberitahuku, sekarang kau boleh keluar, aku akan memeriksa berkas ini," ucap Anggi langsung dijawab anggukan Dina sebelum perempuan itu keluar dari ruangan Anggi.
Begitu menutup pintu ruangan Anggi, maka Dina tersenyum sambil berjalan ke arah ruangannya, 'biarkan Anggi dan istri Rasyid saling berperang, sementara aku akan menikmati kemenanganku terlepas dari siapapun yang menang. Bagaimanapun, sangat penting mengurangi saingan sebelum maju ke medan pertempuran!' Ucap Dina dalam hati.