
"Sayang," ucap Rasyid yang saat ini sedang menggenggam erat tangan istrinya menunggu perempuan yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit setelah menjalani operasi.
Pria itu sudah berkali-kali memanggil nama istrinya, Tetapi istrinya yang dibius secara total ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama dari perkiraannya untuk sadar.
Tok tok tok...
Tiba-tiba pintu kamar diketuk oleh seseorang hingga Rasyid menoleh ke arah pintu dan mendapati Diandra masuk ke dalam kamar.
"Si kembar sudah dipindahkan, jadi Sudah bisa dilihat di ruang perawatan bayi. Kalau kakak mau pergi melihatnya, Kakak bisa ke sana sekarang, biar aku yang menunggui kakak ipar di sini," ucap Diandra langsung membuat Rasyid menghela nafas.
"Tidak apa-apa, ada banyak orang yang menunggunya di sana," ucap Rasyid yang tidak mau meninggalkan istrinya, karena tidak mau bila perempuan itu terbangun dan tidak melihat dirinya di samping istrinya.
Lagi pula, kalau dia pergi melihat bayi-bayinya, dia juga tidak akan bisa menyentuh bayi-bayi itu karena masih belum diperbolehkan untuk menyentuhnya.
__ADS_1
Melihat kakaknya yang tidak mau pergi, maka Diandra pun segera keluar dari kamar untuk memberitahu semua orang.
Sementara Rasyid, ia masih menunggu selama 15 menit sampai Karin akhirnya mengerjakan matanya lalu membuka mata dan melihat suaminya.
"Sayang, akhirnya kau sadar juga. Selamat sayang, bayi kita sudah lahir dengan selamat meski mereka berdua harus dirawat dalam tabung," ucap Rasyid langsung membuat Karin tersenyum lebar.
Perempuan itu masih merasakan pusing pada kepalanya, Tetapi dia tidak terlalu memperdulikannya dan dia hanya berkata, "syukurlah, Apa kau sudah berjumpa dengan mereka?"
Rasyid menganggukkan kepalanya, "tentu, aku langsung melihatnya begitu mereka keluar dari rahimmu. Sekarang semua orang sedang menunggu si kembar di ruang perawatan," ucap Rayid.
Maka Rasyid pun tidak memaksakan istrinya untuk bercakap-cakap dengannya, pria itu hanya terus terdiam menunggu istrinya sampai akhirnya semua orang memasuki kamar.
Masing-masing orang memberikan selamat untuk Rasyid dan Karin atas kelahiran bayi mereka sampai akhirnya mereka semua berpamit untuk pulang karena jelas tahu kalau Karin membutuhkan istirahat yang tenang untuk pemulihannya setelah menjalani operasi.
__ADS_1
Maka setelah Semua orang pergi Rasyid naik ke tempat tidur dan memeluk istrinya sambil mencium pipi perempuan itu.
"Apakah sekarang kita sudah bisa mendiskusikan nama untuk anak-anak kita?" Tanya Rasyid yang sejak beberapa waktu terakhir dia terus membicarakan masalah itu dengan istrinya, Tetapi istrinya bersikeras bahwa mereka tidak boleh menyiapkan nama sebelum kedua bayi Mereka lahir dengan selamat.
"Hm, tentu, Aku tidak sabar untuk berjumpa dengan mereka dan memberi mereka nama," ucap Karin yang saat ini setelah merasa lebih baik meski dia masih sangat berhati-hati menggerakkan tubuhnya supaya menjahitkan pada operasinya tidak terbuka.
"Apa kau punya ide untuk menang nama mereka?" Tanya Rasyid.
"Hm,, aku hanya ingin perempuan diberi nama Helen," ucap Karin yang mengingat nama anak perempuannya di kehidupan masa lalunya adalah Helen.
"Helen, nama yang sangat bagus. Kalau begitu kamu bagaimana kalau laki-lakinya diberi nama Glen?" Tanya Rasyid.
"Ya, nama yang sangat bagus," ucap Karin.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, kalau begitu nama lengkap mereka biar kakek yang menentukannya," ucap Rasyid yang beberapa waktu lalu sudah berbicara dengan kakeknya dan meminta kakeknya menyiapkan nama belakang untuk kedua anak mereka.
"Iya," jawab Karin dengan singkat sebelum perempuan itu memejamkan matanya untuk kembali beristirahat.