Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina
71


__ADS_3

Saat ini, Karin bersama Heri keluar dari ruang meeting yang terletak di sebuah hotel xx.


Mereka baru saja melakukan rapat dengan salah satu klien, sehingga keduanya langsung memasuki lift dan turun ke lobi untuk meninggalkan hotel xx.


Di dalam lift, Karin berkata, "ini adalah hari terakhirku menemanimu bekerja, jadi mulai besok kau akan mulai bekerja sendiri dan menghandle semua pekerjaanmu," ucap Karin yang mana sudah satu minggu berlalu sejak pertama kali Heri memasuki kantor mereka.


"Baik Nyonya," jawab Heri dengan suara yang begitu sopan karena dia sangat menghormati Karin.


Ting!


Lift akhirnya tiba di lobi, lalu dua orang itu segera keluar dari lift.


Tetapi Karin menghentikan langkahnya ketika ia melihat Vena yang baru saja memasuki hotel kini menatap ke arah Karin dan perempuan itu berjalan menghampiri Karin.


Heri juga menghentikan langkahnya sambil menatap Karin karena dia bingung kenapa perempuan itu tiba-tiba berhenti.


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, bagaimana kalau kita berbicara sebentar?" Ucap Vena pada Karin.


"Ya, tentu," jawab Karin sambil menganggukkan kepalanya sebelum dia berbalik menatap Heri.


"Kau kembali lah ke kantor, nanti aku akan menyusul," ucap Karin langsung dijawab anggukan Heri sebelum pria itu pergi meninggalkan Karin dan Vena.


Maka setelah Heri pergi, Karin pun langsung mengikuti Vena yang langsung berjalan menuju taman hotel.


Sambil mengikuti langkah Vena, Karin memperhatikan perempuan di depannya dan entah kenapa dia merasa familiar dengan cara berjalan perempuan itu, tetapi dia tidak mengatakan apapun dan hanya terus mengikuti Vena sampai Vena menghentikan langkahnya.


Karin pun memperhatikan Vena yang langsung berbalik menatapnya dengan tatapan meniti bahkan melihat Karin dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Apa yang hendak Ibu bicarakan?" Tanya Karin yang tentunya merasa risih dengan perempuan di depannya yang masih terus memperhatikannya.


"Kau,, namamu Karin, Kau sangat mirip dengan seseorang yang kukenal. Mungkinkah kau mengetahui sebuah kehidupanmu yang lain selain di kehidupan ini?" Tanya Vena langsung membuat Karin menatap bingung perempuan di depannya.


Dia merasa bahwa Vena sedang membicarakan tentang kehidupan masa lalu nya, tetapi sangat mustahil kalau Vena mengetahui masalah itu, Karena dia tak pernah menceritakan hal tersebut pada siapapun termasuk suaminya sendiri.


"Maaf, apa yang Ibu bicarakan?" Tanya Karin yang ingin memastikan arah sebenarnya dari pembicaraan mereka.


"Aku hanya bertanya mungkin saja kau mengingat sesuatu tentang kehidupan masa lalumu karena bagaimanapun orang hidup sebanyak tujuh kali kehidupan yang berbeda sebelum mereka benar-benar meninggalkan dunia," ucap Vena langsung membuat karin menyipitkan matanya.


Ia menatap Vena dengan tatapan bingungnya, karena dia merasa bahwa perempuan itu benar-benar menceritakan masa lalu mereka, Tetapi dia tidak ingat di mana Dia pernah bertemu dengan Vena di kehidupan sebelumnya.


'Kalau memang perempuan ini mengetahui tentang kehidupan sebelum ku, maka seharusnya dia juga berasal dari kehidupan yang sama denganku, tapi kenapa aku tidak mengenal perempuan ini?' ucap Karin dalam hati sambil berusaha mengingat-ingat kalau kalau di kehidupan sebelumnya mereka memang pernah bertemu.


Sementara Vena yang memperhatikan ekspresi bingung Karin, dia pun menjadi yakin bahwa perempuan itu tidak mengetahui apapun sehingga Vena berkata, "sebenarnya dulu aku memiliki seorang sahabat yang sangat mirip denganmu. Namanya juga Karin dan wajahnya juga sangat mirip dengan mu, tapi sayangnya persahabatan kami berhenti ketika dia menghianatiku.


"Dia menusukku dari belakang hingga membuatku bercerai dengan suamiku!! Tapi sayangnya, setelah itu dia hidup dengan sangat baik tanpa ada penderitaan apapun, sementara aku hidup dengan begitu buruk karena bercerai dengan suamiku dan tidak memiliki siapapun di sisiku.


"Sementara perempuan yang sangat mirip denganmu Itu, dia malah hidup bahagia bersama dengan suaminya seolah-olah suaminya tidak pernah mengetahui tentang perselingkuhan istrinya dengan suamiku." Tegas Vena.


Karin sangat terkejut mendengar ucapan Vena karena apa yang diceritakan oleh perempuan di depannya adalah kisahnya dengan sahabatnya di mana mereka mengalami salah paham.


Oleh sebab itu, Karin berkata, "kau,, kau,, Apa kau Gracia? Gracia marasta?!"


Pupil mata Vena langsung membesar mendengar ucapan Karin karena dia tak menyangka Karin akan mengetahui nama lengkapnya di kehidupan sebelumnya.


"Kau,, Jadi kau juga hidup kembali di dunia ini?" Tanya Vena langsung membuat Karin menganggukkan kepalanya sebelum perempuan itu melangkahkan kakinya mendekati Vena dan menarik Vena kepelukannya.


"Gracia, Aku sangat merindukanmu!! Hiks, ,hiks,, hiks,," Karin terisak memeluk Vena Karena Dia teringat Bagaimana kematian sahabatnya yang sangat tragis saat perempuan itu melompat dari gedung pencakar langit dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang berbunyi bahwa kehidupan adalah sesuatu yang menyedihkan.


Vena pun terdiam dipeluk oleh Karin, perempuan itu hanya mengepal kuat tangannya dan saat ini dia benar-benar marah pada Karin, tetapi Vena berusaha menahan kemarahannya pada karin karena berpikir di kehidupan yang kedua ini mungkin akan ada sesuatu yang lebih baik di antara mereka.


Oleh sebab itu, Vena terdiam sampai Karin melepaskan pelukan mereka lalu ia melihat Karin yang tampak benar-benar sedih dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Ini benar-benar kau? Tapi bagaimana bisa kau hidup kembali dan masuk ke dalam tubuh Perempuan ini?" Tanya Karin yang tidak mengerti mengapa tubuh tempat sahabatnya berpindah adalah tubuh perempuan yang merupakan ibu mertuanya?


"Aku juga tidak tahu, tapi bukankah kau harus menjelaskan sesuatu?" Tanya Vena yang ingin mengklarisifikasi atas apa yang terjadi di kehidupan masa lalu mereka sampai karin tega berselingkuh dengan suaminya.


"Ah,, Ayo kita duduk di kursi itu," ucap Karin sambil menyeka air matanya yang masih terus bercucuran.


Vena menyipitkan matanya menatap Karin, Tetapi beberapa saat kemudian Vena mengganggukan kepalanya lalu mereka berjalan menuju sebuah kursi taman yang terletak tak jauh dari mereka.


Begitu duduk di kursi taman, Karin masih berusaha untuk menenangkan diri karena merasa bersalah dan rasa penyesalan yang ia miliki atas kematian sahabatnya di masa lalu.


Hal itu tak luput dari perhatian Vena hingga membuat Vena semakin bingung dengan Karin.


Tetapi setelah Karin berhasil menenangkan diri, dia kemudian berbalik menatap Vena lalu mulai berkata, "Aku tidak pernah selingkuh dengan suamimu. Apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya adalah sebuah kesalahpahaman. Suamimu bukan selingkuh denganku, tetapi dengan seorang perempuan lain yang kebetulan menjadikanku sebagai kambing hitam. Apa kau ingat perempuan yang pernah ku ceritakan padamu? Perempuan bernama Safira yang memiliki banyak barang-barang pasangan dengan suamimu?"


Vena kembali mengingat kehidupan di masa lalunya, sebelum dia menganggukkan kepalanya karena dia memang membuktikan ucapan Karin saat itu, tetapi ketika dia ingin memastikan perselingkuhan suaminya, dia yang pergi ke hotel untuk menangkap basah suaminya berselingkuh malah mendapati suaminya bersama-sama dengan Karin di dalam kamar hotel.


"Aku memang ingat perempuan itu, tapi bagaimana kau menjelaskan dirimu yang berada satu kamar hotel dengan suamiku?" Tanya Vena yang selalu tidak merasa tenang setiap kali dia memikirkan masalah itu.


"Itulah yang ku bilang Aku dijebak, tetapi di kehidupan sebelumnya kau tak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya lalu kau menghilang begitu saja sampai aku mendengar kabar kau meninggal karena bunuh diri. Hari itu aku dan suamiku memang menginap di hotel yang sama dengan tempat suamimu berada, lalu seseorang memasukkan sesuatu ke dalam minuman kami hingga suamiku tak sadarkan diri dan aku pun bernasib sama dan diam-diam dipindahkan ke kamar suamimu. Aku berhasil mendapatkan rekaman pembuktian itu ketika kau telah meninggal, tetapi Tentu saja aku tidak bisa membawanya kemari. Tapi, Apa kau tahu apa yang terjadi setelah kau meninggal?" Tanya Karin sambil meneteskan air matanya karena dia merasa begitu sedih mengingat kembali kehidupan masa lalu mereka.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Tanya Vena dengan tangan terkepol kuat, karena sampai saat ini dia masih kesulitan untuk mempercayai apa yang dikatakan oleh Karin.


Tetapi ketika dia melihat Karin yang tidak membuat-buat ekspresi sedihnya, maka perempuan itu menjadi sangat dilema.


Karin menyeka air matanya yang terus bercucuran karena dia selalu sedih mengingat kembali bagaimana sahabatnya benar-benar diperlakukan dengan buruk oleh suaminya.


"Satu minggu setelah kematian mu, suamimu menikah dengan selingkuhannya, lalu ternyata mereka berdua telah memiliki seorang anak yang berusia 2 tahun. Saat itu aku sangat marah, Aku bahkan menghampiri mereka dan hendak membunuh keduanya untuk membalaskan dendammu, Tapi saat aku melihat senyum anak mereka, aku dan katakan anakku sehingga tidak bisa melakukan. Hiks,, hiks,, maaf, harusnya saat itu aku tidak terbawa emosi dan langsung menghabisi mereka berdua! Hiks,, hiks,," Karin menangis dengan sangat keras hingga membuat Vena akhirnya mengulurkan tangannya dan membawa Karin ke pelukannya.


Dipeluk oleh Vena semakin membuat Karin tidak bisa menahan diri hingga tangis perempuan itu semakin pecah lagi dan menarik perhatian beberapa orang yang saat itu juga berada di taman.


Vena mengelus Punggung karin untuk menenangkan perempuan itu, dan saat ini air matanya juga tak dapat ia bendung mengingat apa yang terjadi di kehidupan sebelum nya.


Keduanya terus berpelukan di taman dengan beberapa orang yang menonton adegan tersebut.


Tetapi Vena tidak memperdulikan mereka dan hanya membiarkan Karin terus menangis di pelukannya.


.... .... ....


.... .... ....


"Minumlah ini," ucap Vena meletakkan secangkir air putih di hadapan Karin yang saat ini telah duduk di cafe hotel.


Karin pun mengambil minuman yang diberikan oleh Vena lalu dia meneguk minuman itu sampai setengah gelasnya habis.


Setelah itu, Karin mengangkat wajahnya menatap Vena yang mana perempuan di depannya juga berwajah sembab karena baru saja menangis bersama-sama dengan Karin.


"Aku tidak percaya ini, kita berdua diberikan kesempatan untuk hidup kembali seperti ini. Tapi kau meninggal di usia 40 tahun, dan aku meninggal di usia 90 tahun. Tapi Siapa yang menyangka Aku akan kembali muda di kehidupan ini dan kau akan masuk ke tubuh orang lain yang merupakan ibu mertuaku," ucap Karin kembali meneteskan air matanya sehingga dia dengan cepat menyekah air matanya.


Vena tersenyum lebar, "Aku juga senang mengetahui bisa kembali bertemu denganmu di sini. Awalnya aku kaget ketika aku bangun dan berada di tubuh ini lalu mendapati diriku ternyata adalah ibu kandung dari seorang pria yang sangat mirip dengan suamimu," ucap Vena juga kembali meneteskan air matanya Karena ia merasa haru atas apa yang terjadi.


"Deris adalah saudara kembar suamiku, di kehidupan yang lalu kita, saudara kembar suamiku meninggal di usia yang sangat mudah namun saat ini aku melihatnya tumbuh begitu dewasa. Tapi aku dengar sekarang Dia terkena kanker?" Tanya Karin langsung dijawab anggukan Vena.


"Ya, Dia menderita kanker tulang, baru diketahui beberapa waktu terakhir namun penyakitnya sudah terlanjur parah. Dia menyembunyikannya dari semua orang dan menahan rasa sakitnya selama berbulan-bulan lamanya," ucap Vena sambil menghela nafas.


"Semoga dia cepat sembuh, tapi ngomong-ngomong Kenapa kau tidak langsung mencariku setelah kau ada di sini?" Tanya Karin yang merasa aneh Vena tidak langsung mencarinya, padahal perempuan itu sudah mengenal dirinya dan seharusnya tahu semua yang terjadi.


Vena menghembuskan nafasnya dengan panjang, "Hah,,, Aku ingin melakukannya, tapi kesedihan di masa lalu membuatku tidak bisa melakukannya." Ucap Vena.


Karin mengangguk, "Yang penting sekarang kita sudah bertemu," ucap Karin sambil mengukir sebuah senyuman di wajahnya yang tampak berantakan karena habis menangis.


Senyum itu pun menular ke wajah Vena, "Aku harap di kehidupan ini kehidupan kita menjadi lebih baik. Tapi apa Kau tahu apa yang terjadi antara perempuan yang tubuhnya kumasuki? Dia memiliki masalah yang sangat besar dengan ibu mertuamu?" Tanya Vena.


Vena menghembuskan nafasnya dengan panjang sebelum dia mengganggukan kepalanya, "Hah,,,, ya, itu memang benar, tetapi lebih dari itu sebenarnya Ayah mertuamu berselingkuh dengan ibu mertuamu yang saat ini bersama-sama denganmu. Aku memiliki bukti perselingkuhan mereka itulah sebabnya ibu mertuamu selalu takut untuk membuat masalah denganku karena kalau aku menyebarkan bukti tersebut, maka reputasi ibu mertuamu akan menjadi sangat jelek!" Ucap Vena benar-benar mengejutkan Karin.


"Apa?! Tapi aku dengar dari suamiku kalau mereka menikah saat dia berumur 5 tahun?" Tanya Karin.


"Itulah, mereka menyembunyikannya terlalu lama agar tidak kentara, Bukankah mereka sangat hebat? Tapi untungnya sekarang suami yang kudapatkan adalah suami yang sangat baik. Kecuali dua anak perempuan yang terlalu sulit diatur," ucap Vena sambil menghela nafas.


Karin tersenyum mendengar keluhan Vena, "mereka sebenarnya baik, tapi mereka hanya kurang kasih sayang saja. Kenapa kau tidak meluangkan banyak waktumu untuk mereka berdua?" Tanya Karin.


"Tidak bisa, perempuan ini memiliki banyak sekali pekerjaan, aku sampai kewalahan menghadapinya. Perempuan ini memiliki obsesi untuk mengalahkan keluarga grason jadi dia bekerja sangat keras bersama dengan suaminya," ucap Vena.


"Kalau begitu Kau bisa menghentikannya, Ayo nikmati hidup ini daripada berlarut-larut dalam masalah yang tidak terlalu penting," ucap Karin.


"Hm,,, yang kau katakan juga adalah yang ku pikirkan, Tapi kalau aku mengingat Bagaimana perempuan ini tersakiti saat ia sedang melahirkan,,, aku sangat cemas memikirkannya. Masalah ini tidak diketahui oleh siapapun dan perempuan ini selalu berniat untuk memberitahukannya pada Rasyid tapi dia tidak pernah punya kesempatan untuk bertemu dengan Rasyid," ucap Vena.


"Jadi maksudmu kau ingin menghancurkan hubungan Rasyid dengan ibunya yang sekarang?" Tanya Karin.


"Hm,, Tapi karena kita bertemu sekarang aku pikir aku tidak akan melakukannya," ucap Vena.


Karin menggelengkan kepalanya, "tidak, aku pikir hal seperti itu harus dikatakan padanya, lagi pula dia yang akan menentukan apa sikapnya Untuk masalah ini. Aku akan mempertemukanmu dengannya," ucap Karin.


"Terima kasih," jawab Vena.


"Jangan khawatir, kita adalah sahabat dan aku harap di kehidupan ini kita juga menjadi seorang sahabat," kata Karin persamaan dengan dering ponsel Vena yang mengalihkan perhatian Vena.


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Vena langsung mengambil ponselnya dan melihat sebuah panggilan telepon yang berasal dari Kartika hingga Vena dengan cepat mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo," ucap Vena.


"Ibu!! Cepat ke rumah sakit, Kak Deris kembali masuk rumah sakit!!" Teriak perempuan dari seberang telepon langsung membuat Vena berdiri.


"Baik,," ucap Vena sebelum dia menutup panggilan telepon itu lalu dia melihat Karin, "Aku harus pergi, Deris masuk rumah sakit."


Setelah berbicara, Vena tidak menunggu jawaban dari Karin, perempuan itu langsung pergi saja meninggalkan Karin.


Karin pun langsung mengambil tasnya lalu menyusul perempuan itu dan mendapati Vena berusaha menahan sebuah taksi sehingga Karin pun menaiki mobilnya lalu melajukan mobilnya ke depan Vena.

__ADS_1


"Masuklah!" Perintah Karin langsung membuat Vena membuka pintu penumpang depan lalu mobil melaju meninggalkan hotel.


"Di rumah sakit mana dia?" Tanya Karin.


"Rumah sakit xx ibukota," jawab Vena langsung membuat Karin melajukan mobilnya menuju Rumah sakit xx ibukota dengan kecepatan maksimal.


Dalam perjalanan, Vena terus cemas memikirkan Rasyid, karena meskipun tubuh tempat ia berada bukanlah tubuhnya dan tidak ada hubungannya dengannya, tetapi perasaan pribadi perempuan yang dulunya memiliki tubuh itu masih terus melekat sehingga membuatnya masih memiliki banyak tindakan yang sama dengan perempuan itu.


Hal itu membuat ketegangan dalam mobil terus terjadi sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit lalu kedua perempuan itu langsung berlari ke dalam rumah sakit.


Tap tap tap...


Tap tap tap...


Suara langkah kaki keduanya menarik perhatian orang-orang hingga semua orang menatap ke arah dua perempuan yang terus berlari dengan cepat.


Sampai mereka tiba di depan IGD barulah keduanya berhenti dan melihat Kartika bersama dengan adiknya duduk di sana dengan kepala tertunduk lemas.


"Akhirnya ibu datang, tadi kakak pingsan ketika dia akan meninggalkan rumah!" Ucap Kartika dengan suara yang begitu panik dan takut.


Vena menganggukan kepalanya sambil duduk di samping putrinya, "Tenanglah, kakakmu pasti baik-baik saja." Ucap Vena.


Karin duduk Di salah satu kursi yang ada di sana sambil melihat ke ruang IGD dengan Kartika bersama adiknya kebingungan juga melihat karin datang bersama-sama dengan ibu mereka.


Padahal, terakhir kali di pusat perbelanjaan, dua orang itu bertengkar.


Meski begitu, Tidak ada yang berbicara dan mereka hanya diam saja menunggu para dokter melakukan tindakan pada Deris.


Entah berapa lama mereka menunggu, tetapi sampai keempat perempuan yang ada di sana ketiduran, belum ada juga dokter yang datang menemui mereka.


Bahkan ketika Karin terbangun, dia melihat langit sudah sangat gelap dan ponselnya bergetar sehingga Karin pun mengambil ponselnya dan melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari suaminya.


Maka Karin pun langsung berdiri menjauhi Ketiga orang yang tertidur di kursi tunggu dan mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo sayang," ucap Karin.


"Kau di mana?" Tanya pria dari seberang telepon dengan nada suara yang sangat cemas.


"Maaf, tadi aku ketiduran, jadi tidak menyadari panggilan telepon darimu. Saat ini aku ada di rumah sakit xx karena Deris masuk rumah sakit dan sekarang masih ada di IGD dengan pengawasan intensif dari para dokter," ucap karin Sambil memandangi langit yang sudah sangat gelap.


"Aku akan menjemputmu sekarang," ucap pria dari seberang telepon.


"Sayang, bisakah aku minta tolong kalau kau kemari lewat beli makanan untuk Vena dan kedua putrinya?" Ucap Karin yang merasa bahwa Vena dan kedua putrinya pasti lapar dan tidak akan punya waktu untuk pergi membeli makanan.


"Baiklah, aku akan membeli makanan," jawab pria dari seberang telepon sebelum panggilan telepon itu diakhiri.


Maka setelah teleponnya diakhiri, Karin kembali menghampiri Vena dan kedua putrinya lalu melihat Ketiga orang itu masih tertidur sehingga karin Hanya duduk diam tanpa ada niat untuk mengganggu mereka bertiga.


Karin terus dia menunggu sampai beberapa saat kemudian Vena akhirnya terbangun dan terkejut mendapati langit sudah malam.


"Astaga, ternyata sudah semalam ini," ucap Vena langsung membuka tasnya untuk mengambil ponselnya karena dia tidak bisa berdiri sebab kedua bahunya disandari oleh kedua putrinya yang duduk di samping kiri dan kanannya.


"Mungkin tadi dokter sempat datang mencari kita tapi kita semua tertidur, Jadi mungkin lebih baik kalau kau menghampiri dokter dan menanyakan bagaimana keadaan Deris," ucap Karin memberi saran.


Vena mengangguk, "Aku juga merasa seperti itu, tapi sekarang aku harus menelpon dulu suamiku dan memberitahunya untuk datang kemari," ucap Vena langsung dijawab anggukan Karin.


Maka Vena pun menelpon suaminya, namun sebelum panggilan telepon itu terhubung, Rasyid terlebih dahulu telah datang ke arah mereka sambil membawa makanan di tangannya.


Maka Vena menekan tombol reject pada ponselnya lalu beralih menatap Rasyid yang semakin dekat ke arah mereka.


Sementara Karin yang melihat suaminya, perempuan itu langsung berdiri lalu mengambil makanan dari tangan suaminya.


"Kalian pasti lapar, jadi aku menyuruh suamiku untuk membawakan makanan kemari," ucap Karin sambil meletakkan makanan tersebut di samping Kartika.


"Ya, terima kasih," ucap Vena sambil menatap Rasyid dengan intens dan saat ini matanya tampak berkaca-kaca karena sejak Rasyid lahir, dia belum pernah melihat pria itu Dan mungkin karena bawaan dari perasaan yang tertinggal pada tubuh perempuan yang ia masuki hingga membuat Vena benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya.


Karin bisa menyadari respon Vena, dan dia juga merasa heran dengan Vena yang benar-benar mirip seperti ibu kandung Rasyid.


"Apa kalian berdua perlu bicara?" Ucap karin sambil menatap Vena dan juga suaminya.


Tetapi Vena langsung menggelengkan kepalanya, "sudah larut malam, kalian kembalilah, kita bicara lain waktu saja," ucap Vena.


Mendengar ucapan sahabatnya, maka Karin pun menganggukkan kepalanya sebelum dia pergi bersama dengan suaminya meninggalkan Ketiga orang yang ada di sana.


Begitu Karin telah pergi, Kartika yang sedari tadi berpura-pura tidur kini terbangun lalu dia menatap ibunya yang tampak meneteskan air matanya.


"Ibu baik-baik saja?" Tanya Kartika.


"Ya,,, jaga adikmu, ibu akan pergi menemui dokter, dan kalau kalian lapar ada makanan di sini yang dibawakan oleh Rasyid," ucap Vena sebelum dia melepaskan kepala putrinya dari bahunya lalu perempuan itu segera berdiri meninggalkan Kartika dan adiknya.


Kartika pun memandangi kepergian ibunya, 'aneh, Ibu tampak sangat akrab dengan Karin, dan cara berbicara mereka berdua juga seperti dua orang yang seumuran dan sudah saling akrab,' ucap Kartika dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2