
Karin memarkirkan mobilnya di sebuah universitas terkenal di ibukota lalu perempuan itu pun mengambil barang-barangnya Sebelum turun dari mobil.
Setelahnya, Karin menatap universitas besar di depannya sambil berkata, "sekolahku bahkan lebih besar dari ini, tapi sayang sekali tidak akan ada yang mempercayainya jika aku menceritakannya. Meski begitu, aku tetap senang karena saat ini aku berada di masa di mana suamiku kembali ada bersama-sama denganku dan terus mencintaiku."
Setelah berbicara, Karin lalu berjalan memasuki universitas tersebut karena hari ini dia hendak bertemu dengan salah seorang profesor yang akan bekerjasama dengannya untuk sebuah proyek yang sedang dijalankan oleh perusahaan mereka.
Karin sudah mendapat informasi bahwa profesor itu berada di fakultas teknik sehingga Karin memutuskan untuk berkeliling-keliling kampus karena masih ada satu jam lagi sebelum jadwal pertemuannya dengan profesor tersebut.
Sembari berjalan-jalan, ada banyak orang yang memperhatikan Karin Karena saat itu Karin memang menggunakan sebuah setelan yang tampak seperti anak muda sehingga membuat mahasiswa-mahasiswa yang ia temui mengira dia sebagai salah satu mahasiswa di universitas tersebut.
"Hei,," tiba-tiba seorang pria menghampiri Karin sehingga Karin pun menghentikan langkahnya dan menatap pria tampan di depannya.
Meski tampan, tapi pria itu tak jauh lebih tampan dari suaminya, sehingga Karin pun tidak memiliki ketertarikan pada pria itu, tetapi dia tetap tersenyum sambil berkata, "ya? ada apa?"
"Ah,, kenalkan aku Erik dari jurusan teknik informatika, kau dari jurusan mana?" Tanya pria bernama Erik dengan sorot mata penuh kekaguman menatap Karin.
"Aku? Dari fakultas ekonomi," ucap Karin sambil melanjutkan langkahnya sehingga pria bernama Erik pun melangkah di samping Karin sambil memperhatikan Karin.
"Aku juga punya kenalan di fakultas ekonomi, apa kau mengenal Dian?" Tanya Erik memulai pembicaraan.
"Tidak," jawab Karin dengan singkat sembari tatapannya melihat-lihat kampus tempat ia berada.
"Ah, aku pikir kau mengenalnya, tapi ngomong-ngomong apa yang membuatmu datang ke fakultas teknik?" Tanya Erik.
"Mencari mantan kekasihku," jawab Karin yang merasa risih terus diikuti oleh pria itu, sebab awalnya dia hanya ingin berjalan-jalan sendirian saja.
"Ah, mengapa kau menemui mantan kekasihmu?" Tanya Erik semakin membuat Karin merasa kesal karena pria itu tampak tidak ingin meninggalkannya.
"Aku ingin balikan dengannya," ucap Karin sambil melemparkan senyum terpaksanya pada Erik.
"Apa?! Uh,, Padahal aku pikir kita berjodoh karena aku adalah pria pertama yang menyambutmu di sini. Bagaimana kalau kita bertukar nomor ponsel? Kalau kalau nanti kau membutuhkan bantuan, kau bisa menghubungiku kan? Lagi pula aku berpikir bahwa aku jauh lebih baik daripada mantan kekasihmu itu kau menjadi daripada mengulang kisah yang sama dan kembali terluka, lebih baik bersama-sama denganku saja bukan?" Ucap Erik langsung membuat Karin menghentikan langkahnya lalu dia berbalik menatap pria di sampingnya.
__ADS_1
"Aku memang membutuhkan sesuatu, maukah kau membantuku?" Tanya Karin Langsung membuat Erik menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Tentu saja!" Tegas Karin.
"Aku lupa membeli buku agenda, Bisakah kau mencarikannya untukku? Aku akan pergi bertemu dengan profesor Markus, Bisakah kita bertemu di ruangannya dalam satu jam lagi?" Tanya Karin langsung membuat Erik menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Kalau begitu sampai bertemu di ruangan profesor Markus," ucap Erik sebelum dia berbalik pergi meninggalkan Karin untuk mendapatkan buku agenda bagi perempuan itu.
Karin tersenyum kecut melihat kepergian Erik sebelum dia melanjutkan langkahnya untuk berjalan-jalan.
Tetapi ketika dia berbelok ke sebuah koridor yang agak sepi, Karin menghentikan langkahnya saat ia melihat ada seorang perempuan yang sedang dikeroyok oleh 3 orang perempuan lainnya.
Yang lebih membuat Karin terkejut bahwa perempuan yang dikeroyok itu adalah Diandra.
"Ya,, ini menjadi peringatan terakhir untukmu kalau kau masih berani mendekati Erik, maka aku akan membuat wajahmu yang cantik itu berubah menjadi wajah pengemis jalanan!!" Tegas Sang Perempuan.
"Sial!! Apa kalian tidak tahu aku berasal dari keluarga mana?! Aku berasal dari keluarga Grason!!" Bentak diandra dengan tatapan tajam diarahkan ke arah 3 perempuan di depannya.
"Entah Kau berasal dari keluarga mana, kami sama sekali tidak peduli, kalau kau mengganggu kami maka kami akan melakukan tindakan yang keras padamu! Kau tahu kan Kami bertiga ahli bela diri dengan sabuk hitam!!!" Ucap Sang Perempuan sambil menggertakkan giginya.
"Kalian!! Cepat lepaskan rambutku atau aku akan mengatakan semua ini pada kakakku dan membuat kalian semua dikeluarkan dari kampus ini!!" Teriak Diandra sambil berusaha melepaskan diri dari perempuan yang menarik rambutnya.
Namun perempuan itu tidak mengasihi Diandra dan dia malah mengulurkan tangannya menarik tubuh Diandra lalu melemparkan Diandra ke arah dinding sehingga tubuh Diandra membentur dinding tersebut.
"Akhh!!" Gerutu Diandra l yang merasa begitu sakit pada tubuhnya.
Sementara Karin yang kini melihat itu, dia akhirnya tidak tahan lagi lalu mendekati keempat perempuan itu dengan langkah yang mantab.
"Kalian hentikan!!" Bentak Karin pada semua perempuan yang ada di sana hingga membuat Diandra menoleh ke arah Karin dan terkejut mendapati kakak iparnya ada di kampusnya.
Meski begitu, Diandra tidak mengatakan apapun dan hanya melihat Karin yang berjalan cepat menghampiri perempuan yang tadi menarik rambutnya lalu dengan satu tarikan dia membanting perempuan itu ke lantai.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Diandra, tetapi Karin tidak memperdulikan keterkejutan semua orang dan hanya melototi dua perempuan yang masih berdiri di hadapannya.
"Pergi dari sini!" Ucap Karin dengan tatapan tajam diarahkan pada 2 perempuan itu.
"Kau,,, kau baru saja mengusir kami?! Dari fakultas mana kau sehingga begitu berani pada anak-anak dari fakultas teknik?!" Tanya salah seorang perempuan sambil membalas tatapan tajam Karin.
"Ah,, Jadi kalian berasal dari fakultas teknik, sepertinya aku harus membicarakan masalah ini dengan profesor Markus,. Bukan begitu Hana?!" Ucap Karin yang langsung bisa mengetahui nama perempuan yang ada di depannya karena dia melihat sebuah buku yang muncul dari kancing tas Hana yang tidak terkancing dengan sempurna.
"Sial!! Kau mencari gara-gara denganku yang ahli bela diri dan sudah mendapatkan sabuk hitam dalam--"
"Bullshit!!" Bentak Karin menyela ucapan Hana sebelum dia mengulurkan satu tangannya dan dengan cepat membanting perempuan itu ke lantai.
Buk!
"Kau!! Sialan kau memulai perkelahian tanpa aba-aba!! Cepat pegangin dia!!" Perintahannya pada kedua temannya sehingga kedua teman Hana pun mendekati Karin untuk memegangi Karin.
Tetapi dengan santai Karin melawan kedua perempuan itu sebelum membanting mereka berdua ke lantai lalu berbalik menatap Hana dengan senyuman provokasinya.
"Hanya segini kemampuan sabuk hitam dari fakultas teknik? Aku yang Bahkan tidak belajar bela diri pun masih jauh lebih baik dari kalian!!" Ucap Karin sambil berjalan mendekati Hana hingga Hana pun merasa takut dan berjalan mundur menjauhi Karin.
Bagaimanapun, dia hanya berbohong tentang sabuk yang ia miliki Sebab Dia baru 2 bulan berlatih bela diri.
"Kau,, Aku akan melakukan perhitungan denganmu lain kali!!" Ucap Hana sebelum dia berbalik pergi meninggalkan semua orang yang ada di sana hingga kedua teman Hana pun menjadi panik dan mereka cepat-cepat Mengambil buku mereka lalu pergi dari sana.
Setelah ketiga perempuan nakal itu pergi, maka Karin berbalik menatap adik iparnya, "kau baik-baik saja?" Tanya Karin langsung membuat Diandra terkesiap sebelum dia membereskan barang-barangnya yang berceceran di lantai.
"Jangan memperdulikanku dan cepat pergi dari sini, dasar pencari muka!!" Gerutu Diandra cepat-cepat memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas sebelum dia pergi dari sana tanpa berterima kasih pada Karin.
Karin berdiri dia memandangi kepergian Diandra sampai beberapa saat kemudian Karin mengangkat kedua bahunya dengan raut wajah acuh tak acuh lalu pergi juga dari sana.
Karin berkeliling selama 40 menit sampai akhirnya dia merasa lelah lalu memutuskan untuk segera pergi ke ruangan profesor Markus.
__ADS_1