Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina
32


__ADS_3

Rasyid masih sementara pusing dengan berkas yang ada di tangannya Ketika istrinya yang tidur di sofa kini terbangun, lalu perempuan itu meraba perutnya yang terasa lapar.


Karin kemudian berbalik menoleh ke arah suaminya dan melihat suaminya sangat pusing dengan pekerjaannya hingga Karin pun berdiri lalu berjalan menghampiri pria itu.


"Sayang," ucap Karin pada suaminya.


"Ah,," Rasyid langsung menatap ke arah istrinya lalu menarik perempuan itu kepelukannya dan memeluk Karin dengan erat, "tidurmu nyenyak?" Tanya Rasyid sambil mendaratkan sebuah ciuman di pipi Karin.


"Ya, tapi aku lihat kau sedang pusing, apakah ada masalah?" Tanya Karin yang merasa cemas dengan suaminya.


"Hanya sedikit masalah saja, tapi kau tidak perlu khawatir, aku pasti bisa menyelesaikannya. Ah,, Sekarang sudah jam makan siang, Ayo kita makan terlebih dahulu," kata Rasyid dijawab anggukan Karin hingga kedua orang itu pun segera pergi menuju ruangan di sebelah ruang kerja Rasyid.


Di sana ada sebuah meja yang diletakkan di sudut gedung dengan pemandangan yang luar biasa dari tempat itu karena dinding bangunan tersebut sepenuhnya terbuat dari kaca sehingga bisa melihat seluruh kota dari tempat itu.

__ADS_1


Di atas meja pun sudah tersedia makanan yang diletakkan oleh Dina sehingga mereka berdua langsung makan bersama-sama.


"Tadi Kakek datang kemari ketika kau tidur, dan Dia menyuruh kita untuk melakukan pemeriksaan kesehatan saat jam pulang kantor nanti," ucap Rasyid sambil menuangkan minuman ke gelas istrinya.


"Baik," jawab Karin sambil menganggukkan kepalanya.


"Kakek juga berkata kalau sebaiknya kita tinggal terpisah dari kediaman utama, jadi Bagaimana menurutmu kalau mulai sekarang kita tinggal di apartemenku? Atau kalau kau merasa apartemen itu terlalu kecil, aku bisa mencari apartemen yang lebih luas lagi atau Kalau kau mau sebuah rumah kita bisa mencarinya," ucap Rasyid langsung membuat Karin menatap ke arah suaminya dengan seksama.


"Tidak, aku suka apartemen tempat kita berada sekarang," jawab Karin yang saat ini berpikir bahwa dia tidak akan merubah desain apapun yang ada di apartemen mereka, sebab Dia merasa senang dengan desain itu yang mengingatkannya pada kehidupan lamanya.


Tetapi Karin menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil berkata, "tidak, aku juga suka desain interiornya sekarang, Bahkan aku berharap tidak ada satupun barang yang diganti di sana."


"Benarkah?" Tanya Rasyid yang tak menyangka bahwa ternyata istrinya akan menyukai tataan apartemen mereka yang saat ini.

__ADS_1


Karin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Tentu saja, aku sangat menyukainya," jawab Karin membuat Rasyid merasa semakin senang.


Maka mereka berdua makan sambil berbincang-bincang ringan sampai akhirnya mereka selesai makan siang lalu Rasyid kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya, sementara Karin masih berdiri memandangi pemandangan kota.


Perempuan itu menghabiskan waktu hampir 10 menit sebelum dia kembali memasuki ruang kerja suaminya dan melihat suaminya masih sementara memegang berkas yang diberikan oleh Dina.


Melihat suaminya yang sangat pusing, maka Karin pun segera menarik sebuah kursi dan mendekati suaminya lalu meletakkan kursinya di samping suaminya sebelum dia duduk di sana.


"Bolehkah aku meminjam ponselmu?" Tanya Karin yang mana sampai saat ini dia belum memiliki sebuah ponsel.


"Ah,, tentu," ucap Rasyid segera mengambil ponselnya lalu memberikannya pada istrinya, "nanti Saat pulang kerja kita lewat membeli ponsel untukmu."


"Terima kasih sayangku," ucap Karin sambil mendekatkan bibirnya ke pipi suaminya dan memberikan hadiah ciuman untuk pria itu.

__ADS_1


Rasyid tersenyum dengan ciuman yang ia terima lalu pria itu kembali fokus pada pekerjaannya, ia mencari berbagai informasi di komputernya kalau kalau dia bisa menemukan sesuatu yang membantu mereka menurunkan harga penyediaan bahan baku.


__ADS_2